Bab 34: Janji
Mereka tidak berlama-lama di sana dan langsung masuk ke dalam taman.
Hari ini, jumlah orang di warung bakar tidak banyak, kebanyakan adalah siswa dari sekolah mereka sendiri. Bagaimanapun, ujian baru saja selesai hari ini!
Tempat ini menawarkan bakar-membakar mandiri. Semua bahan bisa diambil langsung ke pemilik, dan proses memanggang sepenuhnya dikerjakan sendiri.
Banyak siswa menyukai sensasi mengurus semuanya sendiri, membuat dan menikmati hasil kerja keras mereka. Apalagi kehidupan sekolah sehari-hari cukup padat dan penuh tekanan. Memanggang sendiri menjadi cara yang sangat baik untuk melepas stres.
"Ambil saja sesuka kalian, hari ini aku akan tunjukkan keahlian memanggangku," kata Zhen Yuan.
Mereka pun mulai bersiap bersama-sama. Tugas Ming Han dan Chen Li adalah membeli bir dan minuman. Mereka berjalan berdampingan di jalan setapak Taman Danau Timur, angin musim panas berhembus lembut, terasa sangat nyaman.
"Chen Li, menurutmu mereka salah paham nggak?" tanya Ming Han ragu. Karena saat pembagian tugas, Huang Ying langsung mengusulkan Ming Han dan Chen Li berpasangan. "Apa mereka mengira kita sudah jadian?"
"Kenapa, merasa namamu tercoreng?" Chen Li menanggapi dengan nada tak senang.
Ming Han berkata, "Kupikir aku cukup mengenalmu, mungkin karena aku lebih akrab daripada cowok-cowok lain. Jadi aku yakin kamu nggak suka tipe cowok sepertiku. Kalau nggak, mungkin aku sudah nembak kamu dari dulu!"
Itu memang kata hati Ming Han. Sejak kelas tujuh, mereka sudah duduk depan-belakang. Saat pertama mengenal Chen Li, dia benar-benar seperti es, tidak pernah sekalipun bicara dengan laki-laki lebih dulu.
Chen Li tertawa mendengar ucapan Ming Han, "Sekarang kan lagi tren bikin janji, kan? Kalau sebelum ujian masuk perguruan tinggi kamu belum pacaran, aku juga belum, gimana kalau kita jadian saja? Itu janji kita."
Ming Han tidak terlalu memikirkan ucapan itu, lagipula masih empat tahun lagi menuju ujian masuk perguruan tinggi! Dia mengira Chen Li hanya bercanda, "Oke, Chen Li. Kalau kamu lulus kuliah tapi belum ada yang mau, aku langsung nikahin kamu!"
Ming Han memang hanya bercanda. Tapi ada seseorang yang ternyata menganggap ucapan itu serius.
Saat mereka kembali setelah membeli minuman, mereka melihat sosok yang familiar—Lin Jingjing.
Begitu melihat Lin Jingjing, wajah Chen Li langsung berubah, tampak tidak senang.
Lin Jingjing tampak sangat gembira saat melihat Ming Han, "Ming Han, kamu juga di sini?"
"Iya, kelas kami lagi bakar-bakaran di sana."
Lin Jingjing berkata, "Boleh aku gabung? Tadinya cuma mau jalan-jalan di taman, nggak nyangka ketemu kamu, senang banget. Aku benar-benar harus berterima kasih padamu, aku merasa hasil ujianku kali ini sangat baik, belum pernah sebaik ini. Nanti kalau nilainya keluar, aku harus traktir guru Ming Han makan!"
Ketiganya pun berjalan kembali bersama-sama. Lin Jingjing sangat cerewet, bicara tanpa henti. Ming Han juga tipe yang suka ngobrol. Mereka berdua bisa membahas mulai dari nilai ujian, kehidupan, dunia hiburan, sampai sastra… Sampai akhirnya wajah Chen Li semakin kelam.
Setibanya di warung bakar, Chen Li langsung duduk di sebelah Huang Ying, mengambil sebatang sate dan menggigitnya dengan keras.
Ming Han baru saja hendak berkata, "Chen Li, kenapa duduk di sana?"
Lin Jingjing lalu duduk di tempat Chen Li sebelumnya, "Ming Han, duduklah di sampingku!"
Semua yang ada di sana saling bertukar pandang tanpa berkata-kata, lalu suasana pun menjadi ramai.
Lin Jingjing dan Chen Li benar-benar dua pribadi yang berbeda. Lin Jingjing modis, bahkan wajahnya tampak dengan riasan tipis. Ia bisa ngobrol dengan siapa saja, dalam waktu singkat sudah akrab dengan semua orang di sana.
Selain itu, dia juga bisa minum bir. Tak lama, dua botol bir langsung habis ditenggaknya.
Sementara Chen Li seperti seorang putri es, hanya diam menikmati makanan, menoleh sedikit mendengarkan obrolan yang lain. Sesekali matanya melirik ke arah Ming Han…