Bab 91: Hati Goyah, Emosi Meledak
Delapan ratus ribu pengikut versus sepuluh juta pengikut. Yang satu adalah mantan anggota serikat yang diabaikan, satunya lagi adalah seleb internet populer yang sangat didukung oleh serikat. Sebenarnya, tanpa melihat pun semua orang sudah tahu hasil PK ini.
Nana Cantik bertanya, “Mbak, kalau kita cuma main PK begini saja, rasanya hambar sekali. Bagaimana kalau begini, kalau kamu menang, kamu boleh minta apapun dari aku. Tapi kalau aku menang, kamu cuma perlu melakukan sepuluh kali lompat katak. Bagaimana menurutmu? Kalau tidak ada hukuman sama sekali, abang-abang di kedua belah pihak pasti tidak semangat. Tapi, kalau kamu memang tak sanggup menerima kekalahan, ya tak usah ada hukuman, kita akhiri saja cepat-cepat sekadar formalitas.”
Hati Li Qinqin sudah hancur. Ia tahu dirinya pasti kalah, tapi tetap saja menerima permintaan Nana Cantik.
Nana Cantik tersenyum, “Oke! Abang-abang semua, kalau mau lihat lawan lompat katak, ayo segera kirim hadiah.”
Dengan jumlah pengikut puluhan juta, sekali Nana Cantik berseru, para pendukung langsung ramai-ramai mengirimkan hadiah. Semakin banyak hadiah yang masuk, Nana Cantik pun semakin bersemangat.
“Terima kasih buat Bang Kun atas hadiah Porsche-nya! Wah, terima kasih Bang Long atas TikTok nomor satu...”
Inilah profesionalitas, inilah etika kerja. Kalau sudah memilih jadi seleb internet, memang harus seperti ini.
Sebaliknya, Li Qinqin hanya duduk diam, tidak berkata apa-apa. Meski ada beberapa penggemar setia yang mengirimkan hadiah, jumlahnya cuma puluhan ribu rupiah saja. Sementara di sisi Nana Cantik, hadiah yang masuk sudah jutaan, bahkan hampir tembus sepuluh juta.
Saat itu, pihak manajemen serikat mengirim pesan pribadi.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa diam saja seperti patung? Kamu harus ngomong, minta hadiah dari penggemar!”
Li Qinqin sudah menyerah, dan memutuskan untuk berpisah baik-baik dengan serikat. Kalau sudah begini, buat apa lagi membantu serikat mencari uang lebih? Ia memilih diam, benar-benar tidak mau bicara.
Penggemar pun mulai tidak tahan.
“Dasar penyiar bodoh, PK cuma duduk saja? Kamu pikir cuma duduk, orang-orang bakal sukarela kasih hadiah?”
“Geraklah, kenapa seperti ikan mati? Kalau kayak gini, sekalipun ketemu langsung sama donatur utama, mereka juga tidak akan senang. Siapa juga yang mau main sama ikan mati?”
“Masih belum jelas? Jelas-jelas penyiar sudah menyerah.”
...
Di ruang live Nana Cantik, kolom komentar pun ramai.
“Saya benar-benar tidak mengerti, penyiar dengan delapan ratus ribu pengikut kok berani PK sama Nana? Dia pikir semua penggemarnya orang kaya, atau dia meremehkan sepuluh juta saudara-saudara kita di sini?”
“Hahaha... lucu sekali, dia sudah menyerah, diam saja, orang bodoh mana yang mau kasih hadiah ke dia?”
“Saya ke sana ah, buat ngeledek dia.”
“Ayo, ayo, kita bareng-bareng ledek dia.”
...
Tak butuh waktu lama, jumlah penonton di ruang live Li Qinqin sudah menembus tiga ribu orang, terbanyak sejak ia jadi penyiar. Sayangnya, sebagian besar bukan untuk mendukung, melainkan datang untuk melecehkan.
“Penyiar kecil, sekarang kamu lompat katak sepuluh kali, abang kasih hadiah Porsche.”
“Mau hadiah gak? Coba berdiri terbalik, abang kasih hadiah pesawat. Jadi pengemis pun harus punya etika, masa diam saja minta belas kasihan, kamu pikir kamu siapa?”
“Saya cuma minta sederhana, senyum saja, saya kasih Porsche.”
...
Li Qinqin melihat komentar- komentar penuh hinaan dan ejekan itu, dan akhirnya tak tahan lagi. Ia menepuk meja dan berteriak marah, “Apa kalian merasa puas berbuat begini? Apa kalian merasa dengan menghina orang lain bisa menunjukkan kehebatan kalian? Silakan, tunjukkan superioritas kalian, tunjukkan kejantanan kalian!”
Kolom komentar pun memanas.
“Wah benar kata Nana, penggemar sedikit, tapi galak.”
“Baru segini aja gak kuat, ngapain jadi penyiar? Pulang saja urus anak!”
“Baru segini udah gak tahan? Kamu memang gak cocok di dunia ini, mending segera mundur.”
...
Li Qinqin melawan, “Aku gak akan mundur! Kalian kesel gak? Hah? Aku suka sekali lihat kalian jengkel tapi gak bisa apa-apa!”
Ia pun merasa kecewa, jelas-jelas dirinya hanya dijadikan pelengkap oleh serikat untuk Nana Cantik. Ia bereaksi seperti ini memang tidak sepenuhnya salah, tapi jelas juga tidak bisa dibilang benar. Ia masih terlalu muda, butuh banyak pengalaman dan kematangan.
Sekarang, bukan hanya penggemar Nana yang tak suka, penggemar Li Qinqin sendiri pun mulai kesal.
Kolom komentar:
“Mau siaran ya siaran aja, gak mau ya pergi!”
“Kamu tahu gak posisi kamu di mana? Jadi pengemis ya harus siap mental, sok suci segala!”
“Pengemis online aja masih punya emosi. Kocak!”
“Unfollow, pindah ke sebelah, mau lihat kamu makin malu.”
...
Manajemen serikat langsung menelepon Li Qinqin, tapi semua panggilan ia tolak. Hal ini membuat bos serikat benar-benar marah. Akhirnya, bos serikat, Li Changhong, langsung menelepon sendiri.
Meski Li Qinqin sudah pasrah, tapi seorang karyawan tetap takut pada bos, ia pun segera mengangkat telepon.
Begitu tersambung, Li Changhong langsung memaki-maki dengan kata-kata kasar, membawa-bawa nama ibu dan organ tubuh, tanpa henti. Bahkan untuk memaki laki-laki pun sudah kelewatan, apalagi perempuan.
Li Qinqin pun benar-benar meledak, membalas makian, “Ibumu! Ibumu! Ibumu! Siapa yang buka perusahaan bisa pasti untung? Kalau kamu sendiri gak berani tanggung risiko, ngapain buka perusahaan? Memang aku belum banyak menghasilkan uang, tapi apa itu aku sengaja supaya serikat gak untung? Kalau aku bisa jamin pasti untung, buat apa aku gabung serikatmu? Selama aku sudah berusaha, aku gak merasa bersalah! Apa sejak kecil ibumu selalu ngajarinmu, dua dari tiga kalimat harus selalu bawa nama organ ibumu? Hah? Nanti kamu ajarin anakmu juga begitu, tiga kata dua kali bawa-bawa organ ibunya!”
Ruang live Li Qinqin dan Nana Cantik langsung hening. Lalu, kolom komentar di kedua sisi seperti air bah yang mengalir deras.
“Gila! Ini naskah atau kejadian nyata?”
“Seru banget, sampai berantem sama bos?”
“Waduh! Penyiar kecil, kalau kamu berani begini, saya pasti kasih hadiah!”
“Menarik juga! Aktingmu kali ini lebih profesional, jauh lebih baik dari cuma duduk diam.”
...
Hadiah di ruang live Li Qinqin langsung bertambah, dalam sekejap sudah ribuan. Li Qinqin buru-buru berkata, “Jangan kirim hadiah! Jangan biarkan bos sampah seperti ini dapat uang! Laki-laki empat puluhan, kerjaannya cuma maki-maki bawa organ tubuh, aku gak mau kasih satu rupiah pun ke orang seperti ini! Tolong ya, jangan kirim hadiah, satu rupiah pun jangan! Yang sudah kirim, segera ajukan refund, bilang saja anak di rumah salah pencet, pokoknya harus cari cara agar uangnya kembali.”
Li Changhong makin marah, memaki, “Jangan cari mati! Aku tahu kamu tinggal di mana, tunggu saja, lihat nanti bisa apa aku sama kamu! Dasar perempuan! Sudah gaji dari aku, gak boleh aku maki? Kamu pikir kamu siapa?”
“Ayo! Semua yang nonton, dengar baik-baik, kalau sampai terjadi apa-apa padaku, semua jadi saksi, bos serikatku Li Changhong pelakunya. Aku gak percaya dia bisa seenaknya melanggar hukum!” teriak Li Qinqin.
Kalau saja harga dirinya tidak diinjak-injak, ia pun tak akan semarah ini.
Yang Chen menonton dengan antusias, sambil mengirimkan hadiah karnaval. Ia sangat paham tabiat netizen, dengan aksi Li Qinqin yang seperti ini, ke depannya ia tak akan kekurangan penggemar.
Li Qinqin buru-buru berkata, “Abang Bintang Abadi, tolong jangan kirim hadiah, kumohon, jangan!”
Ternyata Yang Chen mengirim hadiah hanya agar komentarnya terlihat.
Bintang Abadi: “Kakak tidak tega melihatmu disakiti. Nanti datanglah ke tempat kakak, kakak akan dukung kamu.”
Li Qinqin, yang tadi dimaki-maki saja tidak menangis, kali ini langsung menangis tersedu-sedu begitu melihat komentar itu.
“Kakak, benar ini kamu? Huhu... Kakak, makiannya terlalu kasar, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi... huhu...” Li Qinqin mengadu sambil menangis.
Kolom komentar pun heboh.
“Astaga! Itu si Sultan Bugatti datang?”
“Waduh! Bintang Abadi itu Sultan Bugatti?”
“Beberapa hari lalu di Douyu, Bintang Abadi yang memborong hadiah itu, orang yang sama kan?”
“Jelas sama! Hanya sultan pemilik Bugatti, tinggal di vila Pulau Tengah dan se-dermawan itu!”
“Gila, penyiar ini dapat hoki dari mana? Siaran di luar, ketemu Sultan Bintang Abadi, dan ternyata dia kakak seniornya. Takdir memang aneh!”
“Salam hormat untuk Sultan Bintang, silakan duduk, silakan minum teh.”
“Kalau Sultan Bintang yang melindungi, dia pasti aman. Masa bos serikat receh berani macam-macam sama pemilik Bugatti, tinggal di vila Pulau Tengah?”