Bab 75: Sama seperti dirinya dulu, ia berjuang keras dalam keputusasaan tanpa harapan
Alisya langsung merasakan detak jantungnya melonjak. Sebelum Ibu Mu sempat membukanya, ia buru-buru menggenggam tangan sang ibu, “Bu, saya…”
Ibu Mu menoleh padanya, “Ada apa?”
“Tiba-tiba aku teringat Mu Qing bilang… hari ini dia akan pulang agak malam dan akan membawakan hadiah untuk Ibu.” Sambil berbicara, Alisya perlahan mengambil hasil pemeriksaan dari tangan sang ibu.
Ibu Mu tampaknya tidak menyadari gerak-geriknya itu, tersenyum, “Anak itu memang terlalu pengertian. Hanya pergi rapat sebentar saja, masih sempat memikirkan membawakan hadiah untukku.”
Alisya memeluk lengan sang ibu, “Mu Qing memang anak yang sangat perhatian.”
Niatnya sekadar menimpali, namun tak disangka, ucapan itu justru membuat senyuman di wajah Ibu Mu perlahan memudar, berganti raut wajah yang berat dan penuh kekhawatiran.
Kebanyakan orang tua tentu berharap anak-anak mereka bisa hidup rukun dan akrab tanpa jarak.
Namun Ibu Mu, setiap kali membicarakan kedekatan itu, justru selalu merasa berat hati.
Setelah Ibu Mu pergi, Alisya langsung merobek hasil pemeriksaan yang dipegangnya menjadi serpihan kecil dan membuangnya ke keranjang sampah.
Kemudian ia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Mu Qing, memintanya memilihkan perhiasan yang cocok dari toko perhiasan untuk Ibu Mu sebagai hadiah.
Mu Qing membalas pesan dengan sangat cepat. Hampir begitu pesan dikirim, balasannya langsung masuk dengan satu kata, “Baik.”
Alisya bisa membayangkan betapa tanpa ragu Mu Qing membalas pesannya. Ketika ia bertemu Mu Qing, itulah masa paling matang dalam hidup pria itu.
Ia sudah melihat banyak hal dalam hidup, sehingga tak lagi mudah gelisah, memberi rasa tenang bagi orang sekitarnya.
Namun Alisya samar-samar tahu, ketenangan dan keanggunan Mu Qing hari ini adalah hasil dari pengorbanan seorang gadis yang menukar masa muda dan hidupnya.
Tapi tentang hal itu, mereka berdua sama-sama memilih diam tanpa mengungkitnya.
“Nona Mu, ikan sudah terpancing.” Alisya menerima sebuah pesan, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Ketika Mu Qing pulang, ia menyerahkan perhiasan yang dibelinya kepada Ibu Mu. Namun Ibu Mu tampak sedikit murung.
“Ibu, ada apa? Tidak enak badan?” tanya Mu Qing.
Ibu Mu menatapnya dengan berat, menarik napas dalam, “Mu Qing, jujurlah pada Ibu, apakah ada sesuatu yang tidak beres dengan kesehatan Angge?”
Kelopak mata Mu Qing berkedut, ia menerima segelas air dari pelayan, “Bu, jangan berpikir yang aneh-aneh. Angge masih muda, mana mungkin ada penyakit serius…”
Ibu Mu berkata, “Hari ini dia pergi ke rumah sakit sendirian, lalu terlihat melamun sambil memegang hasil pemeriksaan. Ketika Ibu ingin melihat, dia sengaja menyembunyikannya. Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa harus menutupi dari Ibu?”
Mu Qing terus menenangkan sang Ibu dengan kata-kata lembut, sementara matanya melirik ke arah lantai atas.
Setelah berhasil menenangkan Ibu Mu, barulah Mu Qing mengetuk pintu kamar Alisya.
Saat itu Alisya sedang menelepon. Melihat Mu Qing, ia segera mengakhiri percakapan dengan beberapa kata singkat.
“Hasil pemeriksaan hari ini bagaimana?” tanya Mu Qing langsung pada inti.
Alisya tersenyum tipis. Ia tahu, perkara ini memang sulit untuk benar-benar ditutupi. Ia pun merasa menyesal telah lengah, “Hanya sedikit anemia, kadar gula darah rendah, tidak masalah besar.”
Tatapan Mu Qing tak lepas sedikit pun darinya. “Angge, aku sebenarnya bisa langsung menghubungi dokter utama yang menangani kamu.”
Sebenarnya, hanya dengan satu telepon, ia bisa mengetahui secara rinci semua pemeriksaan yang dijalani Alisya hari ini.
Namun ia memilih tidak melakukannya, melainkan menunggu penjelasan langsung dari Alisya, sebagai bentuk penghormatan.
Alisya memahami maksud di balik kata-katanya. Namun ia hanya bisa menghela napas lirih, “Dokter mencurigai gagal jantung.”
Pupil mata Mu Qing langsung mengecil tajam, “Apa?”
Alisya menggigit bibir, “Belum pasti, hasil pastinya masih harus menunggu.”
Nada bicaranya tenang, seolah-olah yang sakit parah itu bukan dirinya.
Melihat wajah Mu Qing yang tiba-tiba pucat, Alisya berkata, “Mu Qing, sebenarnya… baik kamu maupun aku sudah tahu, saat dulu aku bisa selamat, itu hanyalah keberuntungan yang dipinjamkan.”
Dulu ia hanya lebih beruntung dari Mu Angge, bisa bertahan setengah jam lebih lama. Kalau tidak, yang meninggal pasti bukan cuma satu orang.
Di pelupuk mata Mu Qing seakan kembali tergambar pemandangan tragis beberapa tahun silam, ketika ia datang terlambat. Ia menggenggam lengan Alisya erat-erat, “Tidak, besok kita lakukan pemeriksaan menyeluruh lagi. Semua pasti akan baik-baik saja.”
Berkali-kali ia mengulang kata-kata itu, entah untuk menenangkan dirinya sendiri atau Alisya.
Alisya menggeleng pelan, “Mu Qing, pemeriksaan tidak akan keliru. Selama bertahun-tahun di luar negeri, menurutmu kenapa tubuhku tidak pernah benar-benar pulih seperti orang normal? Semua ini sudah ada tandanya, bukan?”
Namun, mengetahui adalah satu hal, menerima adalah hal lain.
Mu Qing memeluknya erat, seolah ingin mempertahankan sesuatu, “Angge, aku akan menyelamatkanmu… Aku pasti bisa.”
Alisya diam saja dalam pelukannya, hatinya benar-benar tenang.
Ia memang tidak tahu persis apa yang pernah dialami Mu Angge, namun ia tahu, Mu Angge memiliki kakak dan ibu yang sangat mencintainya. Itu adalah hal yang sering membuat Alisya iri.
Berbeda dengan dirinya, yang tak lebih dari jiwa yang kesepian.
Tak punya keluarga, tak punya kekasih, tak punya anak, semuanya sudah tiada.
Meski dahulu, ia pernah memiliki segalanya.
Hari ketika Alisya mengambil hasil diagnosa pasti, langit cerah tanpa awan.
Ia tak pernah menyangka, di lorong rumah sakit, ia akan bertemu Lin Yushen yang kebetulan datang untuk mengambil obat bagi Chaolang.
Tatapan mereka bersirobok, dan keduanya berhenti melangkah.
“Kamu sakit?” tanya Lin Yushen.
Tidak tahu apa yang ia rasakan, Alisya memilih diam dan langsung masuk ke ruang dokter utama.
Lin Yushen yang tidak mendapat jawaban, secara alami ikut masuk.
Dokter yang melihat pria dengan aura kuat mengikutinya, menoleh dengan curiga, “Ini siapa?”
Alisya mengabaikan pertanyaan itu dan langsung bertanya, “Hasilnya sudah keluar?”
Dokter kembali menatap Alisya, lalu berkata pelan, “Maaf, Nona Mu, penyakit Anda sudah terkonfirmasi.”
Sudah pasti.
Jadi, tak ada lagi harapan sekecil apa pun.
Lin Yushen tidak benar-benar mengerti pembicaraan di antara mereka, namun ia cukup jeli. Dari ekspresi dokter yang penuh penyesalan, ia menangkap bahwa penyakit Alisya bukanlah sakit ringan.
“Penyakit apa?” Suaranya dalam dan berat, bukan bertanya pada Alisya, tetapi pada dokter.
Dokter terdiam sejenak, lalu menatap Alisya untuk meminta persetujuannya.
Jika ia tidak mengizinkan, sebagai seorang dokter, tentu ia tak akan sembarangan membeberkan kondisi pasien.
Namun Alisya hanya tersenyum tipis, mengangkat alis sedikit, lalu menatap Lin Yushen, “Gagal jantung. Penyakit yang tidak akan membuatku bertahan lama.”
Lin Yushen hanya melihat bibir Alisya bergerak, tubuhnya tiba-tiba mundur satu langkah, suara seraknya bergetar, “An, jangan mengutuki diri sendiri.”
Alisya tersenyum, melihat Lin Yushen yang sulit menerima kenyataan, wajahnya penuh kepedihan, entah mengapa hatinya justru merasakan kepuasan aneh, “Pak Lin, ada dokter di sini. Mana mungkin aku berdusta.”
Kebohongan seperti ini, toh mudah sekali terbongkar.
“Tak mungkin…” Lin Yushen bergumam lirih.
Dalam keheningan itu, dokter melihat mereka berdua. Ketika perawat datang memanggil untuk menangani pasien lain, dokter itu pun meninggalkan ruangan.
Alisya perlahan berdiri, tiba-tiba menggenggam tangan Lin Yushen dan menempatkannya di dada, bibirnya melengkung samar, entah tersenyum atau mengejek, “Tiga tahun lalu… di sini, seseorang menusukku dengan sangat dalam, darah mengucur deras… Saat itu aku pikir akan mati. Tapi siapa sangka, takdir justru membiarkanku hidup. Tapi jantung ini sudah terluka, dan bahkan dokter terbaik pun takkan mampu memulihkannya seperti semula.”
“Siapa? Siapa yang melakukannya? An, katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu? Kau tidak naik pesawat itu, kan? Ke mana kau pergi? Siapa yang menyakitimu? Bagaimana bisa kau berubah seperti ini? Katakan padaku… katakan!”
Lin Yushen mencengkeram bahu Alisya kuat-kuat, matanya merah membara.
Ia benar-benar tak sanggup menerima kenyataan ini. Tiga tahun menunggu, akhirnya ia bisa bertemu kembali dengannya, namun mengapa Alisya harus kembali pergi meninggalkannya?
Tubuh Alisya yang kini begitu rapuh tak lagi sanggup menahan tekanan sekecil apa pun. Bahunya terasa sakit dicengkeram, ia mengerutkan alis tipis, memandang pria itu yang tampak putus asa, lalu berkata pelan, “Lin Yushen, kamu percaya pada karma?”
Karma?
Siapa yang mendapat balasan karma? Dirinya? Benarkah…?
Lin Yushen tertegun, bahkan tenggorokannya terasa tercekat.
“Pak Lin terkenal bijak. Bolehkah aku bertanya, apakah manusia, sebelum mati, masih bisa merasakan sakit? Dia…”
“Cukup…” Lin Yushen memotong ucapannya dengan suara lirih. “Jangan lanjutkan.”
Alisya pun menurut, tak berkata lagi, lalu berbalik menuju pintu.
Namun Lin Yushen menahan lengannya, tatapan matanya dalam dan gelap, “An, aku akan mengurus rawat inap untukmu… tetaplah di rumah sakit untuk observasi. Aku akan mencari dokter terbaik, pasti… pasti ada jalan keluar. Jangan takut.”
Jangan takut?
Alisya tersenyum tipis, “Lin Yushen, aku tidak takut mati.”
Tiga tahun lalu, seharusnya ia sudah jadi mayat. Hanya saja, keberuntungan membuatnya hidup sampai kini.
Bagi seseorang yang telah kehilangan segalanya, dunia ini terlalu sedikit hal yang pantas dirindukan. Dan ia… sudah terlalu letih.
Andai saja ia tak merasa umur hidupnya tinggal sebentar, ia mungkin tak akan kembali ke kota ini.
Namun, bukankah daun yang gugur akhirnya kembali ke akar? Keluarga terdekatnya dimakamkan di sini, dan ia selalu ingin berkumpul bersama mereka.
Sekaligus… melihat, apakah orang-orang yang pernah menginjak harga dirinya, merusak kehidupan yang ia pertahankan mati-matian, benar-benar hidup bahagia.
Ia juga ingin sekali, untuk sekali saja, menjadi orang jahat.
Ingin melihat mereka semua menderita, merasakan sakit, berjuang tanpa harapan, dan menyaksikan semua harapan mereka runtuh di depan mata.
Lin Yushen menggenggam pergelangan tangannya erat, matanya penuh kepedihan, “An, dengarlah…”
Alisya hanya diam, tidak menolak, tidak melawan.
Ia sudah terlalu lelah untuk berjuang.