Bab 42: Noda Seumur Hidup
Halaman (1/3)
“Baiklah. Mulai sekarang, kau jalani hidupmu dan aku menjalani hidupku. Selama tidak merusak masa depan keluarga Song, jangan ada yang mencampuri urusan pribadi satu sama lain. Di luar, aku akan tetap berperan sebagai istri Tuan Song yang berbudi luhur. Namun, syaratnya, jangan bersikap keterlaluan. Kurasa kau sendiri sudah jijik dengan kamar ini. Rumah keluarga Song punya banyak kamar, carilah kamar lain untuk ditempati. Hari ini juga pindahlah.”
Membayangkan Zhao Zhilan pernah tidur dengan pria lain di kamar ini membuat Song Shen merasa mual. Kalaupun Zhao Zhilan tidak mengusirnya, dia tidak akan mau tinggal di kamar tersebut.
Song Shen membanting pintu lalu pergi.
Ketika melihat Song Shen keluar, Song Ling berlari menghampirinya dan memohon, “Ayah, Ayah tidak boleh menceraikan Ibu. Kumohon, Ayah.”
Song Shen sedang kalut. Dia mendorong Song Ling dengan kasar hingga gadis itu terjatuh. Telapak tangannya terasa perih membara, tetapi dia masih berusaha bangkit untuk memohon kepada Song Shen.
Song Nan berkata, “A Ling, Ayah sedang marah. Jangan pergi lagi. Masuklah dan lihat keadaan Ibu.”
“Benar... Ibu...”
Song Ling berlari sempoyongan ke dalam kamar.
Melihat Zhao Zhilan baik-baik saja, saraf Song Ling yang sejak tadi menegang akhirnya mengendur. Dia pun menangis.
“Ibu.”
Zhao Zhilan mengulurkan tangan dan memeluk Song Ling. “Anak baik, Ibu tidak apa-apa. Jangan menangis.”
Song Ling bertanya, “Ayah benar-benar ingin menceraikan Ibu?”
“Tidak akan bercerai. Kalian tenang saja. Ayah hanya sedang emosi.”
“Ibu, mengapa Ibu mengkhianati Ayah?” Song Nan, yang sejak tadi diam, tiba-tiba bertanya.
Wajah Zhao Zhilan tampak sangat buruk. Dia menatap Song Nan dengan terkejut.
Song Nan sangat mengenal tatapan itu. Tatapan tersebut menunjukkan kekecewaan.
Zhao Zhilan mengira, apa pun yang terjadi, anak-anaknya akan selalu berdiri di pihaknya.
“Nan, ada beberapa hal yang belum pernah Ibu ceritakan kepada kalian. Ayah kalian sudah memiliki seseorang di luar sejak lama.” Air mata Zhao Zhilan menggenang, lalu mengalir. Tangisnya terdengar begitu memilukan.
Song Ling membela Zhao Zhilan. “Bagaimana Ayah bisa berbuat begitu?”
“Namun, sekalipun begitu, Ibu tetap tidak boleh melakukan hal ini. Ibu bisa saja menceraikan Ayah.”
Jelas bahwa Song Nan memiliki pemikirannya sendiri.
Zhao Zhilan menatap Song Nan dengan hati terluka. “Nan, apakah kau menyalahkan Ibu?”
Song Nan mengatupkan bibir dan tidak menjawab.
“Aku tidak menyalahkan Ibu. Aku hanya merasa cara Ibu bertindak tidak tepat.”
Benar saja, putranya tidak sepemikiran dengannya seperti putrinya.
Dia mengalihkan persoalan itu dan berkata dengan penuh kepedihan, “Ayah kalian sudah memiliki orang lain sejak lama. Selama bertahun-tahun, kalau bukan demi kalian dan A Ling, Ibu pasti sudah lama menceraikannya. Nan, demi kalian, Ibu telah mengorbankan kebahagiaan seumur hidup! Ibu melakukan semua ini juga demi kalian, bukan? Ibu ingin kalian memiliki keluarga yang utuh. Selama bertahun-tahun, semua penderitaan yang Ibu alami tidak pernah Ibu ceritakan kepada kalian.”
Lapisan dingin di wajah Song Nan perlahan mencair. Matanya memerah.
“Maafkan aku, Ibu. Ibu seharusnya bisa memberitahukan kebenarannya kepada kami. Ayahlah yang bersalah lebih dahulu. Aku dan A Ling tidak akan membiarkan Ibu berkorban demi kebahagiaan kami.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Senyum tipis yang nyaris tak terlihat melintas di mata Zhao Zhilan.
“Nan, inilah keagungan kasih seorang ibu. Kau laki-laki, jadi kau tidak akan mengerti. Demi kalian berdua, Ibu bahkan rela mati.”
Song Ling menelungkup dalam pelukan Zhao Zhilan dan menangis tersedu-sedu.
“Ingatlah, jangan menentang Song Shen hanya karena Ibu. Masalah antara Ibu dan Ayah tidak ada hubungannya dengan kalian. Di hadapannya, kalian harus tetap menjadi putra dan putri yang penurut serta bijaksana seperti sebelumnya. Jangan sampai dia merasa kalian memilih Ibu dan berpaling darinya. Kalau tidak, seluruh harta keluarga Song mungkin akan diwariskan kepada Song Anyu.”
Begitu mendengar nama Song Anyu, kebencian kembali muncul di mata Song Ling yang sembap.
“Ibu, tenang saja. Aku dan Kakak tahu apa yang harus dilakukan.”
Zhao Zhilan mengelus rambut Song Ling dengan lembut. Dengan tatapan puas yang jarang terlihat, dia memandangi kedua anaknya.
“Kalian berdua adalah anak-anak baik Ibu. Ibu hanya memiliki kalian. A Ling, Nan, jika Ibu dan Ayah kalian berpisah, apakah kalian akan memilih Ibu?”
Song Ling menjawab dengan tegas, “Tentu saja.”
Song Nan juga berkata, “Ya.”
Siang itu, Zhao Zhilan tidak muncul di meja makan.
Dia menyiapkan dapur kecilnya sendiri dan tidak lagi makan bersama Song Shen. Selain dalam keadaan yang benar-benar diperlukan, mereka juga tidak saling berhadapan.
Beberapa hari berlalu, dan badai itu perlahan mereda tanpa suara.
Keluarga Song kembali tenang seperti sediakala, bahkan lebih sunyi daripada sebelumnya.
Anyu dapat merasakan bahwa bahkan Song Ling pun tidak lagi datang untuk mengusiknya.
Yu Yan bertanya, “Bagaimana kabar ayah biologismu? Kepalanya sudah dipasangi topi hijau sebesar itu, tetapi dia masih belum bercerai?”
Anyu langsung menjawab, “Zhao Zhilan seharusnya terikat kepentingan dengan Song Shen. Awalnya Song Shen mengajukan perceraian, tetapi akhirnya urusan itu tidak berlanjut. Sekarang mereka sedang bertarung di antara mereka sendiri. Kurasa Zhao Zhilan memegang kelemahan Song Shen, atau memiliki kepentingan yang jauh lebih besar.”
Anyu menatap Yu Yan.
“Kepentingan itu seharusnya adalah dirimu. Selama ini keluarga Song ingin menikahkan Song Ling denganmu. Kalau mereka bercerai sekarang dan masalahnya menjadi buah bibir seluruh kota, siapa yang masih mau menjalin hubungan besan dengannya?”
Yu Yan memasang wajah jijik, seolah-olah baru saja menelan seekor lalat.
Anyu melipat pesawat kertas dengan rapi, lalu melemparkannya ke kejauhan.
“Sekarang kau bisa menyerahkan barang itu kepada wartawan.”
Yu Yan mengangguk. “Siap, Yang Mulia Ratu. Akan segera kulaksanakan. Kalau sudah selesai, apakah ada hadiah untukku?”
Anyu spontan menjawab, “Bukankah belum lama ini aku mentraktirmu makan mi beras?”
“Itu sudah berapa lama berlalu? Yang Mulia, kalau ingin kudanya berlari kencang, kau harus memberinya makan sampai kenyang. Aku dan ibu mertuamu sangat cocok, kami sama-sama merasa mi beras di tempat itu sangat lezat.”
“Baiklah.”
Anyu mengabaikan sikapnya yang sudah menganggap diri sebagai bagian dari keluarga itu.
Keesokan harinya, begitu Song Ling tiba di kelas, dia langsung menyadari bahwa tatapan teman-temannya kepadanya terasa aneh. Tatapan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
Sungguh membingungkan.
Dia memutar bola mata, lalu kembali ke tempat duduknya.
Dia melihat Qian Jingye juga menatapnya dengan ekspresi seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu-ragu.
Dengan tidak sabar, Song Ling berkata, “Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan saja.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Qian Jingye bertanya berputar-putar, “Song Ling, kau belum melihat ponselmu?”
“Belum. Memangnya ada apa?”
“Lihat saja sendiri.”
Qian Jingye meletakkan ponselnya di atas meja Song Ling.
Song Ling hanya melirik sekilas. Begitu melihat judul berita itu, matanya langsung membelalak.
“Ini... dari mana asalnya?”
Qian Jingye merundukkan lehernya. “Aku juga tidak tahu. Sejak pagi tadi, berita-berita ini sudah muncul di ponselku.”
#Orang tua murid berselingkuh dengan wali kelas#
#Istri kaya raya keluarga terpandang bermesraan dengan wali kelas anaknya di rumah#
Berita itu menduduki puncak pencarian terpopuler di berbagai media utama. Ada foto dan video. Beberapa adegan yang terlalu vulgar memang disensor, tetapi sosok-sosok di dalamnya masih dapat dikenali.
Wajah Song Ling seketika pucat pasi. Giginya bergemeletuk. Kini dia akhirnya memahami mengapa semua orang menatapnya dengan tatapan seperti itu.
Melihat ekspresi Song Ling, Qian Jingye menduga berita tersebut benar.
“Song Ling, apakah ibumu benar-benar dengan Li...”
“Tutup mulutmu!” teriak Song Ling, lalu berlari keluar.
Xiang Miaopu berdecak, “Pantas saja Li Jiajun tiba-tiba pergi. Setelah melakukan hal yang begitu memalukan, apakah sekolah masih bisa mempertahankannya?”
Su Cheng berkata, “Ini benar-benar keterlaluan. Ibu Song Ling kelihatannya bukan orang seperti itu.”
Xiang Miaopu menyahut, “Kita bisa mengenali wajah seseorang, tetapi tidak hatinya. Anak lugu dan bodoh sepertimu, begitu masuk ke masyarakat, pasti akan menjadi orang yang mudah ditipu.”
Anyu sangat puas melihat reaksi Song Ling.
Dia benar-benar ingin segera pulang untuk melihat keributan seperti apa yang sedang terjadi di rumah.
Song Shen meminta tim humas perusahaan menangani berita negatif itu, tetapi uang yang dikeluarkan seolah-olah dibuang ke sungai. Sama sekali tidak membawa hasil.
Ketika Song Ling berlari pulang, Song Shen sedang terlibat perkelahian hebat dengan Zhao Zhilan.
Zhao Zhilan juga telah melihat berita tentang dirinya. Dia sadar bahwa hidupnya sudah hancur. Sekalipun Song Shen tidak menceraikannya, sekalipun dia berhasil mendapatkan seluruh harta Song Shen, noda itu akan mengikutinya seumur hidup.
Halaman (3/3)