Bab Sepuluh: Wanita Berpakaian Merah

Permainan Terlarang Huguette 2307kata 2026-02-09 00:54:22

Rombongan itu serentak menoleh, dan saat melihat wanita berbaju merah, ekspresi di wajah mereka jelas berubah tegang.

“Siapa kau?” tanya Feng Yusheng. Wanita ini tampak begitu familiar, seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat.

“Siapa aku? Aku juga ingin tahu siapa diriku, tapi aku lebih tidak ingin tahu siapa aku sebenarnya.”

Kata-kata yang saling bertentangan keluar dari mulut wanita itu, membuat semua orang memandangnya dengan raut bingung.

Wanita itu menatap mereka, wajahnya dipenuhi kesedihan. Namun ekspresi itu tak bertahan lama, seperti sebuah topeng rapuh yang segera berubah.

Ia menundukkan kepala, dan ketika kembali mendongak, seolah dirinya telah berubah menjadi orang lain. Kini wajahnya menampilkan kegilaan, sorot matanya pada mereka pun berubah, kesedihan menghilang digantikan oleh dendam yang membara.

Feng Yusheng bisa merasakan dengan jelas perubahan suasana di sekitarnya, perubahan yang sangat nyata dan jelas bersumber dari keberadaan wanita itu.

Ia menggenggam erat pecahan cermin di sakunya. Hanya benda kaca itu yang hingga kini fungsinya belum ia pahami. Jika situasi kian memburuk dan benar-benar tak ada jalan keluar, ia pasti akan mengeluarkan pecahan cermin itu.

Wanita itu menatap mereka, darah segar berwarna merah pekat menetes di sudut bibirnya. Ia kemudian berusaha berdiri, namun tubuhnya seperti tak bertulang, hingga ia terjatuh berat ke lantai. Meski begitu, ia tak memperdulikannya, tangan dan kakinya terus merangkak maju seperti seekor ular cantik yang meliuk, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya berdiri.

“Lari!” Bu Weiyuan yang menyadari ada keanehan segera memberikan aba-aba, dan semua orang langsung bergerak mundur. Feng Yusheng sempat menoleh ke arah wanita itu sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Begitu melangkah keluar dari pintu, suasana pun kembali normal. Setelah menutup pintu, semua orang menghela napas lega.

“Kenapa tadi kau mengetuk pintu?” Yao Yao menatap Feng Yusheng dengan penuh keluhan. Kalau bukan karena dia, mereka tak akan bertemu wanita gila itu. Tadi, ia benar-benar mengira akan mati di sana.

“Tak masuk sarang harimau, tak dapat anak harimau. Risiko dan peluang selalu berjalan beriringan. Mumpung permainan ini belum bertambah sulit, kita harus buru-buru mencari informasi. Kalau nanti tingkat kesulitannya meningkat, bahkan kalau mau masuk mencari petunjuk pun belum tentu bisa keluar dengan selamat.”

“Lalu, apa yang kau temukan di dalam tadi?” Suara Yao Yao masih terdengar kurang ramah. Ia tahu tak seharusnya marah, tapi di bawah tekanan ketakutan luar biasa, ia tak mampu mengendalikan emosinya.

“Aku rasa alasan wanita itu berubah menjadi hantu pendendam tidak sesederhana itu.”

Baru saja Feng Yusheng selesai bicara, Yao Yao langsung menimpali, “Kalau memang sesederhana itu, permainan ini tak akan dibuat serumit ini. Kalau tadi masuk dan hanya dapat info sedikit, kenapa harus mengajak banyak orang mempertaruhkan nyawa?”

Begitu Yao Yao selesai bicara, Zhong Ling’er segera menahan lengannya. Feng Yusheng melirik ke arah Zhong Ling’er. Meski tak berkata apa-apa, ia bisa merasakan bahwa Zhong Ling’er juga tidak setuju dengan tindakannya barusan.

Kemudian ia menatap orang-orang di sekitarnya. Chi Qiaoyin diam saja, Fang Jianxiong masih tampak pucat, jelas belum pulih dari keterkejutan. Ia ingin bicara, tapi karena Yao Yao sudah lebih dulu, ia pun hanya terdiam.

“Maaf, gara-gara aku, kalian semua tadi terjebak dalam bahaya.” Feng Yusheng menghela napas, lalu melanjutkan, “Tapi kalau diulang lagi, aku tetap akan melakukannya. Kalau kalian tidak setuju, kita bisa berpisah dan bergerak sendiri-sendiri.”

Begitu Feng Yusheng berkata demikian, semua orang secara refleks menoleh ke arah Bu Weiyuan.

Bu Weiyuan sejak tadi memang tak banyak bicara. Sebagian dari rombongan diam-diam berharap ia setuju untuk berpisah, karena jika kejadian barusan terulang beberapa kali lagi, mereka mungkin takkan sanggup bertahan.

“Aku terserah saja, yang penting bisa keluar dari sini, aku tak keberatan.” Bu Weiyuan mengangkat kedua tangan, seolah benar-benar setuju tanpa beban, bahkan tersenyum tipis, seakan benar-benar tulus.

Mendengar itu, mata Yao Yao pun tampak sedikit berbinar.

“Kalau begitu kita berpisah saja. Kalau sudah dapat petunjuk, kita bisa berkumpul lagi untuk berdiskusi.”

“Baik.” Feng Yusheng tidak terkejut dengan sikap Bu Weiyuan. Dalam permainan seperti ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup. Orang cerdas belum tentu selamat, tapi orang bodoh pasti takkan selamat.

Ia pun berbalik dan bersiap melangkah ke arah berlawanan. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

“Bu Weiyuan, kau...”

Feng Yusheng menoleh ketika mendengar suara Yao Yao. Bu Weiyuan pun berbalik dan mengangkat bahu, “Aku tadi setuju untuk berpisah, tapi tidak mengatakan harus sekelompok dengan kalian.”

Nada suara Bu Weiyuan mengandung tawa. Jika situasinya tidak menakutkan seperti sekarang, mungkin ia akan tampak seperti angin musim semi yang menyejukkan. Namun kini, keputusan Bu Weiyuan justru membuat wajah Yao Yao semakin pucat, seolah keputusan itu lebih mengerikan daripada hantu dendam yang baru saja mereka hadapi.

“Kalian yang tersisa, lakukan sesuka hati.” Setelah berkata demikian, Bu Weiyuan menatap Feng Yusheng yang masih tampak ragu, “Ayo cepat.”

Feng Yusheng mengangguk, lalu melangkah maju.

Di belakang, wajah Yao Yao semakin pucat. Ia ingin mengikuti, namun teringat ucapan yang baru saja dilontarkannya. Ia hanya bisa menggigit bibir dan akhirnya berbalik menuju arah lain.

“Sayang sekali, mungkin lain kali kita akan mendapat anggota baru lagi,” terdengar suara Bu Weiyuan di sampingnya. Feng Yusheng menoleh dengan bingung menatapnya.

“Guru, aku sungguh menaruh harapan padamu,” kata Bu Weiyuan dengan senyum cerah saat sadar sedang diperhatikan Feng Yusheng.

Setelah rombongan terbagi dua, Chi Qiaoyin dan Zhong Ling’er merasa serba salah. Jika mengikuti Feng Yusheng, firasat mereka berkata peluang hidup lebih besar, tapi itu berarti meninggalkan Fang Jianxiong dan yang lain.

Chi Qiaoyin menatap anggota kelompok yang menjauh, lalu menggertakkan gigi dan berkata pada Zhong Ling’er, “Kamu ikut guru, aku ikut si penari.”

Zhong Ling’er tampak ingin berkata sesuatu, namun akhirnya memilih diam.

Kedua kelompok itu pun bergerak ke arah berlawanan.

Di kelompok Feng Yusheng, mereka mulai menyadari keanehan gedung itu.

Entah sejak kapan, suara tangisan anak kecil samar-samar terdengar di telinga.

Feng Yusheng berhenti melangkah, dan yang lain pun menatapnya.

“Kalian dengar suara apa tadi?” tanyanya.

Dua orang lain menatapnya dengan bingung.

“Suara? Suara apa?”

“Suara anak kecil menangis,” jawab Feng Yusheng. Dan suara itu terdengar lagi, bahkan lebih jelas dari sebelumnya.

Seolah anak kecil itu semakin mendekat.

Bu Weiyuan memandang Feng Yusheng, lalu berhenti dan mencoba mendengarkan dengan saksama. Tak lama, suara tangisan lirih seperti nyamuk pun terdengar jelas.

“Aku juga mendengar suara tangisan itu,” kata Bu Weiyuan. Feng Yusheng menoleh menatapnya, dan wajah mereka berdua sama-sama berubah serius.