Bab 142 Ternyata Ini Bukan Halusinasi
“Vila Xishan? Tuan Direktur, kenapa Anda berada di sana?”
Mo Yiheng dengan gelisah mengambil sebatang rokok lalu mengisapnya. Kepulan asap membuat sosoknya tampak samar. Ia mengembuskan asap itu dan berkata, “Kalau kusuruh mengantarkannya, ya antarkan saja. Jangan banyak bicara.”
Sang sekretaris membetulkan kacamatanya. “Baik, nanti saya segera menyuruh orang mengerjakannya. Oh, benar, Tuan Direktur, tadi siang Nona Sun datang mencari Anda. Karena Anda tidak ada, dia pun pergi. Katanya, ia sudah menelepon Anda, tetapi tidak diangkat, jadi ia memintaku menyampaikan pesan.”
Mo Yiheng mengernyit. Mendengar nama Sun Chu saja sudah membuat suasana hatinya memburuk. “Pesan apa?”
“Dia memintaku memberi tahu Anda bahwa dia telah mendapatkan posisi di perusahaan kakaknya. Kali ini, dia bertanggung jawab untuk bersaing dengan perusahaan kita dalam memperebutkan tanah itu. Katanya, jika Anda ingin mereka menyerah, Anda harus berbicara langsung dengannya.”
Mo Yiheng tertawa dingin, seolah mendengar lelucon paling konyol di dunia. “Siapa dia? Di mata keluarga Mo, perusahaan kakaknya itu tidak ada artinya. Berani-beraninya telur menabrak batu? Bukankah sudah kukatakan bahwa Sun Chu sama sekali tidak boleh masuk ke perusahaan? Bagaimana dia bisa tetap masuk? Perlukah aku menghukummu karena lalai menjalankan tugas?”
Mendengar perkataan Mo Yiheng, sekretaris itu mulai berkeringat dingin.
Memangnya dia bisa berbuat apa?
Siapa yang berani menyinggung nona kecil itu? Semua ini juga salah petugas keamanan di pintu masuk—entah kenapa mereka tidak mencegatnya.
“Tuan Direktur, Anda juga tahu seperti apa sifat Nona Sun.”
Mo Yiheng sudah malas mendengarkan lebih jauh. Ia langsung memutuskan sambungan telepon.
Setelah itu, ia kembali ke sofa, mengangkat Su Fu yang tertidur lelap, lalu membawanya ke kamar tidur. Di atas ranjang besar, Mo Yiheng memeluk Su Fu erat-erat.
Di ranjang ini, mereka pernah melakukan hal paling intim sebagai sepasang kekasih. Namun, jika dipikir-pikir sekarang, semuanya terasa seperti telah terjadi begitu lama.
Ketika Mo Yiheng terbangun, sosok Su Fu di sisinya sudah tidak ada. Ia mengusap pelipisnya. Apakah ia kembali berhalusinasi?
Karena terlalu lama merindukannya, akhirnya ia bermimpi Su Fu kembali ke sisinya. Meskipun Su Fu sudah tidak mengenalinya, ia tetap merasa bahagia. Namun, ternyata semua itu masih sekadar mimpi.
Dengan perasaan kecewa, Mo Yiheng keluar dari kamar dan berjalan turun. Ia melihat waktu—baru sekitar pukul setengah enam. Saat tiba di dekat tangga, aroma masakan yang samar-samar harum mulai menyusup ke hidungnya.
Ketika menunduk memandang ke bawah, ia melihat Su Fu duduk di meja makan. Gerak-geriknya anggun seperti seorang putri bangsawan, sementara ia menikmati hidangan yang disajikan dengan begitu indah.
Hati Mo Yiheng sedikit tersentak. Ia pun mempercepat langkah menuruni tangga.
Saat itu, Su Fu sedang meneguk bubur labu. Beberapa butir nasi masih melekat di sudut bibirnya. Begitu melihat Mo Yiheng, ia menelan bubur tersebut, lalu berkata perlahan, “Tadi… aku tidak membangunkanmu karena kau sedang tidur. Ada orang yang mengantarkan makanan ini. Rasanya enak. Kau mau makan?”
Mo Yiheng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Setelah tidur, pikirannya pun sedikit lebih jernih.
Ia mencubit punggung tangannya sekuat tenaga. Rasa sakit yang nyata memberitahunya bahwa ini bukan mimpi, bukan khayalan, melainkan kenyataan.
Su Fu menatap Mo Yiheng yang tertawa seperti orang kesurupan, tangannya terhenti di udara.
Mo Yiheng menggenggam tangannya, lalu menariknya ke dalam pelukan. Dengan suara lirih, ia berbisik di telinganya, “Ini bukan halusinasi. Ternyata ini bukan halusinasi, juga bukan mimpi. Fu Fu, akhirnya kau kembali ke sisiku. Ternyata kau benar-benar kembali kepadaku.”
Su Fu menggigit bibirnya pelan. Saat ini ia tidak boleh mengatakan apa pun. Semakin banyak yang dikatakannya, semakin banyak pula kesalahan yang akan terjadi di kemudian hari.
Terhadap lelaki ini, ia merasa bersalah.
Namun, untuk saat ini, ia masih belum bisa memberitahukan semua itu kepadanya.