Bab Pertama: Pinjamkan Sedikit Bahan Makanan, Kakak Akan Menyetujui Apa Pun yang Kau Minta
Berita terkini: hujan deras kali ini diperkirakan akan terus berlangsung untuk waktu yang lama. Warga diminta menyiapkan diri sebaik mungkin, menimbun bahan pangan, obat-obatan, dan persediaan hidup penting lainnya. Suara serak dari radio terputus-putus sebelum akhirnya mati.
Lu Cheng mematikan radio dan menggumamkan omong kosong itu pelan.
Ia berbalik masuk ke dapur, lalu menyeduh sebungkus mi instan.
Sambil menunggu mi matang, Lu Cheng melirik ke luar jendela. Seluruh kota telah terendam air hujan. Di permukaan air mengapung berbagai sampah, juga mayat-mayat yang tenggelam.
Mayat-mayat itu terapung di atas air, banyak yang sudah tak utuh, seolah-olah pernah dicabik dan dimakan monster.
Wajah Lu Cheng tenang. Semua ini sudah terlalu sering ia lihat hingga tak lagi mengejutkannya.
Hujan deras ini telah berlangsung selama setengah tahun.
Permukaan air yang semula hanya sedalam satu meter, kini telah naik sampai mampu menenggelamkan lantai sepuluh.
Sebelum bencana hujan ini datang, penyesalan terbesar Lu Cheng adalah membeli apartemen ini dengan kredit demi menikah, hanya untuk kemudian mendapat undian di lantai dua puluh tujuh. Biasa air mati pun sering, dan sekali lift rusak, ia nyaris langsung menjadi tunawisma.
Pacarnya juga memutuskan hubungan karena hal itu.
Siapa sangka, kini justru musibah itu membawa berkah.
Kalau bukan karena lantainya cukup tinggi, ia pasti sudah mati tenggelam sejak lama, mana mungkin masih bisa duduk santai menyantap mi instan.
Tak ada setetes pun kuah yang disisakannya; semuanya ia telan hingga ke perut. Tak seorang pun tahu sampai kapan hujan ini akan terus turun. Mungkin tak akan pernah berhenti. Setiap suapan makanan berarti harapan untuk tetap hidup.
Saat hujan lebat baru dimulai, belum banyak orang menyadari betapa mengerikannya bencana ini. Lu Cheng sudah lebih dulu bersiap. Mi instan, beras, tepung, minyak goreng, dan berbagai kebutuhan lain ia stok cukup banyak. Daging memenuhi lemari es. Setiap hari ia berhemat, dan dengan begitu berhasil bertahan melewati lebih dari setengah tahun ini.
Namun meski demikian, persediaan makanannya kini juga hampir habis.
Mi instan tersisa satu dus, beras dan tepung masing-masing dua karung, masing-masing dua puluh jin. Sayuran sudah lama habis dimakan, dan daging pun tinggal sedikit.
Yang lebih gawat lagi, air minumnya juga tak banyak tersisa.
Semua persediaan itu paling-paling hanya cukup untuk dua atau tiga bulan lagi.
Meski di luar terus diguyur hujan, Lu Cheng tak berani meminumnya. Siapa tahu ada masalah pada air itu.
Kalau dua atau tiga bulan lagi bencana ini belum juga berlalu, ia akan mati kelaparan seperti orang-orang lain di gedung ini, atau menjadi pemburu mayat orang lain.
Ketukan terdengar di pintu.
Begitu baru selesai makan, Lu Cheng langsung waspada.
Ia tak bersuara, hanya segera mengambil linggis dari bawah ranjang dan berjalan ke pintu utama.
Melalui lubang intip pintu antimaling, ia melihat seorang perempuan berdiri di luar mengenakan gaun merah. Bahunya yang putih sedikit terbuka, terlebih lagi sepasang payudara besarnya amat mencolok, seolah setiap saat bisa meloncat keluar. Karena kekurangan gizi, wajahnya tampak agak kekuningan, namun tetap tak mampu menutupi pesona matang yang memikat darinya.
Perempuan itu dikenalnya. Namanya Zhang Li, tetangga satu lantai, seorang istri muda yang baru menikah tiga bulan.
Saat baru pindah, mereka pernah saling menyapa.
Waktu itu wajah Zhang Li begitu segar hingga seolah bisa meneteskan air. Ia memiliki daya pikat seorang perempuan dewasa, namun juga kesegaran gadis belia; bagi lelaki mana pun, sangat sulit untuk tidak goyah. Dulu Lu Cheng pun dibuat jantungnya berdebar oleh pesonanya.
Tak lama kemudian, hujan deras itu pun dimulai.
Semua berubah total. Setelah tatanan runtuh, semua orang menjelma hantu yang mengenakan kulit manusia.
Demi bertahan hidup, mereka tak ragu melakukan apa pun.
Lewat lubang intip itu, Lu Cheng telah menyaksikan banyak tragedi. Karena itulah ia tak pernah keluar rumah, hanya bersembunyi di kamarnya sendiri. Sudah lebih dari setengah tahun ia tak bertemu Zhang Li.
Lalu, mengapa tiba-tiba ia datang mengetuk pintu?
“Saudari Li, ada perlu apa?” tanya Lu Cheng dari balik pintu, sambil terus mengawasi Zhang Li lewat lubang intip.
Begitu mendengar jawaban, Zhang Li tampak sangat gembira. Ia buru-buru bertanya, “Adik, di rumahmu ada makanan tidak? Kakak sudah tiga hari tak makan apa pun. Kumohon beri kakak sedikit makanan. Aku bisa menukarnya denganmu, apa pun yang kau mau…”
Setelah berkata begitu, seolah sadar Lu Cheng sedang mengawasinya lewat lubang intip, ia pun kembali menarik tali bajunya ke bawah sedikit.
Melihat itu, darah Lu Cheng serasa naik. Ia sampai lupa kapan terakhir kali menyentuh perempuan. Hampir setengah tahun menjadi seperti biksu, dan sekarang ada seorang janda muda nan menggoda berdiri di depan pintu. Sungguh sulit menahan diri.
Namun di hadapan hidup dan mati, Lu Cheng segera menenangkan diri.
Tetangga di sebelah kamarnya dulu mati mengenaskan hanya karena tak mampu menahan nafsu. Tergoda oleh seorang perempuan, ia membukakan pintu, lalu semua stok makanannya dirampas habis. Kakinya dipatahkan, dan ia mati kelaparan di lorong dengan sangat mengenaskan.
Lu Cheng tak ingin bernasib seperti itu.
“Saudari Li, hujan deras ini sudah turun setengah tahun. Bahan makanan sudah lama habis. Aku sendiri juga sudah banyak hari tak makan. Mana ada makanan untukmu,” jawab Lu Cheng menolak.
Zhang Li tampak tak rela dan terus berkata, “Adik, buka saja pintunya dulu. Kakak bisa memberikan apa saja padamu.”
Namun Lu Cheng sudah tak ingin menggubrisnya.
Sebanyak apa pun Zhang Li memanggil, ia tetap bergeming, pura-pura tak mendengar.
Zhang Li murka dan menendang pintu antimaling itu. “Barusan aku mencium bau sedap dari celah pintu rumahmu. Pasti kau menyembunyikan makanan. Kalau tidak, kau sudah mati kelaparan sejak lama. Tunggu saja, akan kupanggil orang-orang ke sini. Satu butir pun tak akan kuseisakan untukmu!”
“Sialan perempuan jalang!”
Lu Cheng takut sekaligus marah. Perempuan ini jelas ingin membunuhnya!
Sekarang semua orang ingin hidup dengan segala cara.
Jika penghuni lain di gedung ini tahu ia menyimpan bahan makanan, mereka pasti akan mendobrak pintu antimaling dan merampas semuanya!
Benar saja, tak lama kemudian pintu itu kembali dihantam orang.
Bedanya, tadi Zhang Li hanya mengetuk pelan, sedangkan kali ini dipukul dengan brutal.
Kalau bukan karena pintu antimaling itu kualitasnya kuat, ditambah Lu Cheng juga menahan dari dalam dengan lemari, mungkin pintu itu sudah lama didobrak orang dari luar.
“Hei bocah sialan, cepat keluar!”
“Kalau kami sudah masuk, akan langsung kami kuliti hidup-hidup!”
Orang-orang di luar terus memaki karena pintu tak juga roboh.
Lu Cheng menggenggam erat linggis itu. Itulah satu-satunya senjata yang ada di tangannya.
“Ingin menipuku supaya kubuka pintu? Mimpi! Ada kemampuan, silakan masuk sendiri!” balas Lu Cheng sambil memaki mereka, berusaha mengalihkan perhatian mereka. Di sisi lain, ia diam-diam membuka jendela kecil di bagian bawah pintu antimaling.
Jendela kecil itu sangat tersembunyi, hanya sebesar piring. Desain seperti ini awalnya memudahkan untuk menyerahkan paket dan semacamnya, tetapi sekarang justru menjadi jebakan yang sulit diantisipasi.
Lu Cheng memegang linggis itu, mengarahkan ujung runcingnya ke luar, lalu dengan cepat menusukkannya melalui jendela kecil itu.
Sejurus kemudian, terdengar jeritan melengking dari luar!
“Kakiku! Sakit sekali!”
“Lao Li!”
“Sial, buka pintunya sekarang! Akan kubunuh kau!”
Begitu berhasil, Lu Cheng segera menarik kembali linggisnya agar tidak direbut lawan.
“Sial, menakut-nakuti siapa? Linggis ini penuh karat. Lihat siapa yang mati duluan!” ejek Lu Cheng dingin.
Melihat teman mereka tertusuk, orang-orang di luar semakin murka, tetapi tak seorang pun berani mendekat lagi ke pintu antimaling itu karena takut ikut tertusuk.
Dalam keadaan seperti sekarang, meski tak sampai terkena tetanus, kehilangan kemampuan bergerak saja hampir sama dengan hukuman mati.
“Kita pergi dulu. Aku tak percaya dia akan terus bersembunyi seumur hidup!”
“Lalu bagaimana dengan Lao Li?”
“Pahanya tembus, darahnya sudah keluar begitu banyak. Belum tentu juga dia bisa hidup. Ngapain pedulikan dia.”
“Ayo, ayo pergi. Cari alat dulu, nanti kita kembali dan dobrak pintu antimaling ini. Pasti dia menyembunyikan banyak makanan!”
Lu Cheng melihat dari lubang intip bahwa semua orang pergi, hanya menyisakan orang yang tertusuk itu tergeletak di lantai.
Karena terlalu banyak kehilangan darah, wajah orang itu sangat pucat. Ia tampak hampir tak bernyawa.
Lu Cheng menggeleng. Tak ada sedikit pun belas kasihan di hatinya.
Jika pintu antimaling itu sampai didobrak, ia yakin nasibnya akan jauh lebih buruk daripada orang itu.
Ia menarik pandangan, lalu meletakkan linggis. Sekarang ia harus segera mencari senjata lain. Orang-orang yang baru pergi tadi pasti tak akan menyerah begitu saja.
Namun tepat saat itu, tiba-tiba sebuah suara terdengar di benaknya.
Tuan rumah berhasil membunuh satu individu mutasi tingkat awal. Koin kebangkitan bertambah lima. Sistem evolusi tak terbatas telah terbangun. Fungsi toko telah diaktifkan.
“Hah? Apa itu?”