Bab 29: Apa Itu Kelas Atas dan Apa Itu Hidangan Ringan, Kau Tak Bisa Membedakannya?
Lin Zhixi melaju langsung ke pusat perbelanjaan. Meski ia sempat berkoar ingin menghabiskan limit kartu Gu Yuan, begitu masuk mal ia justru langsung menuju area anak-anak.
Ia belum pernah benar-benar menyiapkan apa pun untuk Gu Yuning, namun bocah itu tiap hari tetap berpakaian rapi. Gu Yuan, meski tampak dingin, sebenarnya sangat perhatian. Di tengah kesibukannya, ia tetap berusaha merawat Gu Yuning semampunya.
Lin Zhixi merasa, ia tidak boleh jadi beban. Membelikan baju dan mainan untuk Gu Yuning pun harus bisa ia lakukan dengan terampil.
Sebelumnya, Lin Zhixi tidak pernah mengunjungi area anak-anak. Begitu melangkah masuk, ia baru sadar betapa lucunya barang-barang anak kecil.
Apa pun yang ia lihat selalu mengingatkannya pada wajah Gu Yuning, membayangkan bagaimana rupanya bila mengenakan barang-barang itu. Tanpa sadar, ia membeli sangat banyak.
Langkahnya tak pernah berhenti. Sesekali, saat melihat gaun kecil untuk anak perempuan, ia pun terpaku menatapnya lama.
Meski Gu Yuning adalah anak laki-laki, gaun-gaun kecil itu sungguh menggoda hati Lin Zhixi. Dulu, waktu kecil, ia tak pernah punya kesempatan mengenakan gaun secantik itu.
Di panti asuhan, pakaian anak-anak hanya berasal dari sumbangan orang baik. Ia selalu mengenakan baju bekas anak yang lebih besar.
Dulu, saat melihat anak-anak di televisi mengenakan gaun putri, Lin Zhixi juga pernah bermimpi jadi putri. Ia lama berdiri di depan etalase sebelum akhirnya beranjak dengan berat hati.
Gu Yuning sudah berusia empat tahun, ia tak mungkin memaksa bocah itu mengenakan rok. Anak itu sangat menjaga penampilan, tak pantas dipaksakan.
Tak disangka, baru beberapa langkah berjalan, matanya membelalak. Dari kejauhan, ia melihat Song Mengci melangkah penuh percaya diri dengan sepatu hak tinggi, diikuti sopir yang menenteng banyak belanjaan.
Lin Zhixi melirik sekilas ke arah kamera, nalurinya ingin menghindar. Namun baru ingin berbalik, suara tajam Song Mengci sudah menggema:
“Lin Zhixi?”
Lin Zhixi sadar tak bisa menghindar. Kamera masih merekam. Jika ia nekat pergi, akan tampak seperti melarikan diri karena bersalah.
Ia menarik napas, menegakkan punggung, menatap wajah Song Mengci dengan tenang.
“Tak disangka, belanja di area anak-anak pun bisa bertemu Nona Besar yang terhormat?”
Song Mengci menatap kamera di belakang Lin Zhixi dengan angkuh.
“Bagus, rupanya kau sudah lama mengenalku?”
Lin Zhixi tertawa dingin.
“Berkatmu aku jadi sasaran hujatan seluruh internet, mana mungkin aku tak kenal?”
Para warganet menahan napas di depan layar, kolom komentar pun membanjir:
“Sedikit info, wanita ini yang dulu menuding Lin Zhixi sebagai perebut suami orang, ingin merusak rumah tangga Lin Zhixi. Dia putri keluarga Song, istri muda Sima Chengze dari keluarga kaya.”
“Wah, musuh bertemu di jalan sempit! Bagaimana dua orang ini bisa bertemu? Tim produksi benar-benar beruntung, pertarungan seperti ini, aku suka!”
“Ya ampun, baru bertemu saja sudah saling melotot. Takutnya bentar lagi mereka tarik-tarikan rambut di depan kamera.”
“Pertarungan dimulai! Gu Yuan, kau melihat? Istrimu sedang diancam, ayo cepat!”
Song Mengci memandang Lin Zhixi yang tetap tenang dengan cemooh.
“Hari ini niatnya belanja dengan hati senang, tapi semua rusak. Chengze bilang ingin punya anak yang lucu, makanya aku iseng ke area anak-anak. Tak disangka bertemu kau.”
Tatapan meremehkan Song Mengci menusuk hati Lin Zhixi. Karena sadar ada kamera, Lin Zhixi enggan berdebat. Ia pun bersiap melangkah pergi, ucapannya pun tegas.
“Kalau sama-sama tak suka, lebih baik segera lenyap dari pandangan satu sama lain.”
Lin Zhixi berbalik dan melangkah cepat, tapi Song Mengci tak membiarkan, melontarkan sindiran dingin:
“Chengze memang benar, kau memang anak yang sejak lahir dibuang, tak ada yang mau, tak punya sopan santun.”
Lin Zhixi menarik napas panjang, tubuhnya seketika membeku. Ia tak bisa lagi menahan diri menghadapi Song Mengci, si putri manja itu.
Sejak kecil hidupnya serba mewah, apa pun yang diinginkan selalu didapat. Ia menganggap Lin Zhixi sebagai musuh. Meskipun Sima Chengze selalu bilang ia hanya sedikit temperamental, aslinya polos dan mudah dibujuk.
Tapi semua itu hanya topeng di depan Sima Chengze. Dulu, diam-diam ia selalu menekan Lin Zhixi hingga ke ujung jalan. Song Mengci punya andil besar dalam kehancurannya.
Lin Zhixi berbalik, menatap tajam ke mata Song Mengci, ucapannya pun penuh kemarahan.
“Kau lahir dengan segalanya, tapi sopan santunmu juga tak jauh lebih baik, kan?”
Wajah Song Mengci memerah, amarahnya nyaris meluap. Ia pun membalas dengan suara tinggi:
“Hah? Kau yang menggoda suami orang, berani bicara soal sopan santun denganku?”
Song Mengci sengaja mengucapkan itu karena sadar ada kamera. Belakangan ia kesal melihat Lin Zhixi mulai mendapat simpati publik lewat acara itu. Rasanya seperti ada duri dalam hatinya.
Lin Zhixi menatap Song Mengci dengan putus asa. Ia mengambil ponselnya, membuka foto Gu Yuan, lalu menunjukkannya ke depan mata Song Mengci. Kata-katanya lambat namun penuh sindiran.
“Aduh, Nona Besar yang cantik, kaya raya, tapi matamu tampaknya bermasalah. Sadar dong, buka mata baik-baik. Aku sudah punya suami sehebat Gu Yuan, masa aku mau goda Sima Chengze?
Aku buta atau kau yang bodoh? Mana yang istimewa, mana yang biasa-biasa saja, kau tak bisa bedakan?”
Song Mengci mendadak bingung. Dulu ia sering memaki Lin Zhixi lewat pesan pribadi, tapi Lin Zhixi selalu diam, tak pernah berani melawan. Siapa sangka, di dunia nyata ia ternyata begitu tajam lidahnya?
Song Mengci tak mau kalah, balik membalas:
“Biasa-biasa saja? Hah, Chengze benar, kau ikut acara ini cuma demi cuci nama, segala macam omong bisa kau lontarkan.
Berani-beraninya kau berlindung di balik nama Gu Yuan? Apa hubunganmu dengan Gu Yuan? Semua orang tahu, siapa tahu kau pakai cara apa agar Gu Yuan mau pura-pura jadi suami penuh kasih di acara itu.
Ngaku-ngaku punya suami seperti Gu Yuan, lucu sekali. Benarkah Gu Yuan mengaku kau istrinya?”
Lin Zhixi mulai emosi, ia hendak menelpon Gu Yuan agar Song Mengci sendiri mendengar pengakuannya.
Tapi ketika ia membuka foto Gu Yuan, ia malah masuk ke Weibo. Tadi belum sempat melihat, sekarang ia terkejut mendapati Gu Yuan menandainya.
Dengan cepat ia membuka pesan itu, membaca isi unggahan Gu Yuan dengan takjub, memastikan itu bukan akun palsu. Ia pun menunjukkan layar itu pada Song Mengci.
“Lihat baik-baik, Gu Yuan sudah bilang, kami pasangan sah, tak terima fitnah. Kalau ada masalah, silakan kau temui Gu Yuan langsung!”
Usai berkata demikian, Lin Zhixi berbalik dengan anggun, tak memberi Song Mengci ruang untuk membalas. Song Mengci sampai menggertakkan gigi menahan marah.
Baru beberapa langkah berjalan, Lin Zhixi masih merasa belum puas. Ia pun menoleh dan tersenyum pada Song Mengci.
“Jaga baik-baik sayuran kecilmu itu, semoga kalian langgeng dan cepat dapat momongan.”
Selesai berkata, Lin Zhixi menghela napas lega. Suasana hatinya kian membaik.
Gu Yuan yang baru selesai syuting membuka ponsel, melihat Lin Zhixi sedang menyetir, dalam perjalanan menjemput Gu Yuning. Namun ia tak mengerti komentar yang ramai di layar:
“Gu Yuan, kau lihat? Istrimu bilang kau luar biasa, Sima Chengze cuma sayuran kecil. Apa itu sayuran kecil? Jangan-jangan ayam sayur?”