Bab 7: Gadis yang Miskin Namun Elegan
Yang Chen sebenarnya tidak punya ketertarikan khusus terhadap Wang Jiayi, juga tak ingin tahu identitasnya. Namun, Wang Jiayi justru sangat tertarik pada Yang Chen dan terus-menerus bertanya.
“Keluargamu bergerak di bidang apa?”
“Orang tuaku sudah lama meninggal karena kecelakaan. Sekarang aku hanya seorang sopir taksi online.”
“Oh, maaf, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat hal yang menyedihkan. Tapi menurutku, orang tuamu pasti hebat, bisa meninggalkan banyak warisan untukmu.”
“Haha... iya, mungkin begitu.”
Percakapan mereka semakin mengalir, membuat Yang Chen tak lagi merasa kaku. Ia pun mulai bertanya tentang Wang Jiayi.
Dari penuturan Wang Jiayi, ia berasal dari Kota Su, keluarganya terdiri dari ayah, ibu, dan seorang adik laki-laki. Ia sendiri bekerja di sebuah butik fesyen, dengan penghasilan sekitar lima belas juta sebulan. Lima juta di antaranya rutin ia kirimkan ke rumah untuk membantu meringankan beban orang tua. Sisanya, sekitar sepuluh juta, tujuh juta ia habiskan untuk membayar sewa apartemen. Artinya, Wang Jiayi hanya menyisakan tiga juta untuk kebutuhan sehari-hari.
Mendengar penjelasan Wang Jiayi, Yang Chen sedikit kebingungan. Pendapatan bulanan lima belas juta sebenarnya sudah lumayan. Mengirimkan lima juta ke orang tua menandakan ia anak yang berbakti. Tapi menghabiskan tujuh juta hanya untuk sewa apartemen benar-benar sulit dipahami. Siapa yang rela membayar sewa semahal itu jika setiap bulan hanya menyisakan sepuluh juta? Menurut Wang Jiayi, ia tak ingin menyiksa diri, ingin hidup dengan nyaman, apalagi apartemen yang sekarang ia tinggali punya balkon besar yang langsung menghadap pemandangan menara permata setiap malam.
Itu berarti apartemennya berada di sekitar menara permata, tak heran bila sewanya mahal. Sederhananya, Wang Jiayi menjalani gaya hidup “miskin elegan”. Penghasilannya sebenarnya tak cukup untuk menunjang gaya hidup seperti itu, tapi ia tetap memaksakan diri. Namun, dibandingkan dengan Zhao Feifei, Wang Jiayi masih jauh lebih baik.
Zhao Feifei mendambakan hidup enak, tapi tak punya kemampuan dan enggan berusaha. Ia hanya ingin mengandalkan laki-laki, bahkan menutupi keinginannya itu. Sementara Wang Jiayi tetap berusaha, biarpun hidupnya terkesan mewah tapi pas-pasan. Apapun caranya, ia berani bertanggung jawab dan tidak ada yang bisa menyalahkannya.
Yang Chen kemudian bertanya, “Jadi sekarang kamu ingin menikah supaya bisa resmi tinggal di Kota Laut?”
Wang Jiayi menenggak segelas anggur merah, lalu tersenyum, “Apa aku terdengar payah?”
Yang Chen hanya tersenyum, tak menjawab.
Wang Jiayi menuang anggur lagi, menenggaknya, lalu melanjutkan, “Aku sudah dua puluh delapan tahun. Semangatku waktu pertama kali datang ke Kota Laut sudah lama hilang. Jujur saja, aku sudah dikikis oleh kerasnya hidup, sudah belajar menerima nasib. Kamu benar, aku memang tak punya kemampuan, jadi hanya bisa berharap bisa tinggal di sini lewat pernikahan. Kota ini sangat indah, penuh gemerlap, jauh lebih baik dari desa kelahiranku yang gelap gulita di malam hari. Kamu jadi meremehkanku, kan?”
Wang Jiayi terlihat mulai mabuk, bahasa tubuhnya jadi lebih ekspresif.
Yang Chen tersenyum dan berkata, “Menurutku, setiap orang berhak memperjuangkan hidup yang lebih baik. Kalau kemampuan diri terbatas, berharap pada pasangan itu bukan hal yang salah. Tapi kalau kamu sudah mengandalkan laki-laki, lalu di luar malah mengaku sebagai perempuan mandiri, aku pribadi tidak setuju. Mengandalkan laki-laki bukan sesuatu yang memalukan, di mana pun di dunia ini orang tidak akan menganggap itu aib. Tapi kalau sudah mengandalkan, masih ingin berpura-pura mandiri, itu yang salah.”
Wang Jiayi menghabiskan anggurnya, Yang Chen memberi isyarat pada pelayan untuk membawa anggur lagi.
“Ayo, minum!” ucap Wang Jiayi sambil tersenyum.
Yang Chen mengangguk, mengangkat gelas dan meneguknya bersama.
Pelayan membuka sebotol anggur lagi dan menuangkan untuk mereka berdua.
Pipi Wang Jiayi mulai memerah, jelas ia mulai mabuk.
“Kamu benar, munafik itu salah. Tapi aku juga tidak akan membiarkan orang mempermainkanku. Tahu tidak kenapa tadi aku sempat punya prasangka buruk sama kamu waktu naik mobil?” tanya Wang Jiayi.
Yang Chen menggeleng.
Wang Jiayi pun bercerita. Sebenarnya malam ini ia ada dua janji kencan perjodohan. Satu jam lima sore, satu lagi jam delapan malam. Dengan pria pertama, mereka makan malam lalu nonton film. Awalnya semua berjalan baik, tapi saat di bioskop yang gelap, pria itu tiba-tiba ingin menciumnya. Wang Jiayi jelas menolak, langsung menampar pria itu dan pergi. Pria itu malah mengejarnya sambil memaki, merasa sudah dibelikan makan dan nonton, masa tidak boleh minta cium? Wang Jiayi merasa mereka baru berkenalan lewat biro jodoh, belum pacaran, baru pertemuan pertama sudah mau cium, bagaimana kalau pertemuan berikutnya malah diajak tidur?
Akhirnya, ia langsung membagi biaya makan dan nonton, lalu dengan kesal naik taksi ke Hotel Peninsula untuk janji kencan kedua.
Karena masih kesal dengan pria sebelumnya, ia pun membawa perasaan itu ke pertemuan dengan Yang Chen, apalagi setelah mendengar percakapan antara Yang Chen dan Zhao Feifei, ia tambah yakin bahwa lelaki memang tidak ada yang bisa dipercaya.
Selesai bercerita, Yang Chen menggoda, “Menurutku, kamu memang tidak suka pria itu. Kalau suka, pasti tidak akan menolak dicium.”
Wang Jiayi langsung membantah, “Mana mungkin! Itu tidak ada hubungannya dengan suka atau tidak. Walau aku suka, kalau baru pertama kali bertemu, mana mungkin aku biarkan dia menciumku? Kalau begitu, pertemuan kedua nanti malah bisa diajak tidur. Gila saja.”
“Ciuman atau tidur bersama itu tidak ada hubungannya dengan sudah berapa kali bertemu. Semuanya tergantung suasana dan perasaan. Kalau memang suasananya pas, perasaannya dapat, pertemuan pertama pun bisa saja terjadi,” jawab Yang Chen sambil tersenyum.
Wang Jiayi mencibir, “Aku tetap tidak percaya. Mana ada orang yang baru pertama kali ketemu langsung mau dicium, bahkan tidur bersama?”
Yang Chen tersenyum, berdiri, lalu berjalan ke hadapan Wang Jiayi. Ia dengan lembut memegang dagu Wang Jiayi, menatap mata Wang Jiayi lekat-lekat. Wajah Wang Jiayi seketika memerah.
Yang Chen membungkuk dan menciumnya. Wang Jiayi langsung merasa seperti ada aliran listrik menyapu seluruh tubuhnya, hingga ia membeku di tempat.
Setelah itu, Yang Chen berdiri tegak, tersenyum, dan berkata, “Kamu lanjutkan saja makanmu, tagihannya biar aku yang urus besok pagi. Aku agak pusing, mau istirahat di kamar 1208.”
Selesai bicara, Yang Chen berjalan pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala. Efek anggur merah memang terasa, pikirannya mulai sedikit melayang.
Wang Jiayi duduk terpaku seperti patung, pikirannya kacau balau.
“Tadi dia benar-benar menciumku, ya? Kenapa aku tidak melawan? Malu sekali, baru pertama ketemu sudah dicium. Tapi dia itu brengsek, kan? Dia bahkan pernah memaksaku memanggilnya ayah, dendam sebesar itu masa bisa lupa? Aneh sekali, kenapa aku tidak menolak? Seharusnya tidak begini. Sekarang dia naik ke kamar, harusnya aku bagaimana? Apa aku harus menyusul? Apa itu tidak terlalu berlebihan? Aduh, memalukan sekali, kenapa aku kepikiran mau ke kamarnya? Baru pertama ketemu sudah mau tidur bareng, apa aku tidak punya harga diri? Tapi dia memang tampan sekali, perasaanku juga sangat nyaman, sungguh aku ingin ke kamarnya. Harus bagaimana?”
Dalam waktu singkat, ratusan pertanyaan berkecamuk di benaknya. Ia benar-benar bimbang, harus ke kamar 1208 atau tidak.
Seperti yang dikatakan Yang Chen tadi, soal ciuman atau tidur bersama bukan soal sudah berapa kali bertemu, tapi soal suasana dan perasaan. Kalau semua faktor mendukung, semuanya bisa terjadi secara alami. Kini Wang Jiayi pun mulai percaya ucapan itu.
Yang Chen merasa kepalanya berat, jelas tidak mungkin menyetir pulang. Ia memang sudah memesan kamar hotel, jadi memutuskan untuk bermalam di sana. Setelah mandi, ia langsung berbaring di tempat tidur, siap untuk tidur.
Beberapa saat kemudian, bel pintu berbunyi. Yang Chen buru-buru bangun dan membuka pintu, tiba-tiba seseorang berlari masuk, langsung memeluk dan menciumnya...