Bab 59: Menangis Hanya Merupakan Cara Melarikan Diri dari Masalah
Qi Mingxuan mengikuti Song Mengying kembali ke kamar nomor 4. Sepanjang jalan, hati Song Mengying terasa tidak tenang. Ia melihat dengan mata kepala sendiri Gu Yuning dan Lin Zhixi masuk ke kamar nomor 2 yang kumuh, sehingga merasa bersalah kepada mereka.
Begitu masuk ke dalam, Song Mengying menata koper lalu memanggil Qi Mingxuan mendekat, wajahnya tampak tegas saat mulai bicara,
“Mingxuan, dengan hasil seperti ini, kamu puas, kan? Apa Mama pernah mengajarkan padamu bahwa manusia tidak boleh egois? Memang sekarang kamu tinggal di kamar yang bagus.
Tapi Gu Yuning itu adikmu, adik kecil yang harus menanggung beban untukmu. Kalau kamu merasa kamar nomor 2 itu buruk, apa adikmu tidak bisa merasakan hal yang sama?
Adikmu itu sayang padamu, tidak mau membuatmu sedih, makanya dia diam saja. Tapi sepanjang perjalanan, Mama lihat kamu justru tampak bahagia, sama sekali tidak terpikir olehmu bagaimana perasaan adikmu tinggal di kamar seperti itu.
Orang lain sudah berbuat baik pada kita, setidaknya kita harus tahu berterima kasih, mengerti?”
Qi Mingxuan yang tadi terbawa euforia langsung terdiam. Kalau Mama tidak menyinggung, ia sama sekali tidak terpikirkan bagaimana perasaan Gu Yuning tinggal di kamar itu.
Hatinya mendadak terasa sesak, raut wajahnya pun berubah. Ia menundukkan kepala, suaranya nyaris tak terdengar,
“Aku hanya memikirkan diriku sendiri, tidak memikirkan adikku. Kalau begitu, bagaimana dengan adik? Bisakah kita ajak adik tinggal bersama kita?”
Song Mengying melirik ke arah ranjang besar di kamar. Kedua anak masih kecil, ia dan Lin Zhixi pun masih bisa berbagi tempat tidur. Ia pun mulai berpikir, bagaimana kalau malam nanti mengajak Lin Zhixi dan Gu Yuning pindah ke sini.
Namun, sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu. Selama ini ia sibuk bekerja, anak-anak lebih banyak diasuh neneknya. Baru setelah keluar rumah seperti ini, ia menyadari ada berbagai masalah pada anaknya. Jika bukan sekarang mendidik, mau sampai kapan lagi?
Ekspresi Song Mengying tetap tak berubah. Ia meminta Qi Mingxuan mendongak dan berkata,
“Mingxuan, pernahkah kamu berpikir, di rumah adikmu juga diperlakukan sama sepertimu, dimanjakan dan disayangi, tapi bukankah dia lebih bertanggung jawab dari kamu? Kali ini adikmu yang maju membantumu, tapi kalau tidak ada yang membantumu, apa yang akan kamu lakukan?
Saat menghadapi masalah, selain merengek dan menangis, apa lagi yang kamu bisa? Menangis hanya cara kamu melarikan diri dari masalah, bukan solusi.
Mama hanya akan memanjakanmu kali ini saja. Lain kali, meskipun kamu menangis dan mengamuk, Mama tidak akan kompromi.”
Qi Mingxuan mengangguk sungguh-sungguh. Sebelum mendengar perkataan Mama, ia merasa semuanya baik-baik saja, tak merasa ada yang salah.
Setelah mendengar, mendadak tumbuh rasa bersalah kepada Ningning dalam hatinya.
Untuk bisa berkata ingin bertukar kamar dengan dirinya, Ningning pasti mengumpulkan keberanian yang besar.
Di rumah, nenek sering memuji Qi Mingxuan sebagai anak paling hebat di dunia.
Di taman kanak-kanak, ia juga sering mendapat pujian dari guru-guru.
Ini adalah kali pertama, di usianya yang masih kecil, ia merasa dirinya tidak sebaik orang lain, merasa dirinya dikalahkan.
Song Mengying melihat anaknya sudah mengerti, ia pun berdiri hendak mengambil makan siang, namun Qi Mingxuan langsung menarik ujung bajunya dan berkata dengan suara tegas,
“Mama, lain kali aku akan lebih kuat, aku akan belajar dari adik, apa yang bisa dilakukan adik, aku juga akan berusaha melakukannya.”
Song Mengying tidak menyangka anaknya akan berkata seperti itu. Selama ini ia merasa anaknya nakal, sementara yang ia lihat dari anak orang lain hanyalah kelebihan-kelebihan mereka.
Ia sadar selama ini terlalu kurang memperhatikan anaknya, sehingga hubungan mereka juga menjadi renggang. Ia bahkan tidak menyadari kalau anaknya pun sebenarnya punya kelebihan yang bersinar.
Saat tenang, Qi Mingxuan juga bisa menerima nasihat, bahkan mampu introspeksi.
Ini pertama kalinya Song Mengying merasa bersyukur mengikuti acara ini.
Para penonton di ruang siaran langsung pun mulai ramai berkomentar:
“Tadi waktu lihat Qi Mingxuan menangis, aku pikir dia anak manja banget.”
“Tapi waktu lihat dia menarik ujung baju mamanya dan bicara itu, tiba-tiba sadar sebenarnya dia juga cukup pengertian, hanya saja selama ini tidak diarahkan dengan benar.”
“Jujur saja, anak sekecil itu menangis saat melihat kamar seperti itu adalah hal yang wajar. Gu Yuning yang terlalu penurut, makanya semua jadi membandingkan. Sebenarnya Qi Mingxuan juga anak baik.”
“Sepanjang perjalanan tadi, Qi Mingxuan juga cukup perhatian sama adik-adiknya, baik di mobil maupun di kapal, dia selalu berperan sebagai kakak. Memang ada kekurangannya, tapi mana ada anak yang sempurna di dunia ini?”
“Sepertinya dia benar-benar merenungkan kekurangannya sendiri. Aku yakin dia pasti akan berkembang.”
Tayangan langsung Song Mengying dipenuhi diskusi hangat, sementara di ruang siaran Qin Ran, suasananya berbeda.
Qin Ran asyik makan jagung dengan lahap, sementara Mu Xinci berdiri agak jauh hanya menonton tanpa berani bicara.
Qin Ran meliriknya sekilas lalu berkata datar,
“Kenapa menatapku? Bukankah tadi kamu bilang ini bukan makan siang, rasanya juga tidak enak?”
Ekspresi Mu Xinci terlihat memelas. Saat tadi ibunya menyuruh makan, ia memang tidak mau, karena roti tawar dan kentang itu benar-benar hambar, sulit ditelan.
Ia mengira ibunya akan membujuknya.
Tak disangka, ibunya justru makan dengan lahap tanpa peduli padanya. Sekarang, ia memang mulai merasa lapar.
Qin Ran melihat wajah Mu Xinci, lalu tersenyum tipis dan berkata,
“Tadi sudah dibilang ini makan siang, kamu tidak mau makan, ya sudah. Kalau tidak makan, ya lapar saja. Anak kecil, sekali-sekali lapar tidak masalah. Kalau sudah sangat lapar, apa pun pasti mau dimakan.”
Wajah Mu Xinci semakin cemberut, tampak sangat kasihan. Para penonton pun tak tahan untuk menulis di kolom komentar:
“Sang ratu tetaplah sang ratu, dia tidak pernah membujuk anak, bahkan pada anaknya sendiri!”
“Dia bilang anak kecil lapar sekali-sekali tidak apa-apa, lihat tuh wajah Mu Xinci yang tak percaya mendengar ucapan ibunya. Sampai tidak yakin itu benar-benar kata-kata ibunya sendiri.”
“Pasti anaknya berpikir, ‘Aku ini anak kandung bukan sih? Jangan-jangan anak pungut di pinggir jalan?’”
Setelah bicara, Qin Ran tidak lagi melirik Mu Xinci, melanjutkan makan jagung dengan khusyuk.
Mu Xinci perlahan melangkah mendekati ibunya, lalu tangan kecilnya mengambil roti putih itu.
Seperti sedang mencari pembenaran bagi diri sendiri, ia memiringkan kepala pelan dan berkata pelan,
“Seorang putri harus melalui berbagai cobaan untuk menjadi putri sejati. Sekarang aku sedang melalui cobaan!”
Qin Ran yang sedang makan jagung tak kuasa menahan tawa.
Tanpa banyak bicara, Mu Xinci pun segera memakan roti itu. Melihat ibunya tertawa, ia berkedip-kedip, lalu bertanya hati-hati,
“Mama, kalau aku makan siang dengan baik, boleh tidak aku keluar bermain?”
Qin Ran memandang Mu Xinci dengan heran. Biasanya anaknya bukan tipe yang supel. Apalagi di lingkungan asing seperti ini, seharusnya ia merasa tidak aman, tapi kini ia justru minta keluar bermain?
Qin Ran mengerutkan kening, penuh tanda tanya,
“Kita sudah berjalan sejauh itu, apa kamu tidak lelah? Mau main ke mana?”
Mu Xinci menelan roti di mulutnya, lalu menjawab serius,
“Aku mau ke kamar nomor 2 mencari Kakak Ningning. Kalau Mama lelah, Mama bisa istirahat.
Tadi waktu datang, aku sudah menghafal jalan ke kamar nomor 2. Aku bisa pergi sendiri.”