Bab 12: Delapan Besar!
Pertandingan kali ini tidak terlalu sulit, sebab kelas dua belas selain Yang Wanli memang tak punya pemain yang benar-benar kuat! Akhirnya, pertandingan berakhir dengan skor 56:42. Yuhang mencetak 23 poin, 4 assist, dan 2 rebound—statistik yang luar biasa.
Setelah itu, Minghan melihat Yuhang dengan rendah hati membanggakan diri, “Biasa saja, biasa saja! Ini hal yang normal, hahaha…”
Sekarang kelas tiga belas sudah masuk delapan besar, pencapaian yang sama dengan tahun lalu. Besok mereka akan bertanding memperebutkan tiket ke empat besar!
Usai pertandingan, Yuhang pergi mengikuti undian lawan. Para anggota tim berkumpul di kantin, makan bersama sambil ramai berdiskusi.
“Anak itu tadi sudah aku blokir habis-habisan, berani-beraninya main tipu gerakan di depanku, kira dirinya Allen Iverson apa?” kata salah satu teman.
“Minghan, umpanmu di kuarter kedua tadi keren banget, ada aura-aura Tim Duncan!” seru yang lain.
Dulu, Minghan sulit akrab dengan mereka. Sebab dulu hampir seluruh energinya dicurahkan untuk belajar. Ia selalu merasa teman-temannya membosankan, kerjaannya cuma main basket atau pergi ke arcade main game.
Tetapi sekarang, ia merasa teman-temannya itu juga lucu. Mereka terbuka, apa adanya, dan sangat jujur. Kadang memang sedikit berlebihan, tapi tetap saja menggemaskan!
Tak lama, Yuhang kembali dengan wajah penuh suka cita. “Dapat undian lawan kelas enam, bisa dilawan!”
Kelas enam, ya! Tahun lalu mereka juga masuk empat besar, tapi akhirnya sama-sama tersingkir oleh kelas tujuh.
“Tapi kelas enam jauh lebih kuat dari kelas dua belas. Di tim mereka ada penembak tiga angka sejati, akurasinya tinggi. Lalu pemain nomor tiga punya fisik dan teknik bagus, waktu melawan kelas tujuh tahun lalu saja hampir 20 poin dia cetak. Pokoknya pertandingan kali ini tidak gampang,” ujar Daxu.
Yuhang melambaikan tangan, “Sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan, peluangnya lima puluh lima puluh. Fokus utama nanti adalah bertahan cepat. Small forward mereka serangannya luar biasa, jangan sampai terus-terusan kena serangan balik.”
Semua mengangguk setuju.
Besok bakal jadi laga berat yang tidak akan mudah.
Minghan menggerutu tak puas, “Kalian kok serius banget, sampai-sampai aku jadi ikut tegang.”
Yuhang berkata, “Besok jangan lupa manfaatkan keunggulan tinggimu. Mereka bahkan tidak punya posisi center. Pemain tertinggi mereka pun paling-paling 175 cm. Kalau kita bisa kuasai rebound serangan, pertandingan bakal lebih mudah.”
Minghan menepuk bahu Yuhang, “Kalau menang, pinjamkan MP4-mu seminggu.”
“Minghan, kamu keterlaluan, itu penting banget buatku.” Yuhang menggigit bibir, “Kalau benar-benar menang, tiga hari saja, tidak boleh lebih.”
“Deal!”
Malamnya, saat pulang, Suyan memasakkan hidangan favorit Minghan, kaki babi bumbu kecap. Minghan makan sampai mulutnya berminyak.
Suyan tersenyum sambil menyodorkan tisu, “Xiaohan, akhir-akhir ini kamu masih main basket, kan?”
Minghan menjawab sambil mulut penuh, “Masih dong! Kenapa? Mau dilarang?”
“Anak ibu mau olahraga malah ibu senang, mana mungkin sempat melarang?”
Sejak kecil, apapun yang Minghan lakukan selalu didukung ibunya. Ia ingat waktu SD dulu, pernah berkelahi sampai dipanggil guru ke sekolah.
Ibunya mendengarkan cerita dari awal sampai akhir dengan wajah serius, “Jadi, Xiaohan, hasil akhirnya kamu yang menang, kan?”
Setelah Minghan mengangguk pasti, barulah Suyan puas, “Nah, begitu dong!”
Sampai Minghan kadang bertanya-tanya, jangan-jangan ia anak pungut?
Lebih parah lagi, waktu ujian masuk SMP, Minghan belajar mati-matian siang-malam.
Entah dari mana, Suyan malah membelikan satu set konsol game, memaksa anaknya menemani main Contra.
“Ma, aku belajar rajin begini bukannya bikin Mama senang?” tanya Minghan.
Suyan tersenyum lebar, “Anak Mama pinter sekolah tentu saja kebanggaan Mama, senang dong!”
Baru saja Minghan merasa puas, Suyan malah menimpali, “Tapi main gamenya kok payah banget sih! Mama terus yang harus nolongin…”
Astaga! Minghan sampai menepuk jidatnya!