Na primeira vez que a viu, ela lutava sozinha contra oito pessoas, prendendo alguém no chão e batendo sem piedade; cada soco era firme e sem hesitação. Ele se lembrou do gato de rua que encontrara alg
Halaman (1/3)
Akhir Desember di Kota Yan, salju baru saja turun seharian penuh. Yu Yan, yang sejak kecil tumbuh besar di Inggris, tiba-tiba bersin.
Iklim laut sedang di Inggris sangat berbeda dengan iklim monsun sedang di Yan.
Andai tubuhnya punya dinding sel, pasti sudah kering kerontang oleh udara dingin Kota Yan hingga pecah berkeping-keping.
Sepatu bot kulit hitamnya menginjak salju tebal, menimbulkan suara berderit pelan.
Malam bersalju itu sangat sunyi. Keriuhan dari kejauhan membuat telinganya bergerak-gerak.
Ia berdiri di mulut gang, mengintip ke dalam. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang, sekelompok siswi dengan seragam sekolah yang sama sedang berkelahi.
Ada delapan orang tergeletak di salju, bersama seorang lagi dengan rambut awut-awutan... eh, hantu perempuan?
"Hantu" itu dengan penuh semangat menghajar orang di bawahnya dengan kepalan tangan.
Wajahnya berlumuran darah, sorot matanya tajam bak setan, setiap pukulannya keras tanpa ampun.
"Tsk, kenapa nggak ganti alat, nggak sakit apa tangannya?"
Bisikan kecil Yu Yan itu entah bagaimana terdengar oleh si hantu perempuan, yang langsung menoleh menatapnya. Jarak mereka belasan meter, tapi aura membunuh di matanya sama sekali tidak berkurang.
Wajahnya pucat, bulu matanya meneteskan darah, ketika berkedip tampak seperti sayap kupu-kupu salju, begitu hidup.
Cantik sekali, pikir Yu Yan.
Ia tiba-tiba teringat seekor kucing liar yang ditemuinya beberapa hari lalu—galak dan cantik, bulunya dekil tapi mencolok.
Jangan-jang