Bab 58 Anggur untuk Tuan Yang
Yang Chen hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Orang lain aku tidak tahu, aku ini agak malas, sehari paling cuma dapat beberapa orderan, tidak bisa dapat uang banyak.”
“Mana mungkin? Di Kota Hai, kalau penghasilan sebulan kurang dari sepuluh ribu, mana bisa hidup? Kalau kamu nanti benar-benar bersama Nona Xu, dengan penghasilan segitu, bagaimana kamu menafkahinya?” tanya Yang Zhiqiang dengan sengaja.
Xu Xiaowan buru-buru menimpali, “Aku punya tangan dan kaki sendiri, tak perlu orang lain menafkahiku. Menurutku, kalau dua orang benar-benar bersama, seharusnya saling mendukung, bukan salah satu mengandalkan yang lain.”
“Haha… Nona Xu benar sekali. Tapi ada satu hal yang aku kurang paham, kalian kan teman seangkatan di Universitas Ekonomi, berarti Tuan Yang juga lulusan jurusan pemasaran yang unggul dong. Kenapa tidak mencari pekerjaan yang lebih layak, malah memilih jadi sopir taksi online?” Yang Zhiqiang lanjut bertanya.
“Aku sudah terbiasa hidup bebas, tak suka diatur orang lain. Jadi sopir taksi online memang membosankan, tapi sangat bebas, sangat cocok untukku,” jawab Yang Chen.
“Ah, masih muda memang. Kalau sekarang hidup sendirian, penghasilan beberapa ribu masih cukup. Tapi kalau nanti bersama Nona Xu, duit segitu jelas tidak cukup. Kalau kamu memang tak bisa menambah penghasilan, sebaiknya berinvestasi dan mengelola keuangan dengan baik,” ujar Yang Zhiqiang.
Akhirnya, masuk ke inti pembicaraan.
Fang Huihui pun segera menimpali, “Iya juga, Pak Yang benar-benar ahli investasi dan pengelolaan keuangan, kalau kamu ada uang lebih, bisa serahkan ke dia untuk dikelola. Kamu tinggal tunggu terima hasilnya saja.”
“Oh begitu? Pak Yang begitu paham investasi, ajari aku beberapa trik dong. Orang bilang kalau tidak pandai mengelola keuangan, rezeki pun enggan mendekat. Sepertinya aku memang harus mulai belajar investasi dengan serius,” kata Yang Chen dengan tulus.
Sistem telah menghadiahi Yang Chen beberapa juta yang tersimpan di rekening bank, memang sudah saatnya uang itu diputar lewat investasi.
Investasi adalah bidang utama Yang Zhiqiang, dia memang paling jago dalam hal ini.
Sekalian bisa unjuk gigi di depan Xu Xiaowan, membangkitkan kekaguman, supaya nanti lebih mudah mendekatinya.
“Untuk orang kebanyakan, cara investasi paling cocok itu beli saham. Tapi saham tak bisa asal beli, ini benar-benar menguji kemampuan teknis…”
Yang Zhiqiang mulai bercerita panjang lebar, mulai dari grafik K-line, indikator Bollinger Bands, dan masih banyak lagi teori yang ia paparkan.
Jujur saja, Yang Chen memang kurang paham soal itu, jadi mendengar beberapa penjelasan teknis memang cukup bermanfaat.
Setelah membahas saham, Yang Zhiqiang lanjut bicara soal investasi di pasar berjangka, seolah ingin memamerkan semua pengetahuannya.
Saat Yang Zhiqiang berhenti sebentar, Fang Huihui menasihati Xu Xiaowan, “Xiaowan, lihat betapa banyak ilmunya Pak Yang. Nanti kalau kamu resmi kerja di kantor, kamu harus banyak belajar dari beliau. Nah, ayo kita bersulang untuk Pak Yang dan Pak Zhao!”
Xu Xiaowan sebenarnya jarang minum, tapi ia tahu tujuan makan malam ini, jadi hari ini harus ikut minum.
Akhirnya ia pun dengan sedikit terpaksa mengangkat gelas, lalu berkata, “Pak Yang, Pak Zhao, maaf saya kurang pandai bicara, semua rasa terima kasih saya tuangkan dalam segelas ini. Saya minum dulu sebagai penghormatan.”
Setelah berkata demikian, Xu Xiaowan langsung menenggak habis isinya.
Zhao Qin ikut tersenyum mengangkat gelas sebagai tanda hormat, ia juga perempuan dan biasanya tidak minum.
Namun Yang Zhiqiang sangat senang, ia tertawa dan berkata, “Sebagai orang baru di dunia kerja, banyak hal yang belum dipahami itu wajar. Tapi kamu tahu caranya bersikap, itu tanda kamu pasti punya masa depan cerah. Hahaha…”
Setelah bicara, ia pun menghabiskan minumannya.
Begitu Yang Zhiqiang meletakkan gelas, Yang Chen segera berkata, “Pak Yang, lanjutkan cerita tentang investasi berjangka, saya benar-benar penasaran. Kok bisa ada yang namanya leverage, uang sepuluh ribu bisa dipakai seolah-olah seratus ribu, hebat sekali.”
Yang Zhiqiang tertawa kecil dan berkata, “Investasi berjangka itu kelas atas, kurang cocok untuk orang kebanyakan. Tapi kalau kamu memang tertarik, boleh titipkan uang ke saya, nanti kita investasikan bersama.”
“Wah, kebetulan sekali! Saya memang ada uang lebih, kalau memang cocok, saya benar-benar ingin coba berinvestasi. Tapi, Pak Yang kerja di perusahaan investasi mana ya?” tanya Yang Chen.
“Di perusahaan investasi Tianmu, cukup terkenal di Kota Hai. Pernah dengar?” balas Yang Zhiqiang.
Astaga, Tianmu Investasi, perusahaan ayahnya Zhang Long, berarti lumayan ada keterkaitan juga.
“Saya pernah dengar. Kalau Pak Yang begitu ahli investasi, kira-kira berapa persen keuntungannya?” tanya Yang Chen lagi.
Saat itu, para bawahan Yang Zhiqiang langsung berebut memujinya.
“Masih perlu ditanya? Bos kita dalam tiga tahun terakhir mampu menghasilkan keuntungan investasi sampai 350%, hebat kan?”
“Kamu tahu artinya 350%? Itu termasuk tiga besar di industri ini. Artinya, kalau kamu investasikan sepuluh ribu, sekarang bisa jadi empat puluh lima ribu. Luar biasa, kan?”
“Kalau kamu punya uang, serahkan saja ke bos kita, pasti dapat untung besar.”
…
Yang Zhiqiang tertawa lalu berkata, “Hal seperti ini masalah jodoh, saya juga tidak menerima uang sembarang orang. Banyak klien antre tiap hari ingin uangnya saya kelola, tapi saya tidak selalu mau menerima semua.”
Fang Huihui segera berkata, “Yang Chen, cepat bersulang untuk Pak Yang. Masa hal begini harus diajari? Sama-sama bermarga Yang, lihat betapa hebatnya Pak Yang, kamu harus banyak belajar dari dia.”
Yang Zhiqiang pun tertawa, “Anak muda, belum punya kemampuan itu wajar. Kalau anak muda begitu masuk dunia kerja langsung hebat, lalu apa gunanya kami yang sudah lama malang melintang?”
“Haha… Pak Yang benar. Yang Chen, ngerti nggak?” kata Fang Huihui.
Ngerti apanya?
Kalau aku menyerahkan uang untuk diinvestasikan, seharusnya dia yang memberi penghormatan, masa malah aku yang harus inisiatif?
Saat itu, pelayan masuk membawa sebotol wine Lafite dan sebotol Maotai.
Fang Huihui heran lalu bertanya, “Ada apa ini? Kita tidak pesan minuman, kan?”
Pelayan segera menjawab, “Manajer kami yang memerintahkan, dua botol ini khusus dikirim untuk Tuan Yang. Beliau sebentar lagi akan naik untuk menyapa Tuan Yang.”
Setelah bicara, pelayan meletakkan minuman di meja lalu pergi.
Tuan Yang?
Pasti maksudnya Yang Zhiqiang, mana mungkin Yang Chen, sopir taksi online itu.
“Pak Yang, tidak menyangka Anda begitu dihormati. Manajer Hotel Peninsula sampai mengirim minuman khusus untuk Anda. Anda memang luar biasa,” puji Fang Huihui.
Yang lain pun ikut memuji.
“Bos, Anda hebat sekali!”
“Kalau tahu Anda punya pengaruh di Hotel Peninsula, seharusnya acara kumpul-kumpul kita selalu di sini.”
“Maotai dan Lafite, pasti mahal sekali.”
“Bos, Anda benar-benar top!”
…
Tapi Yang Zhiqiang sendiri malah bingung, ia merasa tidak punya hubungan khusus di Hotel Peninsula, kenapa manajer hotel mengirimi dia minuman?
Apa jangan-jangan yang dimaksud pelayan itu Yang Chen?
Tidak mungkin!
Bagaimana mungkin seorang sopir taksi online punya pengaruh sebesar itu?
Walaupun Yang Zhiqiang merasa aneh, tapi karena tidak mungkin Yang Chen yang dimaksud, dan hanya dia yang bermarga Yang di ruangan itu, maka pasti dua botol itu untuknya.
“Haha… mungkin manajer hotel pernah beli reksa dana yang saya kelola. Saya sudah menghasilkan banyak uang untuk dia, jadi mungkin dia mau mengucapkan terima kasih. Liu, tolong buka minumannya untuk semua,” kata Yang Zhiqiang sambil tertawa.
Liu berkata, “Baik, bos.”
“Hidup bos!”
“Terima kasih, bos!”
“Aku belum pernah minum Lafite, hari ini numpang rezeki bos, sekalian icip-icip.”
“Haha…”
Satu botol Lafite jelas tak cukup untuk sembilan orang, dan “kebetulan” saat sampai ke Yang Chen, minuman pun habis.
“Waduh, maaf ya, Yang. Sudah habis. Mau tambah? Kalau mau, aku bisa panggil pelayan tambah satu botol lagi. Aku yang traktir, satu botol wine masih sanggup lah,” kata Yang Zhiqiang dengan nada dibuat-buat.
Yang Chen menggeleng, baru hendak bicara, manajer Hotel Peninsula, Cheng Dawu, masuk sambil mengetuk pintu.
“Haha… maaf, saya ganggu sebentar, saya manajernya. Tuan Yang, sudah terima minumannya?” tutur Cheng Dawu dengan ramah.
Yang Zhiqiang buru-buru berdiri hendak berjabat tangan.
Namun senyum di wajah Cheng Dawu langsung menghilang.
Siapa orang ini?
Kenapa mau berjabat tangan dengan saya?
“Maaf, ada perlu apa?” tanya Cheng Dawu.
Seketika suasana ruangan jadi tegang, wajah semua orang membeku.
Yang Zhiqiang masih tersenyum dan berkata, “Tadi Anda mengirimi saya dua botol minuman, saya cuma ingin mengucapkan terima kasih.”
“Maaf, Anda siapa? Untuk apa saya mengirimi Anda minuman? Minuman itu untuk Tuan Yang, bukan untuk Anda,” jawab Cheng Dawu dengan ekspresi tak paham.
“Ya, saya Tuan Yang, Yang Zhiqiang, manajer divisi investasi Tianmu Investasi,” tegas Yang Zhiqiang.
Cheng Dawu menggeleng dan berkata, “Saya tidak kenal Anda. Minuman yang saya kirim untuk Tuan Yang, yang satu ini, bukan untuk Anda. Kalian… astaga! Apa-apaan ini? Minuman yang saya kirim untuk Tuan Yang malah habis dibagi-bagi, tak tersisa sedikit pun untuk dia?”
Melihat semua orang punya minuman kecuali gelas Yang Chen yang kosong, Cheng Dawu langsung kelihatan kesal.
“Lho, untuk dia?” seru Yang Zhiqiang kaget.
Yang lain pun sama terkejutnya, ternyata Tuan Yang yang dimaksud pelayan tadi adalah Yang Chen, bukan Yang Zhiqiang!