Bab 61: Warganet Tercengang! Menemukan Bom Lagi?
Kapten Qin melongo menatap Yunxiao, dagunya hampir jatuh ke tanah.
Pria itu pun sama terkejutnya.
Setelah mendengar Yunxiao selesai bicara, ia sama sekali tak berani meremehkan lagi. Bahkan ada beberapa jenis yang disebutkan Yunxiao, ia sendiri belum pernah dengar. Padahal ia memang seorang spesialis peledak, meski menjinakkan ranjau hanya pekerjaan sampingan, namun kini wajahnya terasa panas terbakar. Ia pun tak berani lagi menawar harga.
Melihat ahli peledak pun sampai terdiam, Kapten Qin memperlihatkan ekspresi jumawa, “Gila, kau ini manusia normal atau bukan? Sampai paham soal ranjau juga?”
“Cuma tahu sedikit. Aku memang hobi militer saja.”
“Oh? Lalu kenapa kemarin masih ada yang meledak?”
“Eh... itu aku kurang teliti!” Yunxiao tersenyum malu.
Kapten Qin menggeleng. Ia sudah kebal dengan kemampuan bocah ini. Bahkan kalau Yunxiao bilang bisa membongkar bom, ia pun takkan heran.
“Sudahlah, lanjutkan kerjamu. Jangan bikin masalah lagi. Aku harus pergi sama ahli peledak untuk mengurus ranjau-ranjau itu.”
Kapten Qin melambaikan tangan, memerintahkan anak buahnya membawa ranjau yang sudah dikumpulkan, lalu segera pergi.
Sementara itu, para teknisi juga sudah mengganti pipa penyedot kotoran baru pada mobil sedot WC. Yunxiao kembali memasukkan pipa ke dalam bak penampungan, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Sudah, bubar, semua kembali kerja!” seru Sun Dahai.
Suasana sibuk pun kembali menyelimuti lokasi proyek.
Namun, ada fenomena aneh di lapangan. Hampir semua orang sengaja menghindari Yunxiao. Entah karena kejadian pagi tadi, mereka jadi trauma berat. Tak satu pun yang mau berdiri terlalu dekat dengannya, takut kalau-kalau terkena sial.
Yunxiao tidak ambil pusing. Toh, semua ranjau sudah diangkat, tak mungkin ada lagi yang meledak. Tinggal sisa-sisa padatan di kolam yang harus dibersihkan, lalu pekerjaannya selesai.
Saat Yunxiao merasa akhirnya bisa bekerja tenang, tanpa diduga, kejadian aneh kembali muncul!
Yunxiao merasakan ada sesuatu yang tersedot oleh pipa, seperti benda besar berat yang terpendam di dasar kolam, mirip batu besar. Awalnya Yunxiao tak terlalu memikirkan, karena benda seberat itu jelas bukan ranjau.
Namun ketika lumpur di kolam makin berkurang dan ‘batu’ itu tampak jelas, ia baru bisa melihat wujudnya.
“Astaga! Ini apaan lagi?!”
Yunxiao terperanjat, mengucek mata dan mengamati dengan saksama. Benda itu berbentuk persegi panjang dengan kontur jelas. Ujungnya runcing dan bundar, sekilas mirip tabung gas.
Dalam sekejap, Yunxiao merinding. Ia menjerit aneh dan langsung meloncat turun dari atas mobil.
Dengan kecepatan lari seperti atlet seratus meter, ia menjauh dari kolam pembuangan.
[Popularitas +1+1+1]
[Popularitas +1+1+1]
Dalam sekejap, ruang siaran langsung penuh dengan komentar. Para netizen heboh bukan main.
“Gila! Itu apaan? Kok makin dilihat makin mirip bom ya? Dalam kolam pembuangan ada bom, ini lebih parah dari ranjau!”
“Lebih parah lagi, jangan-jangan kolam ini dulunya gudang senjata zaman perang kemerdekaan? Yunxiao benar-benar hebat! Sudah nyedot satu sarang ranjau, sekarang bom, habis ini jangan-jangan roket, atau bahkan nuklir?”
“Lucu banget! Cuma bom doang, takut apa? Jual ke besi tua dapat ratusan ribu, bisa buat beli tulang sapi buat sup.”
“Aku tebak, ini pasti bom legendaris yang dipakai Jenderal Li Yunlong buat membombardir pasukan Yamazaki. Nilai sejarahnya tinggi!”
“Keren! Proyek ini pasti berhenti lagi. Baru kerja setengah jam, bosnya benar-benar apes!”
“Ngakak, sudah, jangan dibersihin lagi, ini bukan kolam biasa, pasti terhubung ke gudang senjata dunia lain, entah apa lagi yang bakal ditemukan.”
Sun Dahai melihat Yunxiao melompat turun dari mobil sedot WC dan langsung lari tanpa menoleh, wajahnya panik. Ia pun langsung merasa tak enak.
Ia buru-buru memanggil, “Hei, kau kenapa? Panik begitu, jangan-jangan ada ranjau lagi?”
Yunxiao terengah-engah, menggeleng.
“Bukan ranjau!”
Sun Dahai pun menghela napas lega dan tertawa, “Bukan ranjau saja sudah bikin panik? Bikin aku kaget! Kupikir harus stop kerja lagi, nanti susah jelasin ke bos.”
Yunxiao agak gugup, “Eee... Kak Sun, mungkin kau harus lihat sendiri.”
“Oke!” Sun Dahai tanpa curiga, mendekati mobil sedot WC dan mengintip ke dalam kolam.
Lalu... ia langsung terdiam di tempat!
Yunxiao bersembunyi di samping, penasaran melihat punggung Sun Dahai. Dalam hati ia kagum, “Kak Sun kok kalem banget ya? Benar-benar kepala mandor, liat bom saja gak lari. Aku kalah mental.”
Tapi tiba-tiba terdengar suara Sun Dahai yang gemetar:
“Xiao... Xiao, kau benar-benar menjebakku... Ini bom kan?”
Jika diamati, kedua kaki Sun Dahai gemetar hebat, lebih parah dari saringan. Bukan tak mau lari, tapi kakinya lemas karena ketakutan, tak bisa bergerak.
Yunxiao menampilkan ekspresi malu, “Sepertinya... iya!”
Sun Dahai wajahnya pucat, lidahnya pun bergetar, “A... Astaga! Lalu kau masih bengong di situ? Cepat lapor polisi... kalau enggak, aku mati penasaran...”
Yunxiao tersenyum kecut, lalu tanpa ragu menghubungi Kapten Qin.
Setelah tiga dering, telepon diangkat.
“Yunxiao? Ada apa?” tanya Kapten Qin heran. Baru saja pergi sudah ditelepon lagi? Bocah ini...
Jangan-jangan ada yang aneh lagi!
“Eh... Kapten Qin, sudah selesai urusannya?”
“Belum, masih di jalan!”
“Begini, di sini ada masalah lagi.”
“Hmm? Ranjaunya belum beres?”
Tiba-tiba suara tegas dari seberang menyela, “Saya sudah pastikan semua ranjau sudah diangkat!”
Yunxiao menjawab pelan, “Bukan ranjau... tapi bom...”
Telepon itu pun hening.
“Halo, Kapten Qin?”
“Tunggu, aku bawa ahli peledak ke sana sekarang juga. Segera evakuasi semua orang, jauhi bom itu!”
Berita itu pun cepat menyebar di lokasi proyek.
Begitu tahu ada bom terkubur di kolam pembuangan, semua pekerja tampak ngeri. Bukan takut pada bom, tapi takut pada Yunxiao!
Lima belas menit kemudian, rombongan Kapten Qin kembali dengan tergesa-gesa.
“Di mana bomnya?”
“Di sana... kolam pembuangan!”
“Xiao Zhang, bawa beberapa orang untuk mengosongkan area, arahkan semua ke garis pengaman di bawah bukit, larang kendaraan dan pejalan kaki lewat! Hubungi juga polisi lalu lintas, tutup semua akses ke Gunung Kepala Ular, sebelum bom dinetralisir, tak boleh ada yang naik ke atas.”
Setelah instruksi selesai, Kapten Qin menatap Yunxiao.
“Kau ini sengaja ya, bom pun bisa kau temukan?”
Yunxiao menggaruk hidung, “Bukan salahku, mana aku tahu setelah ranjau masih ada bom? Tadi kenapa gak sekalian diperiksa semua? Kalau meledak, aku yang pertama tewas.”
Ahli peledak mengerutkan dahi, tak percaya.
“Tak mungkin, tadi aku sudah periksa teliti. Kalau ada bom pasti ketahuan.”
Ia pun mengambil alat, lalu mendekati bom. Kapten Qin dan yang lain mengikutinya.
Tak lama, bom itu berhasil diangkat dari kolam, diletakkan hati-hati di tanah kosong.
Pria itu memakai sarung tangan putih, mengetuk-ngetuk permukaan bom, lalu menempelkan telinga.
Setelah lama memeriksa, ekspresinya justru semakin bingung, seolah menghadapi teka-teki yang tak bisa dipecahkan.
“Ada apa?” tanya Kapten Qin.
Pria itu menggeleng, “Aneh sekali. Aku sudah memeriksa banyak bom, tapi belum pernah lihat yang seperti ini! Mungkin kau harus panggil tentara untuk cek?”
Kapten Qin heran, “Pak Wang, bahkan kau tak bisa urus?”
Pria itu tersenyum kecut, “Bukan tak bisa, aku sama sekali tak tahu harus mulai dari mana. Aku bahkan tak yakin ini benar-benar bom. Bentuknya mirip, tapi juga tidak. Aneh sekali!”
Kapten Qin jadi tambah bingung.
“Maksudmu apa? Jadi ini bom atau bukan?!”
“Aku tidak yakin. Coba kau cek sendiri saja.”
Semakin ia berkata begitu, Kapten Qin makin penasaran. Ia pun mendekat, membungkuk dan mengamati dengan teliti.
Permukaan bom itu sudah sangat berkarat. Di bawah lumpur yang membusuk, terlihat lapisan tebal karat besi, wujud aslinya sulit dikenali. Tapi dari tampilan dan bentuknya, jelas-jelas ini seperti bom!
Namun Kapten Qin bukan ahli. Setelah lama mengamati, ia pun tak menemukan jawabannya.
Yunxiao yang penasaran ikut mendekat. Seharusnya, jika ini benar-benar bom, kemampuan “ahli penjinak bom” miliknya akan memberi petunjuk, persis seperti saat menjinakkan ranjau tadi. Tapi hingga kini tak ada reaksi apa pun. Ia jadi ragu, jangan-jangan ini bukan bom? Lalu apa?!
Namun, saat Yunxiao mengamati dari dekat, tiba-tiba muncul kotak notifikasi di depan matanya.
[Nama: Tungku Alkimia]
[Tahun: 1000 tahun lalu]
[Keterangan: Merupakan tungku alkimia dari Dinasti Song, digunakan kaisar untuk menekuni ilmu Tao dan membuat pil keabadian. Keluarga kerajaan Zhao sangat menghargai budaya dan Taoisme, sehingga kegiatan alkimia berkembang pesat. Meski telah berkarat dan tergerus zaman, benda ini tetaplah peninggalan berharga dari masa Dinasti Song.]