Saat hujan malam membasahi jalanan, rahasia langit tersingkap; di antara senja dan fajar, tirai agung pun jatuh menutupi panggung. Chang’an, Ying Tian—dewa dan iblis muncul, mengacaukan dunia manusia. Ditinggalkan oleh para dewa, terasing dari tatanan; perseteruan Buddha dan Tao telah berlangsung ribuan tahun lamanya. Sebuah lagu sejarah magis yang penuh gairah dan keajaiban! Sepenggal jalan kebangkitan yang penuh darah dan perjuangan! Di Chang’an, ada seorang pemuda, berbalut jubah sederhana, lengan bajunya berayun anggun. Di jalan kelam penuh keluh kesah, ia bertekad menentang takdir.
Sejak awal kemunculan Taoisme dan masuknya ajaran Buddha ke Timur, pada masa-masa awal terdapat kecenderungan saling memanfaatkan antara keduanya, sebab tujuan yang diusung masing-masing agama itu memiliki sejumlah persamaan. Ketika Buddhisme pertama kali dibawa masuk, penerjemahan naskah berbahasa Sanskerta ke aksara Tionghoa kerap menggunakan istilah-istilah dari Taoisme, dan kemudian Taoisme pun mulai mengadopsi ajaran dari Buddhisme. Namun, seiring bertambahnya penganut Buddhisme di tanah Tiongkok, Taoisme mulai mengalami benturan dengan agama Buddha; persaingan ini berlangsung sejak zaman Han, Wei, Jin, hingga Dinasti Selatan dan Utara, dan berlanjut sampai era Sui dan Tang tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ketika Buddhisme tiba di Tiongkok, para pembela kebudayaan tradisional memandang agama Buddha sebagai ajaran yang berasal dari India, yakni dari bangsa barbar, sehingga dianggap sebagai kebudayaan yang rendah dan tidak sepatutnya diikuti, karena dinilai tidak sebanding dengan peradaban Tiongkok. Selain itu, perbedaan wilayah antara Tiongkok dan bangsa asing semakin memperkuat argumen yang terdapat dalam pengantar Laozi, yakni bahwa timur adalah kayu, bersifat Yang, tempat asal Tao; barat adalah logam, bersifat Yin, tempat lahir Buddha. Karena Yang lebih mulia dibanding Yin, maka Taoisme dianggap lebih luhur daripada Buddhisme. Mereka juga berpendapat bahwa perbedaan ras antara Tiongkok dan bangsa barbar membuat ajaran Buddha hanya pantas dianut oleh bangsa barbar, bukan oleh orang Tiongkok. Selain itu, masuknya Buddhisme ke Tiongkok kerap dianggap sebag