Bab 29: Wanita seperti ini, untuk apa dibujuk?
"Yingxue, kamu hanya sedang keras kepala, nanti kamu akan menyesalinya," ujar Gu Jincheng dengan kening berkerut.
"Aku sudah menyesal sekarang," balas Wen Yingxue tanpa ragu sedikit pun.
Di dalam kamar perawatan, Gu Mingxuan meringkuk di pelukan Wen Shirou dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Ia terus menunggu, namun tidak kunjung melihat kehadiran Wen Yingxue. Ia mengira jika Ayah dan Nenek bekerja sama, mereka pasti bisa memanggil Ibu kembali, karena dulu Ibu paling takut pada Ayah dan Nenek.
Namun, tak disangka setelah sekian lama, Ibu tetap tidak datang. Gu Mingxuan pun akhirnya marah. Sambil menangis karena menahan sakit, ia mengerucutkan bibirnya dan bersumpah dalam hati. Nenek benar, Wen Yingxue adalah ibu yang tidak bertanggung jawab! Ia tidak akan memedulikannya lagi! Bahkan jika nanti Ibu datang membujuknya, ia tidak akan memaafkannya! Ia benar-benar marah.
Tak ingin terus berlarut-larut, Wen Yingxue meminta Gan Tang mendorong kursinya meninggalkan kamar perawatan Gu Mingxuan.
Pei Xiulan merasa geram oleh sikap Wen Yingxue, namun di saat yang sama, ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Dulu, mana berani Wen Yingxue memikirkan soal perceraian? Dahulu, ketika ia pernah menyinggung soal perceraian Jincheng dan Yingxue di depan menantunya itu, Wen Yingxue sampai terpuruk selama sebulan penuh dan menangis setiap hari. Saat itu, Jincheng merasa kasihan dan melarangnya membicarakan hal serupa di depan Yingxue, sehingga kondisi mental menantunya itu baru bisa pulih kembali.
Namun kali ini, justru Wen Yingxue yang melontarkan kata cerai. Terlebih lagi, melihat sikap Jincheng, sepertinya putranya itu tidak terlalu ingin berpisah. Pei Xiulan menjadi cemas. "Putraku, jika Wen Yingxue ingin cerai, ceraikan saja dia. Dia tidak bisa apa-apa, hanya tinggal di rumah mengurus anak dan suami, tapi malah membuat suasana rumah kacau. Kamu jadi malas pulang, cucuku dirawat di rumah sakit, hubungan menantu dan mertua pun buruk. Sudah kubilang, wanita seperti itu tidak akan membawa ketenangan dalam rumah tangga. Wanita mana pun akan jauh lebih baik darinya."
Mendengar itu, kening Gu Jincheng semakin berkerut dalam.
"Jincheng, untuk apa membujuk wanita seperti itu? Langsung saja tanda tangani suratnya, suruh dia pergi tanpa membawa apa pun, dan jangan biarkan dia melihat putramu lagi," ucap Pei Xiulan terus-menerus.
"Bu," sahut Gu Jincheng dengan nada tidak sabar menanggapi omelan Pei Xiulan yang tiada henti. Ia menatap punggung Wen Yingxue yang kian menjauh dengan sorot mata yang dalam, suaranya terdengar serak, "Aku tidak pernah berpikir untuk menceraikannya."
"Apa?" Pei Xiulan tidak percaya. Bukankah orang yang dicintai Jincheng selama ini adalah Wen Shirou? Sekarang saat Wen Yingxue akhirnya memberi jalan, bukankah Jincheng bisa menikahi Shirou dan keluarga mereka akan damai? Semua orang akan senang, mengapa Jincheng tiba-tiba menolak?
Gu Jincheng tidak ingin menjelaskan lebih lanjut kepada Pei Xiulan. Ia berbalik masuk ke kamar perawatan, menghampiri putranya, lalu membungkuk dan menyentuh dahi anak itu. Wen Shirou juga duduk di tepi ranjang. Gu Jincheng berdiri sangat dekat dengannya, sehingga saat pria itu membungkuk, Wen Shirou mau tak mau menghirup aroma tubuhnya.
Aroma itu membuat wajah Wen Shirou merona, ia menatap pria itu dengan sepasang mata persik yang berair.
Gu Jincheng menunduk, namun sebelum ia sempat melihat Wen Shirou dengan saksama, ponselnya berdering. Ia melirik sekilas lalu mengangkat panggilan itu dengan santai.
"Kak Cheng, ayo main!" suara Zhou Yang terdengar di seberang telepon.
"Tidak ada waktu," jawab Gu Jincheng dengan nada muram.
"Kenapa begitu?" Zhou Yang merasakan ketidaksenangan dalam suara Gu Jincheng. Teringat bahwa dua hari ini suasana hati sahabatnya itu tidak menentu, Zhou Yang bertanya, "Apakah masih soal istrimu yang minta cerai?"
Gu Jincheng terdiam dengan wajah gelap.
"Kak Cheng, kenapa belum juga membujuknya? Aku tidak pernah melihatmu sekhawatir ini soal istrimu. Apa kali ini kamu benar-benar sudah menginjak batas kesabarannya?" tebak Zhou Yang.
Mendengar itu, Gu Jincheng merasa tidak nyaman. Bagaimana mungkin ia khawatir karena masalah Wen Yingxue? Siapa di lingkaran pergaulan mereka yang tidak tahu bahwa Wen Yingxue mencintainya setengah mati? Jika ia menunjukkan sedikit saja ketidaksukaan, wanita itu akan merasa dunianya runtuh. Kini, ia benar-benar ingin bercerai? Siapa yang akan percaya?
"Kamu terlalu banyak berpikir, ini bukan urusannya," jawab Gu Jincheng dingin, lalu menutup telepon.
"Apakah itu Zhou Yang?" Wen Shirou melihat ekspresi Gu Jincheng yang buruk, ia menduga Zhou Yang pasti mengajaknya bermain, tapi Jincheng sedang pusing memikirkan anak dan istrinya.
"Ya," jawab Gu Jincheng sambil mengangguk.
Tepat saat itu, Pei Xiulan masuk kembali. Ia sempat berpikir sejenak dan merasa tetap harus meyakinkan putranya untuk bercerai agar Shirou bisa masuk ke keluarga mereka. Shirou adalah wanita yang lemah lembut dan penuh perhatian, jauh lebih baik daripada Wen Yingxue.
"Jincheng, sebaiknya ceraikan saja dia," bujuk Pei Xiulan. "Tapi kalau mau bercerai, jangan sampai dia yang memintanya duluan."
Mendengar perkataan Pei Xiulan, Wen Shirou mulai memahami situasinya. Jika Pei Xiulan saja mendukung perceraian, maka perpisahan itu pasti terjadi. Tampaknya, impiannya untuk menjadi bagian dari keluarga Gu sudah di depan mata.
Namun, Wen Shirou cukup cerdik. Ia tahu bahwa karena Wen Yingxue yang mengajukan cerai lebih dulu dan orang-orang di lingkaran Jincheng sudah mengetahuinya, jika perceraian benar-benar terjadi, orang lain mungkin akan beranggapan bahwa Jincheng telah melakukan kesalahan hingga dicampakkan. Jika hal ini mencoreng harga diri Jincheng, pria itu tentu tidak akan mudah setuju untuk bercerai.
Maka, hal yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari alasan yang tepat agar Jincheng bersedia bercerai dengan sukarela, sekaligus memastikan orang-orang di lingkaran mereka tidak bisa bergosip miring tentang Jincheng. Dalam beberapa detik, sebuah ide muncul di benak Wen Shirou—jika Wen Yingxue terbukti melakukan kesalahan dalam pernikahan, maka Jincheng lah yang membuangnya, dengan begitu harga diri Jincheng tetap terjaga dan ia pun bisa menikah dengan keluarga Gu secara terhormat.
"Shirou, kamu pasti lelah, biar aku saja yang menggantikannya," ujar Gu Jincheng saat melihat Wen Shirou melamun dengan wajah kelelahan. Ia pun mengambil alih Gu Mingxuan.
Gu Mingxuan mungkin masih kecil, tapi tubuhnya cukup berat. Setelah memeluk anak itu cukup lama, perut dan pinggang Wen Shirou terasa sakit, dan hatinya pun merasa jijik. Gu Mingxuan adalah darah daging Wen Yingxue; memikirkan bahwa anak itu bersandar padanya membuat ia merasa mual. Terlebih lagi, Gu Mingxuan terus merengek dan bergerak-gerak seperti serangga kecil, membuatnya semakin muak.
Wen Shirou berandai-andai, alangkah baiknya jika itu adalah anaknya sendiri. Begitu ia melahirkan anak Gu Jincheng nanti, ia akan menyingkirkan benih Wen Yingxue sejauh mungkin, mengirimnya ke luar negeri agar tidak bisa kembali selamanya.
Melihat Gu Jincheng hendak mengambil alih, Wen Shirou berpura-pura berkata tidak apa-apa dan masih bisa merawatnya, padahal ia sangat ingin segera berdiri dan pergi. Setelah berpura-pura menolak sejenak, ia dengan penuh kasih sayang berkata pada Gu Mingxuan, "Mingxuan, istirahatlah yang cukup, ya. Semoga besok pagi Bibi sudah melihatmu kembali ceria."
Gu Mingxuan menahan rasa tidak nyamannya, mengangguk pada Wen Shirou, lalu menutup mulutnya dan bersandar di pelukan sang ayah tanpa berkata apa-apa lagi.
Malam harinya, Wen Shirou harus melakukan perawatan kulit selama beberapa jam, jadi ia meninggalkan kamar perawatan untuk kembali ke kamarnya. Baru beberapa langkah keluar, ia tidak sengaja melihat Wen Yingxue dan Gan Tang. Mereka tampak sedang mencari seseorang, dan Wen Shirou dengan rasa penasaran pun membuntuti mereka. Ia melihat mereka berhenti di depan sebuah ruang kantor.