Bab 74 Suasana Sudah Dibangun Sampai di Sini
Aroma Wukong merasa suasana di komentar mulai tidak beres, segera berkata, “Aduh, Kak Asap, kalian jangan begitu dong. Aku susah payah dapat penggemar baru, jangan bikin dia takut, ya. Kakak Bintang, jangan diambil hati, mereka memang suka bercanda. Aku sudah dapat iringan lagu 'Si Pemberani Kesepian', sekarang akan aku nyanyikan untukmu.”
Asap kala Sepi: “Memang cuma anak-anak TK yang suka lagu itu, aku kan nggak salah ngomong.”
Sial, masih saja ngoceh nggak selesai-selesai.
Bintang Abadi: “Aku memang suka lagu anak-anak, kalau kalian nggak suka, silakan keluar. Malam ini dia cuma akan nyanyiin lagu itu.”
Asap kala Sepi: “Sialan, cuma kasih uang sarapan aja udah songong banget? Tadinya aku malas ribut sama kamu, tapi kalau kamu nggak tahu diri gini, aku juga nggak akan kasih kamu muka. Wukong, jangan nyanyi lagu Si Pemberani Kesepian, aku akan kasih super roket satu.”
Beberapa detik kemudian, layar menampilkan Asap kala Sepi mengirim satu super roket.
Aroma Wukong langsung menutup mulutnya karena saking senangnya, kemudian berdiri dan memberi hormat sambil mengucapkan terima kasih.
“Makasih Kak Asap, sayang kamu!”
Komentar pun berdatangan.
“Sial! Kak Asap keren banget!”
“Bos Asap emang berwibawa!”
“Nggak heran dia nomor satu di ranking, langsung royal begitu.”
“Bos Asap, kamu gitu tuh agak keterlaluan. Sama anak TK aja nggak dikasih ampun, kejam!”
...
Asap kala Sepi: “Tadinya aku nggak mau ribut, tapi dia benar-benar nggak tahu diri. Masuk sini nggak permisi, cuma kasih uang sarapan udah minta lagu, sama sekali nggak menghargai aku. Nak, cepat keluar sana. Wukong nggak akan nyanyi lagu Si Pemberani Kesepian untukmu.”
Aroma Wukong juga nggak berani menyinggung bos ranking satu, tapi dia juga nggak mau kehilangan penggemar baru yang sudah mau menghadiahinya roket.
Jadi, dia segera mengirim pesan pribadi ke Yang Chen.
“Kakak, terima kasih roketnya. Jangan diambil hati ya, lebih baik kamu datang siang, dia nggak ada kalau siang, aku bisa nyanyikan untukmu.”
Ini beneran kayak suami orang keluar kerja siang-siang, Yang Chen datang diam-diam ke rumah wanita idaman.
Suasana sudah sampai di sini, kalau menurut cerita novel, saatnya tokoh utama unjuk gigi dan membuat semuanya ternganga.
Bintang Abadi: “Minggir semua, aku mau pamer.”
Lalu, di ruang siaran langsung, mulailah turun hujan super roket.
Bintang Abadi menghadiahkan super roket pada penyiar: x1, x2, x3...
Penyiar menutup mulutnya karena haru, melihat angka yang terus naik, air matanya pun menetes saking bahagianya.
Komentar pun meledak.
“Sial! Anak kecil sekarang kaya banget ya?”
“Ini anak TK? Jelas-jelas bapaknya anak-anak.”
“Wukong, kamu kaya mendadak! Ketemu sultan, nih.”
“Bos Asap, kayaknya tahta ranking satumu terancam.”
...
Begitu 50 super roket selesai tampil, penyiar menangis haru sambil membungkuk berterima kasih pada Yang Chen.
“Makasih Kak Bintang. Aku sekarang langsung nyanyiin lagu ‘Si Pemberani Kesepian’ buat kamu.”
Tadinya dia bilang harus tunggu Bos Asap pergi, sekarang dia pun sudah tak peduli lagi.
Satu super roket dua juta rupiah, dalam sekali kirim sudah dua ratus juta.
Kalau penyiar belum gabung agensi, bisa dapat setengahnya.
Jadi wajar saja kenapa dia sampai sebegitu terharunya.
Komentar pun bermunculan.
“Astaga! Dua ratus juta langsung dihabiskan begitu saja.”
“Setahun aku belum tentu dapat segitu, dia cuma butuh beberapa detik.”
“Kak Bintang, terimalah aku jadi adikmu. Bayar seratus juta setahun pun aku mau, kerja apa saja.”
...
Bagi orang lain, dua ratus juta sudah luar biasa.
Tapi uang virtual segitu dibanding total hadiah satu miliar uang virtual dari sistem, itu tidak ada apa-apanya.
Suasana sudah memanas seperti ini, kalau lanjut adu dengan Asap Kecil itu, semakin banyak hadiah dikirim, semakin banyak uang yang bisa dia cairkan.
Bintang Abadi: “Mau adu sama aku? Kamu mampu nggak, Asap Kecil?”
Asap kala Sepi: “Sial! Aku akui kamu memang lebih kaya dari kebanyakan orang, tapi dua ratus juta saja sudah berani sombong? Total aku sudah kasih Wukong lima ratus juta rupiah. Mengerti nggak? Aku bilang hari ini Wukong nggak boleh nyanyi Si Pemberani Kesepian, dia pun nggak berani!”
Penyiar: “Kak Asap, jangan begitu dong. Aku cuma penyiar kecil, siaran lebih dari sepuluh jam sehari, hidupku dari sini. Kak Bintang sudah kasih dua ratus juta, kalau aku nggak nyanyi Si Pemberani Kesepian buat dia, siapa lagi yang bakal kasih hadiah lain kali?”
Penonton lain juga ikut menambah panas suasana lewat komentar.
“Bos Asap, aku setuju sama Wukong. Kalau kamu memang jago, kasih hadiah lebih banyak lagi biar dia nggak berani minta apa-apa. Kalau nggak, dengarkan saja lagunya.”
“Wukong hidupnya dari sini, kamu malah mau matikan rezekinya.”
“Bos Asap, dua ratus juta apa artinya buat kamu? Adu saja!”
...
Penyiar dengan pura-pura menolak, “Aduh, jangan begitu kawan-kawan, Kak Asap sudah kasih banyak hadiah, jangan paksa dia kasih lebih dari dua ratus juta dalam sekali waktu.”
Penolakan penyiar seperti racun bagi para sultan hadiah, Asap kala Sepi langsung membalas, “Dua ratus juta? Aku nggak anggap itu apa-apa.”
Lalu, Asap kala Sepi langsung mengirim seratus super roket sekaligus.
“Wow, Bos Asap keren!”
“Dua ratus juta langsung dilempar gitu saja?”
“Kalian kira Bos Asap sama Wukong pernah ketemuan di luar nggak?”
“Bos Asap sudah kasih lima ratus juta ke Wukong, Wukong pasti pernah ketemuan diam-diam dong.”
“Tanpa ada hubungan, mana mau Bos Asap kasih lima ratus juta? Kebanyakan uang kali ya.”
...
Penyiar kembali menangis haru mengucapkan terima kasih pada Asap kala Sepi.
“Makasih Kak Asap, sayang kamu!”
Asap kala Sepi sangat menikmati situasi ini, bahkan menandai Bintang Abadi: “Nak, pulanglah minta uang ke bapak buat lanjut kasih hadiah. Asapmu ini cuma kurang satu—uang.”
Penyiar sekarang benar-benar tidak berani bicara, kedua belah pihak adalah penggemar yang tidak bisa ia sakiti.
Lagi pula, dia pun tidak mau menghentikan mereka, semakin banyak hadiah, semakin besar bagian yang ia dapat.
Bintang Abadi: “Pertemuan malam ini adalah takdir, aku traktir kalian hujan super roket. Penyiar, setelah hujan super roket selesai, tolong kabari aku lewat pesan pribadi.”
Kemudian, sistem platform menampilkan Bintang Abadi mengirim super roket: x1, x2, x3...x100, x120...
Penyiar begitu terharu sampai menghapus air mata sambil menatap nama “Bintang Abadi”.
Saat itu juga, dia berharap bisa langsung bertemu dengan Kak Bintang di dunia nyata.
Komentar pun bermunculan.
“Sial! Anak sultan mana nih yang lagi blusukan?”
“Astaga, sudah dua ratus, masih lanjut!”
“Aku benar-benar salut, banyak uang tapi buat apa? Hadiah begini apa gunanya?”
“Tiga ratus! Masih lanjut! Gila, dia mau kasih berapa banyak sih?”
“Lima ratus kah?”
“Lima ratus! Masih lanjut! Aku benar-benar nggak habis pikir, sekaya itu?”
“Penyiar, kenapa nggak langsung jadian aja sih? Dapat cowok kaya begini, hidupmu pasti enak, nggak perlu siaran belasan jam lagi.”
“Sial! Delapan ratus! Masih lanjut!”
“Ini mau sampai seribu nih?”
...
Saat itu, penyiar sudah tak kuat menahan emosi.
Ini bukan lagi hujan super roket, ini benar-benar cinta.
Penyiar merasa harus menunjukkan kalau dia tahu diri, tak boleh membiarkan Kak Bintang terus-menerus memberi hadiah.
Penyiar segera mengirim pesan pribadi ke Yang Chen.
“Kak Chen, cukup, cukup, jangan dikirim lagi. Besok ada waktu? Aku libur sehari, traktir kamu makan.”
Tahu diri, memang.
Namun, bagi Yang Chen, mengirim hadiah ini tidak ada hubungannya dengan penyiar, dia hanya mencari cara untuk mencairkan uang saja.
Suasana sudah sekencang ini, mana bisa berhenti sekarang?
Ketika angka di layar menunjukkan x1000, hujan super roket akhirnya berhenti.
Saat itu, Yang Chen membalas pada penyiar.
“Nggak sempat, besok harus ke rumah tante, mungkin pulangnya malam.”
Aroma Wukong: “Nggak apa-apa, besok waktuku semua buat kamu. Kapanpun kamu ada waktu, kabari aja.”
Benar-benar tahu diri.
Bintang Abadi: “Nggak perlu, aku cuma iseng, nggak ada hubungannya denganmu.”
Aroma Wukong: “...”
Ini tipe sultan yang bagaimana?
Seribu super roket sekali jalan, malah bilang nggak ada hubungannya sama penyiar?
Memangnya uangnya kebanyakan, sampai bingung mau diapain?
Sengaja datang buat bagi-bagi rezeki?