Bab 134: Ternyata gelar juara didapatkan dengan cara seperti ini ya
Halaman (1/3)
Yang menelepon jelas adalah Direktur Desain, Nila. Dalam hati, Sia Liu samar-samar sudah bisa menebak tujuan Nila mencarinya.
“Baik, Direktur. Saya akan segera ke sana.”
Setelah menutup telepon, Sia Liu meninggalkan kantor dan pergi ke ruang Direktur Desain, Nila.
Banyak orang diam-diam melirik Sia Liu. Sebagian kecil bahkan tidak menyukainya dan terus melontarkan ejekan.
“Jadi, gelar juara itu didapat dengan cara seperti ini, ya.”
“Kelihatannya polos, ternyata perempuan murahan.”
“Pantas namanya Sia Liu, benar-benar rendah.”
“Ehem, mari kita lihat bagaimana dia akan menghadapi ini.”
Mereka sama sekali tidak berusaha merendahkan suara, sehingga Sia Liu mendengar semuanya dengan jelas saat melewati mereka.
Namun, dia tidak berhenti untuk berdebat. Dalam situasi seperti ini, perdebatan hanya akan sia-sia.
Dia tiba di depan pintu ruang Nila dan mengetuknya.
“Silakan masuk,” seru Nila.
Sia Liu membuka pintu dan masuk. Nila sedang memegang cermin kecil yang biasa dibawanya, memeriksa riasan hari itu.
Halaman (1/3)
Begitu melihat Sia Liu masuk, Nila menurunkan cerminnya dan berkata, “Kau tahu kenapa kupanggil kemari?”
Sia Liu tetap berdiri tanpa duduk. Mendengar pertanyaan Nila, dia tersenyum tipis.
“Yang kau maksud soal unggahan yang mengatakan aku dibiayai seseorang itu, kan?”
Nila mengangkat alis, lalu memberi isyarat agar Sia Liu duduk.
“Kau sudah tahu? Lalu, bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?”
Sia Liu memegang sandaran kursi dan duduk. Dia menjawab pertanyaan Nila, “Pendapatku? Orang yang tidak bersalah akan tetap terbukti tidak bersalah. Namun, masalah ini mungkin juga akan berdampak pada perusahaan. Bagaimana kalau kita mencari tahu siapa anonim itu, lalu membawanya ke pengadilan atas tuduhan melanggar hak privasi dan mencemarkan nama baik?”
Sambil menopang dagu dengan tangan, Sia Liu memperlihatkan sikap angkuh yang membuat Nila sedikit tertegun.
Gadis ini seharusnya bukan tipe orang yang mau menerima aturan tak tertulis di tempat kerja, bukan?
Nila tidak dapat memastikan apakah Sia Liu sedang bercanda atau serius. Dengan nada sungguh-sungguh, dia berkata, “Sia Liu, kalau kau tidak bisa menangani masalah ini sendiri, kau boleh meminta bantuan perusahaan. Bagaimanapun juga, masalah ini akan menyeret nama baik perusahaan.”
Sia Liu berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu, biarkan perusahaan yang menyelidikinya. Belakangan ini aku juga tidak punya banyak waktu. Aku baru saja menjabat, tetapi sudah ada orang yang menyasariku. Sepertinya, ada yang sangat tidak menyukaiku.”
Sebenarnya, Sia Liu sudah memiliki seseorang yang dicurigainya.
Dia belum lama datang. Selain perempuan bernama Lin Hanmeng itu, sepertinya tidak ada orang lain yang bermusuhan dengannya.
Nila mengangguk. “Nanti akan kusuruh seseorang menangani masalah ini. Oh, ya, siapa pria di dalam foto itu? Aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya. Kalau tidak, nanti akan sulit menjelaskannya.”
Ujung jari Sia Liu mengetuk permukaan meja. Setelah berpikir selama beberapa detik, akhirnya dia berkata perlahan, “Suamiku.”
Nila tertegun. Dia mengira Sia Liu masih lajang. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa gadis semuda itu sudah menikah.
Halaman (2/3)
“Suamimu? Kau sudah menikah?”
Sia Liu mengangguk. “Benar. Jadi, tidak ada masalah soal dibiayai seseorang. Itu adalah kehidupan pribadiku, dan aku tidak suka terlalu banyak orang mengetahuinya. Karena itu, selama ini aku tidak pernah mengumumkannya secara besar-besaran. Lagipula, suamiku sendiri juga orang yang rendah hati. Menikah bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Sebenarnya, aku juga tidak bisa dibilang menyembunyikannya. Sebelum bergabung dengan perusahaan, aku sudah mengisi formulir data diri, dan di sana tertulis bahwa aku telah menikah.”
Nila mengangguk seolah mengerti. Pikiran yang sebelumnya sempat muncul pun lenyap. Dengan wajah ramah, dia berkata kepada Sia Liu, “Baik, aku sudah mengerti. Kau boleh kembali dulu. Aku akan segera menangani masalah ini.”
Sia Liu tahu Nila biasanya sangat sibuk. Dengan bijaksana, dia mengangguk lalu berjalan keluar.
Saat hendak membuka pintu, Nila kembali memanggilnya dan berkata, “Kalau orang-orang di luar mengatakan hal-hal yang keterlaluan, jangan kau pedulikan. Inilah dunia kerja, dan itu juga bagian dari budaya di tempat kerja. Aku percaya kau orang yang rasional dan tidak akan bertindak gegabah.”
Sia Liu berbalik dan menggeleng sambil tersenyum.
“Hehe, Direktur, aku tidak sehebat yang kau bayangkan. Mungkin saja aku juga bisa kehilangan kendali karena terbawa emosi. Namun, untuk masalah sekecil ini, aku tidak akan sampai seperti itu. Aku akan membuat orang yang mengendalikan semua ini dari balik layar tahu bahwa Sia Liu bukan orang yang mudah ditindas.”
Nila memandangi sosok Sia Liu yang meninggalkan ruangannya dengan perasaan agak linglung. Gadis ini sepertinya pernah dilihatnya di suatu tempat.
Sia Liu baru saja hendak membuka pintu ruang kerjanya sendiri.
Lin Hanmeng datang dengan wajah penuh kesenangan dan kepuasan, kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia menghalangi Sia Liu yang hendak membuka pintu kantornya.
Halaman (3/3)