Unduh aplikasi klien untuk melihat sinopsis lengkap karya ini.
“Minumlah, habiskan cawan ini, masih ada tiga cawan lagi.”
Chu Wushuang mengangkat cawan ke arah pelayan muda berbaju hijau yang duduk di seberangnya.
Sejak menyeberang ke zaman kuno, Chu Wushuang kerap menghabiskan waktu dengan minum arak. Teman minumnya tak lain adalah Guo Qingyi, pelayan pribadinya yang setia.
Bicara soal Guo Qingyi, nasibnya bahkan lebih malang daripada Chu Wushuang. Di usia delapan tahun, ia telah dijual ke Kediaman Keluarga Chu sebagai budak. Pada usia lima belas, karena urusan sepele ia pernah menentang Nyonya Kedua keluarga Chu, hampir saja nyawanya melayang di tangan nyonya itu.
Untunglah, ibu Chu Wushuang turun tangan memohon belas kasihan dan berhasil menarik Guo Qingyi dari gerbang kematian. Sejak saat itu, Guo Qingyi menjadi pelayan pribadi bagi ibu dan anak itu.
Ibu Chu Wushuang pun berasal dari kalangan pelayan. Di kediaman, kedudukan mereka sangat rendah, bahkan tak lebih baik dari selir-selir kecil. Chu Wushuang, sebagai anak dari selir, meski mewarisi darah keluarga Chu, namun kerap menjadi bulan-bulanan para pelayan.
Sudah jatuh tertimpa tangga: menyeberang ke masa lampau, malah menempati tubuh seorang anak selir yang lemah dan tak berdaya.
Semakin dipikirkan, hati Chu Wushuang kian gundah. Ia kembali mengangkat cawan araknya.
“Ayo, habiskan, minum lagi, mabuk sampai tak sadarkan diri, mati pun tak mengapa.”
Barangkali jika mati mabuk, ia dapat kembali ke dunia modern.
Dibanding hidup di zaman kuno, Chu Wushuang lebih merindukan kehidupan modern. Ayam goreng, hamburger, ponsel