Bab 101: Paman Magang
Sutradara mendengar ucapan Lin Zhixi, tak tahan untuk melirik sejenak ke arah kolom komentar. Teriakan para warganet membuatnya refleks menarik leher ke dalam jaket:
“Kejutan lagi? Magang jadi orang tua lagi? Bukannya waktu itu gagal total? Sutradara tak kapok juga?”
“Si Chengze saja sudah siap keluar rumah tanpa apa-apa, rekamannya sudah dipasang di atas oleh Gu Yuan, apa dia masih berani datang?”
“Kalau pasangan plastik itu berani muncul lagi, aku langsung berangkat, aku ledakkan tim produksi acara!”
“Kalau aku lihat lagi pasangan magang yang menjijikkan itu, aku langsung loncat ke layar, cabutin semua sisa rambut sutradara!”
Sutradara tanpa sadar meraba rambutnya, buru-buru mengambil pengeras suara dan berseru:
“Kali ini tenang saja, benar-benar kejutan.”
Gu Yuan tampak tak peduli, tapi mata Song Mengying berbinar jahil, tersenyum nakal menatap wajah Xia Mu:
“Benar-benar kejutan? Jangan-jangan yang datang itu suamimu?”
Xia Mu sambil menuntun Xiao Xingxing turun dari mobil, menjawab santai:
“Tidak mungkin, suamiku itu tidak bisa menyimpan rahasia. Tim produksi baru saja menghubunginya sebagai bintang tamu kejutan, detik berikutnya pasti sudah pamer ke aku. Kalau memang ada ayah yang datang, pasti cuma Ayah Mingxuan.”
Song Mengying menggeleng:
“Sepertinya bukan.”
Kali ini tim produksi kembali membawa para tamu ke sebuah desa yang sunyi, berkumpul di bawah pohon besar di pintu masuk desa.
Bintang tamu kejutan belum juga muncul, sutradara menyapa para tamu dengan pengeras suara:
“Setelah perjalanan pertama selesai, apa ada perubahan di rumah masing-masing?”
Mendengar itu, Lin Zhixi langsung mengeluarkan jam weker dari dalam tas, mengernyit:
“Seminggu sudah latihan, kalau acara ini tak kunjung mulai, aku sudah kebal dengan suara jam weker ini.”
Xia Mu langsung tertawa:
“Seminggu ini, setiap kali bibi asisten rumah tangga masak, aku selalu panggil Xingxing ke dapur, biar dia lihat sendiri, berapa banyak bahan yang dibutuhkan untuk satu hidangan. Kali ini tak akan ada kejadian beli satu tangkai sayur saja.”
Melihat semua orang di rumah sudah melakukan persiapan, Song Mengying buru-buru menimpali:
“Mingxuan seminggu ini terobsesi undian, semua harus diputuskan lewat undian. Kalau acara ini tak mulai juga, aku dan ayahnya bisa stres sendiri karena undian di rumah.”
Sutradara bersama kru tertawa diam-diam, lalu menoleh ke arah wajah Qin Ran. Qin Ran mengangkat tangan ringan:
“Kami di rumah tak mengajari apa-apa, tak berlatih apa-apa, memang tak sempat. Tapi minggu ini, Xin Ci sudah banyak mengalami tantangan, pertanyaan apakah ayahnya tampan harus dia jawab delapan ratus kali sehari.”
Para ibu tertawa bersama, Gu Yuan menggoda Mu Shen:
“Kau memang luar biasa!”
Melihat suasana semakin hangat, sutradara langsung mengambil kesempatan bicara:
“Kegagalan magang orang tua sebelumnya sudah kami evaluasi, kali ini pemilihan tamu sungguh dipikirkan matang-matang. Tanpa banyak bicara, mari kita sambut bintang tamu kejutan hari ini.”
Begitu suara sutradara selesai, Luo Li berjalan mendekat dari kejauhan.
Para ibu seolah disinari cahaya, kehadiran Luo Li seperti membawa lampu sorot sendiri, begitu memukau.
Song Mengying yang pernah mewawancarainya langsung mengenali, tak bisa menahan rasa girang:
“Wah, itu Luo Li!”
Xia Mu pun tak kalah kagum:
“Aduh, kenapa ada orang yang baru muncul saja sudah hampir bikin silau?”
Lin Zhixi yang mengenali sosok itu berseru pelan penuh kejutan. Dalam hati ia benar-benar terkejut, bukankah ini mantan idol boyband yang langsung ia sukai saat mengunjungi lokasi syuting Gu Yuan dulu?
Qin Ran tetap paling tenang, walau tak berkata apa-apa, tapi di sampingnya, Mu Xinci tak tahan berdecak kagum keras.
Wajah Mu Shen langsung mengeras, buru-buru menutupi mulut Mu Xinci.
Wajah Gu Yuan pun sama muramnya, menatap Luo Li yang mendekat, lalu berujar:
“Jalan saja, tak usah pamer.”
Luo Li segera melepas kacamata hitamnya, bicara tulus:
“Halo semuanya, saya Luo Li, bintang tamu spesial kali ini, hari ini saya datang sebagai paman magang.”
Gu Yuning menarik tangan Lin Zhixi, berbisik:
“Ibu, Ning-ning seperti pernah lihat paman ini.”
Su Yixing menatap Xia Mu, berkata serius:
“Mumu, paman ini bisa menerbangkan pesawat, kelihatannya tidak akan membuang anak-anak.”
Xia Mu sampai tertawa terpingkal-pingkal, menutup mulut Su Yixing:
“Bintang tamu terbang itu bukan berarti tamunya datang naik pesawat, Xingxing, jangan asal bicara.”
Kehadiran Luo Li langsung membuat Su Yixing tertawa terbahak-bahak.
Mu Xinci melongo menatap wajah Luo Li. Tiba-tiba pandangannya gelap, matanya ditutup ayahnya.
Mu Shen memandang Gu Yuan dengan tak puas:
“Dia datang, sepertinya kamu sudah tahu?”
Gu Yuan santai saja:
“Kenapa? Bukannya kamu juga tahu dia akan datang makanya ikut?”
Mu Shen cemberut:
“Aku tak dengar apa-apa, aku datang untuk mengawasi kamu, tak menyangka acara ini penuh bahaya, jebakan di mana-mana!”
Tangan kecil Mu Xinci berusaha membuka paksa tangan ayahnya yang menutupi mata, lalu menoleh dengan wajah tak puas. Ia cemberut:
“Ayah, jangan tutup mataku, aku mau lihat Paman Luo Li!”
Gu Yuan menatap wajah Mu Xinci, menggoda pelan:
“Akhirnya, anak perempuanmu langsung hafal namanya.”
Mu Shen berdiri menggertakkan gigi, tapi warganet justru ramai menulis komentar:
“Luo Li benar-benar mempesona, siapa yang tak terpesona?”
“Aku sampai bingung, siapa yang wajahnya lebih jelek, Gu Yuan atau Mu Shen.”
“Aku iri banget, itu Luo Li, siapa yang seberuntung itu bisa dibimbing dia? Kalau aku buru-buru masuk acara jadi bayi, masih keburu nggak?”
“Keliatan banget, kali ini memang bintang tamu kejutan, yang penting ibu dan anak bahagia, ayah mah terserah!”
Sutradara sama sekali tak berani menatap wajah Gu Yuan dan Mu Shen, merasa aura dua orang itu benar-benar menakutkan. Ia buru-buru mengambil pengeras suara:
“Semua tamu sudah lengkap, sekarang kita mulai sesi paling penting, memilih rumah.”
Qi Mingxuan begitu mendengar soal memilih rumah, matanya langsung berbinar, bahkan terlihat siap-siap, lalu berkata:
“Paman, kali ini kita pilih rumah tanpa lihat dulu? Tenang, apapun rumah yang aku pilih, aku takkan menangis.”
Sutradara tersenyum lebar, tapi dalam hati waspada, jangan-jangan nanti kalau pilih rumah jelek, anak ini bisa-bisa malu sendiri.
Sutradara mengeluarkan beberapa kartu tugas, berkata dengan serius:
“Kali ini aturannya sedikit berbeda, di tanganku ini peta menuju rumah. Ada lima rumah yang disiapkan, di depan pintu ada namanya, yaitu: Langit Berbintang, Bayang Pohon, Mata Air, Irama, dan Buah Berlimpah. Anak-anak boleh pilih secara acak berdasar nama.”
Mu Xinci dan Su Yixing tampak bingung, Qi Mingxuan mengernyit tak paham, Gu Yuning menarik baju Lin Zhixi:
“Ibu, pamannya bicara terlalu cepat, Ning-ning tak ingat.”
Qin Ran mendengus pelan, lalu berkata:
“Namanya memang terdengar indah, coba aku analisa. Langit Berbintang, kemungkinan atapnya bocor, jadi malam-malam bisa lihat bintang. Bayang Pohon, pasti depan rumahnya ada pohon besar, menutupi semua cahaya, di dalam rumah siang pun serasa malam. Mata Air, mungkin depan rumahnya ada sungai, bisa jadi pulang harus menyeberang dulu. Irama, sepertinya juga tak bagus, mungkin rumahnya bocor angin, malam-malam suara angin menderu. Xin Ci, kalau bisa pilih duluan, pilih Buah Berlimpah.”