Bab 127: Tentu Saja, Aku Akan Membawanya Kembali
Gu Yihan terdiam menyaksikan kedua orang tuanya terus berdebat. Apakah pasangan yang sudah lama menikah memang selalu seperti ini?
"Mana mungkin aku meremehkannya. Lagipula, putraku sendiri, tidak mungkin dia tidak kompeten," sahut Gu Haiming yang terkadang memang sedikit takut pada istrinya, ia segera mendukung ucapan Bai Wei.
Bai Wei duduk di sofa dan menyudahi topik pembicaraan tersebut.
Ia beralih pada Gu Yihan, "Beberapa hari lagi ulang tahun kakekmu. Sesuai keinginannya, perjamuan akan diadakan tepat di hari ulang tahunnya, lalu keesokan harinya kita akan berkumpul sebagai keluarga untuk berbincang santai. Kebetulan ayahmu sudah kembali, dan Minghan juga sudah mengabarkan bahwa ia akan pulang untuk merayakan ulang tahun kakek. Bawalah Liu Liu bersamamu nanti, ini saat yang tepat untuk memperkenalkannya kepada sanak saudara."
Gu Yihan mengangguk. Bayangan gadis kecil itu sedang menggenggam tangannya dengan manis melintas di benaknya, membuat sudut bibirnya terangkat. "Tentu, aku pasti akan membawanya."
Gu Haiming, yang mendengar percakapan ibu dan anak itu, teringat pada foto yang dilihatnya tempo hari, dan tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyesakkan dadanya.
Bai Wei tidak menyadari kebisuan Gu Haiming dan terus berkata kepada Gu Yihan, "Oh ya, kudengar sepupumu juga akan datang untuk mengumumkan pertunangannya. Bibi-mu meneleponku khusus untuk memberitahuku beberapa hari lalu, tapi sepertinya kakekmu belum tahu soal ini."
Gu Yihan mengupas jeruk lagi dan memasukkannya ke mulut, lalu bertanya dengan datar, "Qiao Yanran, putri Gu Jingru?"
Bai Wei mengangguk dengan ekspresi tidak suka. "Siapa lagi kalau bukan dia? Mengumumkan pertunangan di tengah perjamuan ulang tahun, katanya supaya kebahagiaan bertambah, tapi menurutku dia hanya ingin pamer dan mencuri perhatian dari acara ulang tahun kakekmu. Sayang sekali, perjamuan yang seharusnya khidmat malah berubah menjadi acara peluncuran pernikahan putrinya."
Gu Haiming menatap ibu dan anak itu, lalu berkata dengan suara rendah kepada Bai Wei, "Cukup bicarakan ini di antara kita saja. Kalau Ayah sampai mendengarnya, suasana akan jadi tidak enak. Lagipula, Gu Jingru tetaplah putrinya."
Bai Wei mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, lalu berkata dengan kesal, "Aku tahu, makanya aku hanya mengatakannya saat bersama kalian saja."
Gu Yihan menelan potongan jeruk terakhir, lalu bangkit berdiri. "Kalian lanjut saja, aku pulang dulu."
Wajah Bai Wei seketika meredup, terlihat tidak senang. "Dasar anak ini, baru saja datang sudah mau pergi. Aku belum selesai bertanya, kenapa Liu Liu tidak ikut denganmu hari ini?"
Gu Yihan mengangkat alisnya dengan heran. "Liu Liu harus bekerja, Bu. Bukankah Ibu bekerja di perusahaan yang sama dengannya? Masa tidak tahu? Hari ini hari kerja, kenapa Ibu tidak masuk kantor?"
Bai Wei merapikan lengan bajunya, melirik Gu Haiming, lalu berkata dengan bangga, "Untuk apa aku ke kantor? Aku hanya perlu masuk satu atau dua hari seminggu, sisanya bisa bekerja dari rumah. Jadi, Liu Liu sudah mulai bekerja? Tidak ada yang memberitahuku. Besok akan kulihat dia di kantor."
"Terserah Ibu saja." Gu Yihan mengambil kunci mobilnya dan melangkah keluar, lalu menyalakan mesin dan pergi.
Bai Wei menatap Gu Haiming dengan wajah merajuk. "Lihat bagaimana sikap putramu itu? Terserah saja? Kalian bertiga, ayah dan anak, tidak ada satu pun yang membuatku tenang. Kalian semua menindas wanita, aku benci kalian."
Bai Wei mulai bermanja-manja pada Gu Haiming.
Gu Haiming memeluk Bai Wei ke dalam dekapannya dan menghiburnya dengan lembut, "Sudahlah, Weiwei. Putra-putra kita semua adalah anak yang luar biasa, wajar saja jika mereka punya kepribadian yang kuat. Anak-anak sudah dewasa, setelah posisi presiden kuberikan padanya dan perjamuan ulang tahun Ayah selesai, aku akan mengajakmu pergi berlibur. Kita akan pergi ke mana pun kau mau. Bulan madu yang dulu tertunda akan kita bayar sekarang. Sudah ya, jangan marah lagi."
Dulu, saat baru menikah, mereka berencana berbulan madu di Paris. Namun, saat itu perusahaan baru saja melantai di bursa saham dan ada masalah kontrak di Amerika Serikat, sehingga ia harus segera pergi ke sana untuk mengurusnya. Perjalanan bulan madu pun harus berakhir. Meski saat itu Bai Wei memahaminya, ia tetap menyimpan kekecewaan.
Tidak ada orang yang tidak ingin menikmati manisnya cinta.
Setelahnya, mereka selalu sibuk dan jarang menghabiskan waktu bersama. Sebagai seorang suami, ia memang merasa banyak berhutang pada wanita ini.
"Benarkah?" Bai Wei menoleh menatap Gu Haiming, wajahnya menunjukkan rasa malu-malu layaknya gadis muda. "Untung kau masih punya hati nurani."