Bab 77: Pertemuan Tak Terduga dengan Penipu (Bagian Kedua)
Dalam beberapa hari terakhir, suasana hati Han Ming sangat baik, wajahnya terlihat seperti orang jatuh cinta. Nafsu makannya juga jauh lebih baik dari biasanya. Tentu saja, biasanya dia juga makan cukup banyak.
Kini, tahun baru tinggal kurang dari seminggu lagi. Malam itu, Su Yan berkata pada Han Ming, “Bagaimana kalau belakangan ini kamu bantu aku di toko? Nanti aku bayar gaji.”
Menjelang tahun baru, bisnis di toko Su Yan semakin sibuk. Jumlah pegawai di toko mulai tidak mencukupi.
Han Ming merasa kasihan melihat Su Yan yang akhir-akhir ini selalu sibuk sampai tengah malam. Ditambah lagi, kantongnya sedang kempes, jadi ketika teman-teman mengajaknya keluar, dia agak sungkan. Akhirnya, Han Ming pun setuju untuk membantu di toko!
Kebetulan hari itu, Chen Li menelpon, “Han Ming, aku mau jalan-jalan.”
Han Ming mengomentari, “Nona besar, liburan bukan dipakai belajar di rumah malah maunya keluyuran, kamu itu sedang menyia-nyiakan masa muda.”
Chen Li hanya mengeluh, lalu berkata singkat, “Aku tidak peduli,” dan menutup telepon.
Han Ming sadar, alasan utama Chen Li memanggilnya hanyalah supaya dapat sopir gratis. Memikirkannya saja membuat hatinya agak perih.
Sekarang Chen Li sudah kembali ke kebiasaan lamanya, setiap malam rajin menelpon Han Ming. Biasanya saat itu Han Ming baru pulang main basket.
Saat menjemput Chen Li, dia langsung protes, “Han Ming, setiap kali ketemu aku kamu selalu asal-asalan ya? Rambutmu kayak sarang ayam begitu.”
Han Ming melirik malas, “Itu gaya rambut yang lagi tren sekarang, jangan terlalu ketinggalan zaman dong?”
Chen Li manyun, dalam hati menggerutu, benar-benar muka tembok.
Dengan arahan Chen Li, mereka tiba di kawasan bisnis paling ramai di kota kecil itu.
Sebagian besar toko di jalan ini adalah butik mahal.
Han Ming jarang membeli barang sendiri, sebagian besar perlengkapannya dibelikan langsung oleh Su Yan. Meski keluarga Han Ming tak tergolong kaya, ibunya selalu membelikannya barang-barang bermutu.
“Chen Li, kamu mau beli apa?”
“Perempuan jalan-jalan perlu alasan?” jawab Chen Li dengan percaya diri.
Han Ming sudah pusing, karena sepertinya hari ini Chen Li tak akan berhenti sebelum puas.
Mereka masuk ke sebuah butik pakaian mewah. Anehnya, di dalam hanya ada pakaian pria.
“Chen Li, kamu mau belikan pakaian untuk ayahmu?”
Chen Li menggeleng, “Dia itu sibuk, tahun ini pasti juga nggak pulang untuk tahun baru.”
Han Ming tidak tahu apa pekerjaan ayah Chen Li, tapi samar-samar pernah dengar dari Huang Ying kalau ayahnya punya perusahaan besar di ibu kota provinsi.
Orang terkaya yang pernah Han Ming kenal sebelumnya adalah Deng Qingqing, yang selalu diantar jemput mobil khusus. Namun, Huang Ying pernah mengejek, “Kalau dibanding keluarga Li, keluarga Deng Qingqing itu paling banter cuma pemilik restoran.”
Han Ming yang mendengar perumpamaan itu langsung membelalak, “Keluarga saya memang buka restoran. Kenapa? Ada masalah dengan keluarga pemilik restoran?”
Chen Li berjalan ke sebuah etalase, di situ kebanyakan pakaian untuk pemuda usia delapan belas sembilan belas tahun.
“Han Ming, aku mau pilihkan pakaian buat kamu, boleh?”
Han Ming memperkirakan uang yang ia bawa hari ini, kira-kira tiga ratus ribu. Ia melirik harga pakaian di situ, kebanyakan empat digit. Han Ming jadi ngeri sendiri, “Eh, nggak usah.”
Chen Li tahu alasan Han Ming menolak, dia manyun, “Coba dulu saja.”
Setelah itu, Han Ming seperti robot, mencoba satu setelan demi setelan. Chen Li selalu saja bisa menemukan kekurangan di tiap pakaian yang dikenakan Han Ming. Sebenarnya, Han Ming merasa semua sama saja.
Setelah hampir satu jam memilih, akhirnya Chen Li puas dengan satu setelan.
“Bagus, yang ini saja!”
Han Ming diam-diam melirik harganya, astaga, empat juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu. Itu sama dengan laba toko Su Yan selama dua minggu.
“Chen Li, kamu tiba-tiba mendandaniku seperti ini, apa mau menjadikanku calon suamimu?”
Chen Li tertawa, “Han Ming, kamu pakai ini benar-benar keren sekali.”
“Kalian perempuan terlalu fokus pada penampilan luar, sampai lupa keindahan hati,” Han Ming melepas pakaian itu, berusaha cari alasan untuk menolak.
Pelayan toko langsung memasukkan setelan itu ke kantong mewah dan menyerahkan pada Han Ming, “Silakan datang lagi lain kali.”
Chen Li menarik Han Ming keluar toko, tampaknya dia sudah tahu Han Ming ingin menolak setelan itu.
“Chen Li, kita belum bayar lho! Kamu mau ajak aku masuk penjara bareng?”
Chen Li melotot pada Han Ming.
Han Ming tahu, Chen Li pasti pelanggan VIP di toko itu. Semua pengeluaran tercatat dan akan dirangkum di akhir tahun.
Han Ming tiba-tiba merasa, ternyata dia tak begitu mengenal Chen Li. Dulu saat mereka mengobrol, Chen Li jarang sekali membahas keluarganya, hanya bilang kedua orang tuanya berbisnis.
Memang Chen Li tidak berbohong, tapi Han Ming sama sekali tak menyangka, bisnis keluarganya ternyata sangat besar.
Dulu Han Ming polos saja menimpali, “Ibu saya juga pebisnis. Kita seprofesi, ya!”
Sekarang kalau diingat, rasanya agak canggung...
Mereka berdua lalu duduk di kedai minuman teh susu. Han Ming mendadak kehilangan kata-kata.
“Han Ming, nanti kalau kamu sudah bisa cari uang sendiri, kamu harus traktir aku makan-makan besar.”
Ucapan Chen Li terasa aneh, karena waktu Han Ming bisa cari uang sendiri, paling cepat setelah lulus kuliah, tujuh tahun lagi! Kebanyakan teman SMP setelah satu dua tahun saja sudah tidak saling kontak. Tapi Chen Li yakin, saat itu mereka masih akan seperti sekarang!
Sayangnya, Han Ming tidak menangkap maksud tersirat Chen Li. Ia hanya tersenyum, “Mulai besok aku bantu ibu di restoran, dapat gaji. Nanti setelah tahun baru aku ajak kamu makan enak di kota.”
Melihat Han Ming tidak paham juga, Chen Li dalam hati memaki: Han Ming, kamu ini kepala kayu, dasar bodoh!
“Baiklah!”
“Tuh tuh, lagi ngedate ya kalian?” Suara nyinyir tiba-tiba terdengar, rupanya Huang Ying. Dia dan Yu Hang kebetulan lewat.
Han Ming menepuk dahi, “Sial, di mana pun bisa ketemu dua penipu ini.”
Sejak tahu hari itu berhasil menyatukan mereka, mood Huang Ying sangat baik, setiap ketemu orang selalu pamer kalau dia punya bakat jadi mak comblang dan bercita-cita nanti buka biro jodoh terbesar.
“Han Ming, tidak mau traktir sebagai tanda terima kasih pada aku?” Huang Ying meminta.
Yu Hang hanya bisa menghela nafas menatap pacarnya. Huang Ying itu siswi teladan, tapi kelakuannya sembarangan dan ceroboh, jauh dari citra perempuan teladan.
Huang Ying melihat tatapan Yu Hang yang agak sebal, langsung memelintir telinganya, “Kamu ngeluh apa? Udah nggak puas sama aku?”
Yu Hang memohon ampun, “Nona besar, aku cuma kasihan sama Han Ming.”
“Apa hubungannya dia traktir sama kamu jadi sedih? Kamu kira aku bakal makan sebanyak itu sampai bikin dia bangkrut?”
Yu Hang cemberut, “Salahku, salahku!”
Sama seperti dulu, tak ada yang menyangka mereka bisa bersama, juga tak ada yang menduga Yu Hang yang pendiam bakal tunduk di bawah kendali seorang gadis seperti Huang Ying...