Bab 58: Kenapa kau tidak langsung saja membunuhku?!
Li Shi'an berusaha keras untuk bangkit, namun tubuhnya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bisa bergerak. Kalau di awal ia masih mengira itu kebetulan, namun setelah mencoba berkali-kali, akhirnya ia harus menerima kenyataan: ia benar-benar tak bisa bergerak.
Ia hanya bisa tergeletak di ranjang seperti boneka, bahkan untuk makan dan minum saja memerlukan bantuan orang lain. Di dalam vila ini, suasananya sepi, selain Ji Qiubai dan dirinya, tak ada orang ketiga.
Hari pertama, ia masih mencoba berkomunikasi dengan Ji Qiubai, berharap lelaki itu mau membebaskannya. “...Kalau pun kita tak bisa menjadi suami istri, apa harus sampai jadi musuh? Qiubai, jangan terus melakukan kesalahan. Biarkan aku pergi, aku akan anggap hari ini tak pernah terjadi, bolehkah?”
Namun Ji Qiubai hanya membelai pipinya dengan lembut. “Shi'an, kita tak akan terpisah lagi. Aku tak akan biarkan kau kembali pada pria itu. Aku akan kehilangan akal kalau kau pergi dariku, aku sendiri tak yakin apa yang akan kulakukan.”
Sejak kecil, Ji Qiubai selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tak pernah merasakan pahitnya keinginan yang tak tercapai, hingga ia bertemu Li Shi'an. Tak pernah ia begitu mencintai seseorang, pikirannya selalu dipenuhi oleh bayang-bayang gadis itu.
Namun Li Shi'an hanya memposisikannya sebagai teman, tak pernah memberinya kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
“...Kita adalah suami istri, Shi'an, kita adalah suami istri.” Ia berbaring di sampingnya, terus mengulang kalimat itu.
Di malam hari, mereka berbaring bersama. Atau lebih tepatnya, Ji Qiubai yang tidur di sampingnya, sebab Li Shi'an tak punya pilihan.
Keesokan paginya, Li Shi'an mencium bau yang sangat tak sedap. Saat pikirannya masih belum sepenuhnya sadar, sebuah firasat buruk tiba-tiba menelusup masuk, membuat seluruh syarafnya seolah meledak. Ia menggigit bibirnya sampai nyaris berdarah, wajahnya menjadi pucat pasi.
Ketika Ji Qiubai terbangun, ia juga mencium bau itu. Lehernya menegang, lalu tangannya bergerak hendak membuka selimut.
“Jangan sentuh!!” Li Shi'an memejamkan mata rapat-rapat, suaranya pecah karena terlalu panik dan putus asa, “Jangan sentuh...”
Karena malu dan terhina, Li Shi'an benar-benar menggigit bibirnya hingga berdarah.
Sementara itu, di kediaman Nanshan Nomor Satu.
“Masih belum ada kabar?” tanya Chen Xiaoli kepada lelaki bermuka dingin di hadapannya.
Lin Yushen memijat pelipisnya, menggeleng pelan.
Chen Xiaoli bertanya lagi, “Dari kepolisian lalu lintas juga tak ada informasi?”
Lin Yushen berkata, “Ji Qiubai bukan orang bodoh. Kalau memang ingin membawa pergi seseorang, dia tak akan pakai mobil atas namanya sendiri, semua kamera pengawas pun pasti sudah dihindari...”
Ini memang masalah yang rumit.
Chen Xiaoli berkata, “Tapi menurutku, kau tak perlu terlalu khawatir. Dengan perasaan Ji Qiubai pada Li Shi'an, seharusnya dia tidak akan...”
Tatapan dingin Lin Yushen langsung menyapu ke arahnya, membuat Chen Xiaoli terdiam sejenak, “...Sebaiknya memang orangnya cepat ditemukan. Siapa tahu kalau dia sudah gila, akan melakukan hal yang di luar akal. Toh, demi Li Shi'an saja, dia sudah berani membuang keluarganya...”
Lin Yushen memutar cincin di jarinya, lalu meminta pelayan membawakan laptopnya.
Chen Xiaoli melihat jari-jarinya terus menari di atas keyboard, “Kau... sedang apa?” Begitu ia sadar apa yang dilakukan Lin Yushen, ia menelan ludah, “Kau menyelidiki seluruh aset atas nama Ji Qiubai?”
Lin Yushen mengangguk pelan.
Chen Xiaoli kembali ke tempat duduknya. Bagaimana ia bisa lupa, Lin Yushen memang ahli komputer kelas satu.
“Tuan, ponsel anda yang di ruang kerja terus berdering,” kata pelayan dari atas, membawa ponsel yang masih bergetar.
Lin Yushen sekilas menatap layar, lalu menghentikan aktivitasnya dan mengangkat telepon.
Dari seberang, suara wanita terdengar cemas, “Yushen... penyakit Xiaolang kambuh lagi... aku sangat takut... aku takut dia akan meninggalkanku begitu saja...”
Tatapan Lin Yushen berubah gelap, “Apa kata dokter?”
“Dokter bilang... katanya, kondisi Xiaolang semakin memburuk, waktunya sudah tak banyak lagi...” Suara wanita di telepon berubah menjadi isak tangis, memohon padanya.
Lin Yushen menekan pelipisnya lebih keras, menenangkan beberapa patah kata, lalu menutup telepon.
Chen Xiaoli melihat alis Lin Yushen yang semakin berkerut, namun tak berkata apa-apa lagi.
Sementara itu, di vila pinggiran kota.
Li Shi'an memejamkan mata rapat-rapat di ranjang rumah sakit. Meski kasur dan pakaiannya sudah diganti, seolah ia masih mencium bau yang membuatnya terhina dan malu.
“Shi'an, kita suami istri, tak apa. Ini salahku, aku akan lebih baik lagi menjagamu, tak akan membiarkanmu... mengalami hal memalukan seperti tadi,” Ji Qiubai menggenggam tangannya, menempelkannya ke pipinya sendiri.
Setetes air mata mengalir di sudut mata Li Shi'an. “...Ji Qiubai, lepaskan aku, kumohon padamu.”
Padahal ini baru hari kedua, namun ia sudah tak tahan lagi.
Terbaring tak berdaya seperti sampah, bahkan kebutuhan tubuh paling dasar pun tak bisa dikendalikan, siksaan ini benar-benar tak tertahankan, lebih menyakitkan daripada kematian.
“Shi'an, jangan menangis. Aku takkan menyuntikkan obat lagi...” Ji Qiubai mengusap air mata di pipinya, “Tapi Shi'an, aku takkan membiarkanmu pergi dari sini. Tanpa obat, kau pasti akan kabur. Jadi sekarang, kau harus memilih: tetap menerima suntikan, atau... aku akan mengurungmu dengan rantai.”
Airmata langsung berhenti mengalir di pipinya, Li Shi'an menatapnya dengan tatapan tak percaya, lalu melirik rantai besi yang ada di samping ranjang.
Saat itu, Li Shi'an benar-benar hancur. Sepanjang hidupnya, bahkan di puncak amarah sekali pun, ia hanya akan berbalik dan pergi, tak pernah kehilangan adab. Kini, ia hampir berteriak histeris, meluapkan amarah yang selama ini terkubur dalam hatinya, “Kau mau mengurungku seperti hewan peliharaan?! Ji Qiubai, bagaimana bisa... bagaimana bisa... kenapa kau tak langsung membunuhku saja?!”
Ji Qiubai menatap matanya yang memerah, tapi jemarinya tetap membelai pipi Li Shi'an dengan lembut. “Shi'an, kalau saja kau mau menurut, aku tak ingin melakukan ini. Tapi lihatlah, setiap kali aku memberimu kesempatan, kau selalu mencoba kabur dariku... Semua ini, kau yang memaksaku.”
“...Aku takkan memberimu kesempatan kabur lagi. Mau pilih suntikan atau rantai? Saranku pilih rantai, setidaknya... kalau kau butuh sesuatu, kau masih bisa bicara, bukan begitu, Shi'an?”
Ini bukan pilihan, melainkan cara Ji Qiubai perlahan-lahan menginjak-injak harga dirinya.
Ketika seseorang bahkan kehilangan rasa malu yang paling dasar, ia tak ubahnya boneka yang bisa dipermainkan sesuka hati.
Jika Li Shi'an yang penuh harga diri tak bisa menjadi miliknya, maka Ji Qiubai lebih memilih menghancurkannya.
Saat emosi negatif sudah mencapai puncak, mekanisme pertahanan dalam diri pun menyala. Li Shi'an tertawa, tawanya menggema di vila yang sunyi, nyaring, penuh luka, dan menyedihkan.