Bab Lima Belas: Remaja Penuh Imajinasi Bernama Pipit
Halaman (1/3)
Jie Zhaowen menarik napas dalam-dalam. Ia sudah lama mempersiapkan diri untuk menelepon, tetapi tenggorokannya tetap terasa tercekat. Hanya dalam beberapa hari, pemahamannya selama dua puluh tahun telah jungkir balik sepenuhnya.
Keluarga Jie ternyata sama sekali bukan keluarga biasa.
Kakek terbatuk dua kali, lalu berdeham. “Aku tidak tahu dari mana kau mendengar kabar seperti ini. Tapi aku tidak mengizinkannya. Nak, ini bukan sesuatu yang baik. Keluarga Jie juga tidak sebaik yang kau bayangkan. Dahulu, Kakekmu ini sudah mempertaruhkan nyawa untuk memutuskan hubungan dengan mereka. Kau tidak boleh kembali.”
Jie Zhaowen masuk ke rumah, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Ia membuka mulut, tetapi tak mampu mengeluarkan suara.
Ia tidak tahu bagaimana harus menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada Kakek. Ia juga tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa ia sudah menelan batu hitam dan sepertinya telah terseret ke dalam suatu konspirasi.
“Kau harus menjauh, Nak.” Suara Kakek Jie terdengar dari seberang telepon.
Jie Zhaowen membenamkan wajah ke dalam bantal sofa. Suaranya terdengar teredam. “Aku tahu, Kek. Aku akan menjauh.”
Mendengar suaranya agak murung, nada bicara Kakek Jie melunak. “Apa yang ingin kauketahui?”
Jie Zhaowen berguling dan berbaring telentang di sofa. “Setidaknya aku harus tahu, keluarga Jie itu sebenarnya berasal dari aliran apa. Taoisme, Legalisme, perdukunan, atau semacamnya.”
“Bukan semuanya…”
Suara Kakek Jie terhenti sejenak, seolah terbenam dalam kenangan yang sangat jauh. “Keluarga Jie… adalah para dukun. Sepuluh Dukun Gunung Roh dalam Kitab Pegunungan dan Lautan.”
Setelah mengatakannya, ia mengembuskan napas keras-keras. “Untuk apa membicarakan ini? Tidak ada yang perlu diketahui! Hubungan kita sudah diputus! Kau harus menjauh. Begitu terlibat, kau pasti akan tertimpa kesialan.”
Suara Kakek Jie yang semula dipenuhi kemarahan berubah menjadi peringatan yang tegas. “Apa kau mengalami sesuatu? Siapa yang memberitahumu semua ini?”
Jie Zhaowen memilah-milah kata dengan gelisah, lalu merangkai pengalaman dua hari terakhir menjadi sebuah cerita yang kurang lebih masuk akal untuk diceritakan kepada Kakek.
Ia hanya mengatakan bahwa atas dasar marganya, ia dihubungi oleh atasannya, kemudian secara kebetulan bergabung dengan sebuah biro urusan dan mungkin akan bekerja di sana.
Setelah mendengarnya, Kakek Jie terus terengah-engah, jelas agak marah. “Segera berhenti dari pekerjaan itu!”
Setelah berkata demikian, ia menutup telepon dengan geram.
Bukan hanya itu, ia bahkan mengirim lima atau enam pesan suara berdurasi enam puluh detik berturut-turut ke grup kecil keluarga, meminta Ayah Jie untuk mengurus putrinya.
Ayah Jie membaca pesan-pesan itu dengan wajah kebingungan. Sambil menenangkan ayahnya, ia menghampiri putrinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Jie Zhaowen tetap mengulang alasan yang sama.
Ayahnya menepuk kening. “Ah, biarkan anak itu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Setiap anak punya nasib baiknya sendiri.”
Ia bahkan membantu putrinya mengelabui Kakek Jie.
Baru saja keadaan berhasil ditenangkan, telepon dari Baili Yuqi kembali masuk.
Dari suaranya, ia masih memainkan permainan yang sama. Sejak pagi hingga sekarang, ia belum juga berhasil melewati tahap itu.
Namun, orang di seberang sana terdengar begitu santai. Nada suaranya tenang dan datar. “Aku sudah mencarikanmu seorang guru.”
“Latihan khusus. Dengan kemampuanmu yang sekarang, aku khawatir kau mati di tengah jalan. Bagaimanapun, terkadang tugas-tugas itu cukup berbahaya.”
Jie Zhaowen menyetujuinya.
Baili Yuqi berkata bahwa ia akan datang menjemputnya besok. “Bereskan barang-barangmu. Tinggallah di luar selama hampir seminggu. Bawa beberapa pakaian ganti dan keperluan lainnya.”
Pikiran orang modern pada umumnya tentu akan merasa bahwa atasan yang berbuat seperti itu pasti hendak menjual dirinya, dan mungkin saja ia akan berada dalam bahaya atau semacamnya.
Namun, Jie Zhaowen berbeda. Ia sudah bertemu dengan makhluk mimpi buruk. Apa yang lebih absurd daripada itu?
Karena itu, ia menerimanya dengan sangat wajar.
Begitu telepon berakhir, ia langsung melompat dan mulai berkemas.
Halaman (2/3)
Di sela-sela membereskan barang, ia sempat mengambil ponsel dan mencari informasi tentang “Sepuluh Dukun Gunung Roh”. Hasilnya kurang lebih hanya berupa keterangan ensiklopedis.
Ia tidak menemukan sesuatu yang benar-benar berguna.
Budaya wilayah Ba-Shu… Jadi, apakah itu berarti leluhur keluarganya berasal dari Ba-Shu?
Jie Zhaowen adalah anak yang lahir dan besar di kawasan pesisir Jiangsu, Zhejiang, dan Shanghai. Selama hidupnya, ia bahkan belum pernah pergi ke sana.
Ia mulai menantikan saat gajinya turun, agar bisa menabung dan pergi ke sana untuk menelusuri asal-usul keluarganya. Tidak perlu sampai menggali rahasia keluarga atau semacamnya; anggap saja sebagai perjalanan wisata.
…
Ia berbaring di ranjang dan tidur nyenyak. Rasanya seperti ketika masih duduk di sekolah dasar dan hendak pergi piknik bersama teman-teman—begitu bersemangat menunggu waktu yang telah disepakati dengan Baili Yuqi.
Di gerbang kompleks perumahan, mobil Wuling Hongguang tua itu sudah terparkir. Ia membuka pintu dan tertegun sejenak.
Zhong Shun yang duduk di kursi penumpang mengangkat kepala dan menyapanya.
Ia mengenakan sarung tangan kulit hitam. Perban dan plester yang sebelumnya membalut tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Mau tak mau, Jie Zhaowen menatapnya beberapa kali.
Pada tatapan keempat, Zhong Shun akhirnya tidak tahan. Ia menoleh dan bertanya, “Ada apa?”
“Oh, aku kira perban di tubuhmu itu bagian dari gaya berpakaian. Ternyata kau benar-benar terluka?”
Mendengar perkataannya, bibir Zhong Shun bergerak-gerak selama beberapa saat, tetapi tak sepatah kata pun keluar. Pada akhirnya, ia memalingkan wajah dengan kesal dan tidak lagi menghiraukannya.
Jie Zhaowen kebingungan. Ia tidak tahu apa yang telah dikatakannya hingga membuat Zhong Shun tersinggung.
Dari kursi pengemudi terdengar suara tawa. Baili Yuqi melirik kaca spion. “Luka itu karena kaulah yang memukulnya. Kau lupa?”
“Siapa? Aku?”
“Ya. Waktu itu kau hebat sekali. Zhong Shun sampai marah dan menambah latihan satu jam setiap hari setelah pulang.”
Jie Zhaowen masih terpaku. Tampaknya, setelah menelan batu hitam, telah terjadi beberapa hal yang tidak diketahuinya.
…
“Kita sudah sampai.”
Di depan pintu perguruan bela diri, Zhong Shun tiba-tiba menghentikan langkah dan menghalangi Jie Zhaowen.
“Kau… yakin mau masuk?” Ia menunjuk ambang pintu, suaranya lembut. “Latihan di sini berbeda dari perguruan biasa.”
Jie Zhaowen berkedip. “Berbeda?”
Zhong Shun menyipitkan mata dengan serius, lalu mengamati tubuhnya dari atas ke bawah. “Setiap ubin di sini telah menyaksikan air mata para pecundang.”
Ia berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata yang tepat.
“Banyak orang sudah menangis dan kabur pada hari pertama.”
“Kau sanggup bertahan? Kalau pergi sekarang, masih belum terlambat.”
Jie Zhaowen belum sempat memahami maksudnya. Begitu Zhong Shun melangkahkan kaki melewati ambang pintu, sepasang lengan kuat langsung melingkari bahunya.
Kakak keduanya, Zhong Wan, lebih tinggi satu kepala daripada sang adik. Lengan bawahnya yang berotot tampak jelas dari balik kaus lengan pendek. Telapak tangannya begitu lebar dan tebal, seolah mampu menggenggam bola basket hanya dengan satu tangan.
“Teknik kuncian yang kuajarkan terakhir kali sudah kaukuasai?” Suaranya rendah dan berat, membawa ketenangan khas seorang ahli bela diri.
Halaman (3/3)
Zhong Shun menendang-nendang dan meronta sambil menepuk-nepuk lengan kakaknya. “Kak! Kak, lepaskan!”
Tangan Zhong Wan terasa seperti besi yang dilas. Ia akhirnya melepaskan sang adik sambil terkekeh, lalu menyapa dan menyambut kedatangan Jie Zhaowen.
Di tengah halaman, Ayah Zhong sedang membimbing para murid. Meski usianya sudah lebih dari lima puluh tahun, posturnya masih tegak lurus seperti pohon pinus.
Saat mendemonstrasikan pukulan lurus, lengan bajunya berkibar diterpa angin. Otot trisepnya tampak naik turun dengan lancar mengikuti gerakan.
“Tenaganya harus menembus. Niatnya harus tenggelam.”
Suaranya tenang dan tidak tergesa-gesa.
Baili Yuqi tampaknya sangat akrab dengan semua orang di sana dan sering berkunjung.
Ia melambaikan tangan kepada Ayah Zhong, lalu keduanya berjongkok sembunyi-sembunyi di sudut halaman untuk merokok.
Ayah Zhong bernama Zhong Kaifeng. Ia adalah tipe suami yang sangat takut kepada istrinya. Karena istrinya melarangnya merokok, ia pun bersembunyi bersama Baili Yuqi untuk mengisap sebatang rokok.
Zhong Shun memijat lehernya yang baru saja dicengkeram paksa oleh kakaknya. Ia berkata kepada Jie Zhaowen, “Ayo, kuantar ke kamarmu.”
Perguruan bela diri keluarga Zhong tampak seperti sekolah olahraga kecil.
Di sana terdapat beberapa ruang kelas, sebuah lapangan kecil di tengah, serta asrama dua lantai di bagian belakang.
Zhong Shun berjalan di depan dengan wajah tanpa ekspresi. Baru dua langkah, ia kembali menoleh dan mengambil tas dari tangan Jie Zhaowen.
“Aku bantu bawakan.”
“Pipi! Ada tamu datang?”
Suara lembut seorang wanita terdengar dari lantai atas asrama.
Ketika mendongak, Jie Zhaowen melihat seorang wanita kurus dan rapuh berdiri di dekat jendela. Ada sedikit kesan Lin Daiyu dalam pembawaannya.
Jie Zhaowen terdiam. “…Pipi?”
Udara membeku selama sesaat.
Ujung telinga Zhong Shun memerah dengan kecepatan yang bisa dilihat mata. Seluruh wajahnya seketika menjadi merah padam, bahkan lehernya pun berubah merah muda.
Ia berbalik dengan cepat dan meninggikan suara. “Bu! Jangan panggil aku begitu di depan orang lain!”
Ibu Zhong memasang wajah polos. “Kenapa? Sejak kecil Ibu memanggilmu begitu.”
“Itu… itu nama waktu aku masih kecil!” Zhong Shun membuat gerakan panik dengan tangannya. Bicaranya melaju cepat. “Aku sudah sebesar ini. Bagaimana mungkin masih dipanggil dengan nama… nama seperti itu…”
Jie Zhaowen menahan tawa, lalu sengaja memanjangkan suaranya. “Pipiii…”
Zhong Shun menjadi marah karena malu. Seluruh tubuhnya tampak seperti kucing yang bulunya berdiri tegak. Bahkan rambutnya seolah ikut mengembang.
Karena ibunya berada di sana, ia tidak bisa meluapkan amarah. Dengan wajah kesal dan langkah yang kaku, ia menaiki tangga. Di tengah jalan, ia bahkan hampir tersandung kakinya sendiri.
Setelah tiba di sisi ibunya dengan wajah cemberut, ia menundukkan kepala dan memperkenalkan Jie Zhaowen dengan patuh.
“Bu, dia berasal dari keluarga Jie. Namanya Jie Zhaowen. Bos menyuruhnya berlatih selama seminggu.”
Jie Zhaowen buru-buru berkata, “Maaf telah merepotkan. Maaf.”
Wanita itu menuruni tangga dengan langkah ringan. Mengenakan rok panjang, ia meraih lengan Jie Zhaowen dengan ramah.
“Tidak merepotkan sama sekali. Mereka semua laki-laki kasar. Kalau kau membutuhkan sesuatu, katakan saja kepadaku.”