Bab Empat Puluh: Momen Romantis
Halaman 1 dari 3
Tiba-tiba ia merasa sedikit romantis, hatinya pun terasa geli, lalu mulai iri kepada Jian Xiaodan yang sedang menikmati kisah cinta manis.
Ia juga sangat ingin menjalani cinta yang menggebu-gebu. Sekalian saja ia menetapkan sasaran pada Fang Jianqian.
Namun, baru saja ia menggelengkan kepala kuat-kuat untuk memperingatkan diri agar tidak berpikir macam-macam, ponselnya tiba-tiba berdering. Ternyata Fang Jianqian yang menelepon.
Zhou Qingqing mendadak ingin menggodanya. Setelah mengangkat telepon, ia berkata sambil tertawa, “Halo, aku sedang merindukanmu.”
Fang Jianqian adalah orang yang sangat serius dan tidak menyukai candaan semacam itu. Ia segera berkata, “Aku tidak mau bercanda. Aku punya urusan penting denganmu. Besok makan bersama.”
Zhou Qingqing pura-pura terkejut. “Aku tidak salah dengar, kan? Kau mengajakku makan? Serius?”
Fang Jianqian benar-benar tidak punya waktu untuk meladeninya. Setelah menutup telepon, ia mengirimkan alamat sebuah restoran Jepang kepadanya, menandakan bahwa hal itu tidak bisa ditawar.
Zhou Qingqing diam-diam merasa senang. Bagaimanapun, baru saja memikirkan seseorang, orang itu langsung muncul sendiri. Sungguh kebetulan yang menarik.
Keesokan harinya, Zhou Qingqing tiba di restoran Jepang dan masuk ke sebuah ruang privat. Fang Jianqian sudah datang lebih dulu. Ia duduk bersila di depan meja rendah berbentuk persegi.
Zhou Qingqing merasa cara menjamu tamu ala Jepang itu agak dibuat-buat, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia juga melepas sepatunya lalu duduk.
Dengan wajah serius, Zhou Qingqing mengedipkan mata menggoda ke arah Fang Jianqian. Keduanya membentuk perbedaan yang mencolok: yang satu serius, yang lain ceria.
Melihat Fang Jianqian hanya diam sambil mengamatinya dengan serius, Zhou Qingqing mulai merasa tidak nyaman. Ia tersenyum, mengambil menu di atas meja, lalu membolak-baliknya. “Aku ingin makan salmon. Pesan salmon saja! Kau ingin makan apa?”
Fang Jianqian mengusap dagunya dengan jari, tetapi jawabannya sama sekali tidak berkaitan dengan pertanyaan itu. “Apakah Jian Xiaodan hamil?”
Hati Zhou Qingqing langsung mencelos. Ia buru-buru tersenyum dan menyangkal, “Tidak, kok. Kau dengar dari siapa?”
Fang Jianqian menjadi semakin serius. “Kau atasannya. Kau kira aku tidak bisa menyelidikinya? Kalau ada sesuatu yang ingin kuketahui, tidak ada yang tidak bisa kuselidiki.”
Zhou Qingqing merentangkan tangan. “Kalau begitu, selidiki saja. Kenapa malah bertanya kepadaku? Bukankah tidak ada yang tidak bisa kauselidiki?”
“Hah!” Fang Jianqian justru dibuat geli oleh kekesalannya. Ia mendengus, “Kalau begitu, kau boleh pergi.”
Pikiran Zhou Qingqing saat ini hanya dipenuhi salmon. Ia berkata sambil cengar-cengir, “Jangan buru-buru. Aku pergi setelah selesai makan!”
Fang Jianqian tak tahan untuk tidak membalas, “Atas dasar apa aku harus mentraktirmu? Kalau mau makan, beli sendiri.”
“Hah?” Zhou Qingqing mengerucutkan bibir. “Seolah-olah aku tidak mampu membelinya. Tenang saja! Kali ini aku yang membayar. Pesan saja apa pun yang ingin kau makan!”
Fang Jianqian mengernyit dan terus menyindirnya. “Aku tidak mau makan bersamamu. Bisa pergi sekarang?”
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Wajah Zhou Qingqing tampak canggung. Setelah berpikir sejenak, ia berkata, “Aku akan membocorkan sedikit rahasia kecil Jian Xiaodan kepadamu. Jadi, jangan usir aku, ya?”
Fang Jianqian merasa benar-benar tidak berdaya. Namun, ia juga tidak mungkin mengangkat tubuh Zhou Qingqing lalu melemparkannya keluar, bukan?
Lagipula, ia sangat tertarik pada apa yang disebut sebagai rahasia Jian Xiaodan. Karena itu, sikapnya melunak. “Rahasia apa? Katakan sekarang. Setelah itu baru pesan makanan.”
Zhou Qingqing sengaja berpikir sejenak, kemudian tersenyum nakal. “Aku lapar sekali. Kita makan dulu, baru kuberi tahu.”
Setelah berkata demikian, ia memanggil pelayan dan memesan lebih dari sepuluh hidangan sekaligus. Fang Jianqian sama sekali tidak berselera makan. Ia hanya minum sake.
Sambil makan, Zhou Qingqing bertanya dengan heran, “Kenapa kau tidak makan? Tidak lapar?”
Fang Jianqian melotot kepadanya. “Sudah berapa hari kau tidak makan? Kau seperti orang yang hampir mati kelaparan.”
Zhou Qingqing hanya tertawa lalu melanjutkan makannya. Setelah ia hampir selesai, Fang Jianqian mulai menagih, “Rahasia apa? Sekarang kau boleh mengatakannya!”
Zhou Qingqing berpikir sejenak, lalu mencondongkan tubuh dan melambaikan jarinya, memberi isyarat agar Fang Jianqian mendekat.
Kemudian, ia mengecup kelopak mata Fang Jianqian.
Karena Zhou Qingqing baru saja memakan wasabi, kelopak mata Fang Jianqian terasa sangat pedas. Ia seketika menutup mata sambil merintih kesakitan.
Di tengah suara rintihannya, Zhou Qingqing sudah mengenakan sepatu lalu kabur. Namun, ia melupakan satu hal: orangnya memang bisa melarikan diri, tetapi tempatnya tidak.
Fang Jianqian sejak dulu sangat tidak tahan terhadap wasabi. Kini bukan hanya kelopak matanya yang bengkak dan terasa terbakar, ia juga baru saja diserang ciuman Zhou Qingqing.
Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya dirugikan seperti itu? Sambil menahan bersin yang hebat, ia memanggil asistennya dan meminta diantar ke rumah sakit untuk mencuci matanya.
Setelah itu, ia mengertakkan gigi sepanjang malam. Keesokan harinya, ia langsung pergi mencari Zhou Qingqing. Karena tidak tahu tempat tinggal Zhou Qingqing saat ini, ia hanya bisa mendatangi rumah lama keluarga Zhou.
Ibu Zhou sedang hendak keluar untuk bertemu teman-teman lamanya dan bermain mahjong. Namun, ia melihat sebuah Bentley terparkir di depan vila keluarganya.
Orang yang duduk di dalam mobil mewah seperti itu tentu bukan orang biasa. Karena itu, ia berjalan mendekat lalu mengetuk kaca jendela.
Fang Jianqian menurunkan kaca mobil dan menatap Ibu Zhou. Ia sepertinya sudah bisa menebak identitas wanita itu, lalu langsung berkata, “Saya mencari Zhou Qingqing. Dia... berutang uang kepada saya.”
Ibu Zhou terkejut. “Berutang uang kepadamu? Mana mungkin? Qingqing anak baik!”
Kini ia bahkan lebih menyayangi putrinya daripada putranya. Dengan penuh perhatian, ia bertanya, “Katakan, sebenarnya Qingqing berutang apa kepadamu? Berapa jumlahnya?”
Fang Jianqian berkedip. “Ibu tidak tahu putri Ibu bermain sembarangan di luar? Dia memakai jasa pria di klub malam, tetapi tidak membayar. Jadi, saya terpaksa datang menagih kepadanya.”
Ibu Zhou bukanlah wanita tua yang tidak tahu apa-apa. Begitu mendengar kata-kata “klub malam” dan “memakai jasa pria”, ia langsung mengerti.
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Ya ampun, bagaimana mungkin putri kesayangannya memiliki kegemaran seperti itu? Sudah memakai jasa orang, tetapi tidak membayar pula?
Tentu saja, ia tidak akan hanya mendengarkan cerita sepihak dari pemuda ini. Maka, Ibu Zhou berkata kepada Fang Jianqian, “Tenang saja. Kalau Qingqing benar-benar berutang kepadamu, dia pasti akan membayarnya. Keluarga kami tidak kekurangan uang.”
Fang Jianqian tersenyum tenang. “Soal uang itu urusan lain. Yang penting, sekarang dia bersembunyi dan tidak mau menemuiku. Bibi, beri tahu aku di mana dia berada. Kalau sudah menemukannya, aku berjanji tidak akan menyulitkannya.”
Saat mereka sedang berbicara, mobil Zhou Qingqing berhenti di belakang mereka. Ia turun dan berjalan menghampiri ibunya.
Di dalam hati, ia merasa heran. Sebenarnya ibunya sedang berbicara dengan siapa? Mengapa orang itu belum juga turun dari mobil?
Baru saja ia memikirkan hal itu, pintu mobil terbuka. Fang Jianqian turun dari dalamnya.
Zhou Qingqing membelalakkan mata karena terkejut. Mulutnya menganga lebar. Ia segera berbalik dan berlari kembali ke mobil.
Setelah itu, ia menyalakan mobil dan langsung melarikan diri. Fang Jianqian sangat marah, lalu mengemudi mengejarnya.
Ibu Zhou panik. Ia berteriak dari belakang, “Apa yang kalian lakukan? Tidak bisakah kalian membicarakannya baik-baik?”
Tekanan darahnya memang agak tinggi. Begitu cemas, kepalanya langsung berkunang-kunang. Kalau seorang pelayan tidak melihatnya dan segera menopangnya dari belakang, ia pasti sudah jatuh ke lantai.
Ya ampun, ini masalah besar!
Ibu Zhou dibantu pelayan kembali ke ruang tamu. Tanpa memedulikan hal lain, ia segera menelepon Zhou Xiaoyue. “Nak, gawat! Adikmu mengalami masalah. Cepat pulang!”
Zhou Xiaoyue merasa heran. Masalah apa yang mungkin menimpa adiknya? Ia tahu ibunya memang selalu membesar-besarkan persoalan kecil.
Ia pun berkata kepada Ibu Zhou, “Bu, jangan panik dulu. Ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.”
Mendengar itu, Ibu Zhou langsung marah. “Kalau bisa dijelaskan lewat telepon, memangnya Ibu akan menyuruhmu pulang? Sudahlah. Di dalam hatimu, selain wanita itu, tidak ada orang lain.”
Setelah berkata demikian, ia menutup telepon dengan kesal.
Zhou Xiaoyue tidak berdaya. Ia hanya bisa menelepon Zhou Qingqing dan menanyakan apa yang terjadi.
Namun, Zhou Qingqing menjawab dengan tenang, “Aku baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa!”
Karena itu, Zhou Xiaoyue yakin ibunya hanya sedang membuat keributan. Ia menutup telepon dan tidak memedulikannya lagi.
Sebenarnya, Zhou Qingqing sedang bersembunyi di dalam ruang ganti sebuah pusat perbelanjaan. Karena ruang ganti itu khusus wanita, Fang Jianqian tidak bisa mendekat.
Ia juga merasa menyesal. Candaan yang dibuatnya sudah kelewat batas dan kini tidak bisa diselesaikan begitu saja. Fang Jianqian jelas bukan orang yang bisa disuap hanya dengan sebuah permintaan maaf.
Tepat pada saat itu, pengeras suara di pusat perbelanjaan berbunyi, “Perhatian kepada seluruh pelanggan. Saya Fang Jianqian. Saya sedang mencari seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna krem. Jika ada yang melihatnya, harap beri tahu saya. Akan ada hadiah bagi yang memberikan informasi.”
Halaman 3 dari 3