Bab 101: Menantu Keluarga Gu Kami yang Paling Bersinar
Bai Wei mengangguk, kemudian berbalik, menatap ekspresi bingung dan tegang Xia Liu, lalu tersenyum ringan. “Jangan tegang, aku berbicara sebagai seseorang yang sudah melewati semuanya dan sebagai ibu mertuamu. Posisi Nyonya Gu ini memang tidak mudah, tapi aku berharap anakku bisa menjalani sisa hidupnya dengan bahagia. Karena itu, aku memberimu peringatan lebih awal, agar nanti kau tidak merasa tak sanggup dan malah minta cerai.”
Xia Liu merasa ibu mertuanya ini banyak sekali makna tersembunyi dalam ucapannya. Ia menarik napas, lalu dengan mantap berkata, “Ibu, aku mengerti.”
Bai Wei mengangguk, lalu berjalan ke meja rias, membuka kotak perhiasan yang berisi beberapa perhiasan mewah. Ia mengambil sebuah kalung zamrud dengan kualitas luar biasa, lalu mencobakannya di leher Xia Liu yang ramping. “Bagus, cantik sekali, sangat cocok dengan aura dirimu. Kalung ini dulu diberikan ibu mertuaku padaku. Bahkan sebelum kau datang, aku sudah ingin memberikannya padamu.”
Xia Liu merasa sangat terkejut dan tersanjung, benda warisan dari nenek mertuanya, mana berani ia menerimanya.
Ia buru-buru menolak dengan isyarat tangan, tapi Bai Wei memaksanya duduk dan memakaikan kalung itu padanya.
Hari ini Xia Liu kebetulan mengenakan baju berkerah V, menonjolkan tulang selangkanya. Ketika kalung itu dikenakan, ia terlihat sangat anggun dan mempesona.
Bai Wei terkesima, jari-jarinya yang terawat baik terus membelai kalung di dada Xia Liu. “Cantik, sungguh cantik. Liu Liu, kau suka kalung ini?”
Xia Liu menatap dirinya di cermin, wajahnya merona, kulitnya seputih porselen. Memang benar-benar indah.
“Ibu, ini sangat cantik, tapi aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berharga.”
Bai Wei sedikit kesal, “Masih ingat aku ini ibumu, kan? Kalau begitu, dengarkan aku baik-baik. Pakai saja, menantu keluarga Gu memang pantas mendapatkan yang terbaik.”
Setelah itu, Bai Wei menatap beberapa kali ke perut Xia Liu yang masih rata, lalu tersenyum dan menambahkan, “Bahkan baju untuk cucuku saja sudah kusiapkan. Liu Liu, aku tahu di usiamu sekarang, terlebih di masa-masa seperti ini, mungkin punya anak akan mempengaruhi karirmu. Tapi kau harus ingat, usiaku sudah lebih dari lima puluh, orang lain malah sudah punya cucu yang besar-besar, sudah bisa disuruh belanja ke warung, sementara aku belum pernah menggendong cucu sendiri. Lagi pula, jika Yi Han baru punya anak setelah usia tiga puluh, nanti akan susah berkomunikasi dengan anaknya.” Di akhir kalimat, suara Bai Wei terdengar penuh harap dan sedikit memelas.
Xia Liu juga tidak tahu kenapa, ibu mertuanya sangat terobsesi dengan soal anak.
Namun, ia sendiri tidak menolak memiliki momongan.
Bagaimanapun, Gu Yi Han itu seorang tentara sekaligus direktur yang sangat tampan, dirinya pun tak kalah menarik. Kalau punya anak, pasti akan sangat menggemaskan.
Memikirkan itu, ia pun jadi sangat menantikan kehadiran buah hati.
“Ibu, soal itu memang harus berjalan alami, tidak bisa dipaksakan. Aku juga suka anak-anak, aku tidak pernah bilang tidak mau punya anak, juga tidak pernah mencegah kehamilan. Tapi, punya anak itu urusan besar, bukan berarti aku mau, lalu langsung bisa punya saat itu juga.”
Jari Bai Wei yang terawat sempurna menepuk lembut bahu Xia Liu. “Baguslah, selama kalian jalani secara alami, ibu juga senang. Entah kenapa, aku punya firasat sebentar lagi akan jadi nenek.”
Sebenarnya Bai Wei tidak ingin terlalu blak-blakan, tapi ia khawatir kedua anak muda itu hanya menuruti di depan saja, padahal belum benar-benar siap punya anak, bahkan nanti bisa berdampak buruk pada kesehatan mereka.
Xia Liu mengangguk. Bai Wei kemudian mengganti topik, “Kalung ini pakai saja, jangan sampai dilepas. Benar-benar cocok denganmu. Sebentar lagi, kakek kalian akan berulang tahun. Akan ada banyak tamu yang datang. Nanti kau pilih satu gaun pesta yang pas, aku ingin semua orang tahu, menantu keluarga Gu adalah yang paling bersinar.”