Tapi aku sudah punya pacar, sedangkan kau tidak!
"Karena ini adalah duel yang adil dan kita sudah menentukan pemenangnya, kalau tidak ada urusan lain, aku pergi dulu. Aku buru-buru mau pulang untuk makan malam."
Setelah berkata demikian, Yuan Shu tidak memberi kesempatan kepada Liu Han dan yang lainnya untuk berbicara. Ia segera mengenakan pakaian dan aksesorisnya, lalu berbalik meninggalkan gedung tersebut.
Diiringi nada dering marimba, Yuan Shu menatap nama Pang Xiyuan dengan helaan napas pasrah, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan, "Ada apa lagi?"
"Dasar otak udang, kenapa tadi kau menutup teleponku!" cecar Pang Xiyuan.
"Tadi aku sedang meregangkan otot, tidak ada waktu untuk bicara denganmu," jawab Yuan Shu.
"Sialan, temani aku mengobrol cepat, aku hampir mati bosan di sini, aaa!" Pang Xiyuan berteriak nyaring. Yuan Shu yang hampir tuli karena jeritan itu memejamkan sebelah matanya dengan ekspresi jengkel. Sambil mengusap telinganya, ia berkata, "Bukannya aku ingin menceramahimu, tapi kalau sedang jalan dengan Tang Yimeng, nikmatilah waktumu dengan tenang. Kau sudah meneleponku sepanjang jalan, bukan?"
"Aku tidak peduli! Pokoknya, Mengmeng menyiksaku yang jomblo ini, kau harus membelaku."
Tak lama berselang, suara Tang Yimeng terdengar dari seberang telepon, "Begini ya, Kak Shu, nanti blokir saja dia. Keterlaluan sekali, sepanjang sore ini aku hanya mendengarkannya menelepon terus."
"Tenang saja, sekarang aku tutup teleponnya."
Yuan Shu langsung memutus sambungan. Melihat layar kembali ke beranda, pemuda itu tak kuasa menahan senyum.
Ting!
"Hei, kau otak udang! Kau bersekongkol dengan Mengmeng untuk membully-ku, ya!"
Tak lama kemudian, pesan WeChat dari Pang Xiyuan masuk.
***
Setelah makan malam, Yuan Shu kembali ke kamarnya dan mulai menulis novelnya. Meski tidak bisa mendapatkan kontrak dan terpaksa menulis demi hobi semata, ia tetap menulis cerita yang sangat ingin ia tuangkan. Walaupun tidak dibayar, ia tetap ingin membagikan kisah ini kepada semua orang. Bagi pemuda itu, ini adalah cerita penggemar yang unik, dan jika tidak ditulis sekarang, ia takut akan menyesal di kemudian hari.
Kurikulum universitas tidak lebih ringan daripada SMA, namun memang benar tidak ada pekerjaan rumah yang diberikan. Biasanya, para dosen meminta mahasiswa menyelesaikan tugas langsung di dalam kelas agar efisiensi penguasaan materi lebih maksimal. Karena itulah, Yuan Shu memiliki banyak waktu luang untuk menulis novel.
Mendapat sebuah notifikasi, Yuan Shu meraih ponselnya. Begitu melihat nama Cheng Jiayun di bagian pengirim, ia langsung berhenti mengetik dan membacanya dengan tidak sabar.
"Biasanya kau suka makan apa di pagi hari?"
Melihat pertanyaan Cheng Jiayun, Yuan Shu tidak berpikir panjang dan langsung membalas, "Aku suka makan apa saja. Kenapa, kau mau membelikanku sarapan? (emoji tertawa)"
"Iya, makanya aku ingin bertanya padamu~"
Melihat balasan itu, jantung pemuda itu berdegup kencang. Apakah matahari terbit dari barat? Bukankah sikapnya tadi sore tidak seperti ini? Kenapa perubahannya begitu drastis?
Banyak tanda tanya muncul di kepala Yuan Shu. Meski wanita ini memang lebih cepat berubah sikap daripada membalik telapak tangan, bukankah perubahan sikap Cheng Jiayun ini terlalu cepat?
"Benar kata orang, hati wanita itu seperti jarum di dasar laut."
Yuan Shu menggelengkan kepala. Ia tidak tahu mengapa Cheng Jiayun tiba-tiba bersikap manis padanya. Namun, karena wanita itu bertanya duluan, Yuan Shu yang memang menyukainya tentu tidak akan jual mahal. Ia pun mengetik, "Ganjibing (kue dadar) di depan sekolah..."
"Tidak, tidak... Ganjibing rasanya terlalu pasaran, tidak bisa, ini jelas tidak bisa."
Yuan Shu menghapus tulisannya sebelum sempat terkirim. Itu terlalu tidak berkelas, Cheng Jiayun pasti tidak suka makanan seperti itu. Ia harus memikirkan sesuatu yang ia sukai sekaligus disukai oleh Cheng Jiayun. Jika terlalu mengikuti seleranya sendiri, akan sulit untuk mempertimbangkan perasaan Cheng Jiayun.
Setelah berpikir lama, Yuan Shu tetap tidak tahu harus makan apa. Ia mondar-mandir dengan cemas seperti semut di atas wajan panas. Pemuda itu akhirnya mengetik, "Bagaimana kalau kau saja yang memilihkan? Aku tidak masalah, apa pun yang kau beli, aku pasti suka."
"Baiklah~ Besok kau tidak perlu membantuku membawakan sarapan, aku yang akan membelikannya untukmu juga. Aku sedang ingin makan burger ayam krispi dari KFC, apa kau mau makan? Kalau mau, aku belikan sekalian," balas Cheng Jiayun dengan cepat.
"Oh, burger ayam krispi ya!"
Hati Yuan Shu bersorak senang. Burger jenis ini sepertinya menghilang dari pasaran setelah beberapa tahun. Ia tidak tahu alasan pastinya, tapi jujur saja, ia sangat menyukai burger itu karena rasanya yang luar biasa enak dan ukurannya pun cukup besar. Saat SMP dulu, satu burger ayam krispi ditambah susu kedelai hangat sudah membuatnya kenyang. Kini, saat ada kesempatan untuk mencicipinya lagi, Yuan Shu tentu tidak akan menyia-nyiakannya. Ia segera membalas, "Boleh, boleh!"
"Atau aku tambahkan hash brown atau semacamnya? Aku takut kau tidak kenyang," ujar Cheng Jiayun.
"Ha... boleh saja. Sebenarnya porsi makanku tidak besar, kau atur saja," balas Yuan Shu. Ia tiba-tiba teringat saat ia makan dengan rakus di depan Cheng Jiayun hari itu. Merasa malu, ia tidak bisa menahan diri untuk menggaruk kepalanya. Kalau diingat-ingat sekarang, itu sangat memalukan.
"Oke, sampai jumpa besok ya!" kata Cheng Jiayun.
"Siap!"
Melihat itu, senyum cerah nan hangat mengembang di bibir Yuan Shu. Sambil tersenyum sendiri, ia merasa hatinya menghangat, bahkan ada rasa bahagia yang meluap-luap. Inikah... rasa jatuh cinta?
***
Sementara itu, Cheng Jiayun yang sedang berbaring di tempat tidur tingkat asramanya meletakkan ponsel di atas dadanya setelah membalas pesan. Dengan tangan berbantal kepala, ia menatap langit-langit. Mengenakan piyama beruang yang lucu, ia teringat kembali pada ketangkasan Yuan Shu di siang hari. Ujung kakinya menegang kegirangan, lalu ia mengeluarkan tawa kecil yang terdengar seperti penggemar berat yang sedang jatuh cinta.
Xiao Qingqing, yang mengenakan piyama dinosaurus, masuk ke kamar sambil membawa dua teko air panas. Melihat Cheng Jiayun tertawa seperti tikus tanah, ia berkata dengan ekspresi datar, "Hei, hei, cukup ya. Kau sudah bertingkah seperti orang kesurupan sepanjang jalan, apa belum puas juga?"
"Kau tidak tahu betapa kerennya dia tadi. Ketangkasannya itu... luar biasa!"
Cheng Jiayun duduk tegak dari tempat tidurnya, mengayunkan kaki di rangka besi, lalu menatap ke depan dengan serius. Detik berikutnya, ia mulai melakukan gerakan tinju seolah sedang bertarung. Xiao Qingqing memutar bola matanya; temannya yang bodoh ini sudah tidak bisa diselamatkan.
"Untung saja dua gadis dari kelas kita tidak ada di asrama hari ini. Kalau tidak, melihat tingkahmu seperti ini, mereka pasti akan mengira otakmu sedang bermasalah," ujar Xiao Qingqing sambil menunjuk kepalanya sendiri.
"Memangnya dia tidak keren? Tadi kau sendiri melihatnya, reaksimu bahkan lebih heboh dariku, tahu!" Cheng Jiayun membelalakkan mata ke arah Xiao Qingqing sambil merentangkan tangan.
"Tapi aku punya pacar, sedangkan kau tidak!" Xiao Qingqing menirukan gaya Cheng Jiayun, lalu menggoyangkan pinggulnya dengan ekspresi usil.
"Kau ini sombong sekali, apa keluargamu tahu?" tanya Cheng Jiayun dengan nada kesal.
"Ehe~" Xiao Qingqing tidak peduli, ia terus menggoyangkan pinggulnya dengan ekspresi jenaka.
"Aduh, benar-benar tidak habis pikir. Kenapa aku bisa punya teman sekamar seperti ini..." Cheng Jiayun merasa lelah hati dan merebahkan diri di kasur tanpa bergerak lagi.
"Sudahlah, aku tidak bercanda lagi. Ayo cepat cuci kaki, airnya sudah kusiapkan," kata Xiao Qingqing sambil menuangkan air dari teko ke dalam baskom.
"Menurutmu, perlukah aku menyatakan cinta duluan padanya?" Cheng Jiayun duduk kembali, turun dari tangga tempat tidur, dan bertanya.
"Kau belum mengungkapkan perasaanmu padanya?" Xiao Qingqing tertegun.
"Belum. Kata-kata seperti itu mana mungkin mudah diucapkan? Aku bukan pria, wajahku tidak setebal itu..." Cheng Jiayun merasa malu saat membayangkan dirinya menyatakan cinta lebih dulu.
"Kalau begitu, tunggu saja dia yang bicara," jawab Xiao Qingqing sambil mengangkat bahu, lalu kembali asyik bermain ponsel di tempat tidur.
"Tapi kalau dia tidak bicara, apa kita akan terus begini?" Cheng Jiayun menarik ujung celana temannya itu.
"Kalau begitu ya kau saja yang nyatakan cinta. Bukankah sama saja siapa yang mulai duluan? Apa susahnya? Waktu aku jadian dengan pacarku, aku juga yang mulai duluan," jawab Xiao Qingqing sambil duduk kembali dengan santai.
"Tapi aku selalu merasa tidak bisa mengatakannya..." Cheng Jiayun menghela napas, mengayun-ayunkan kakinya di dalam air.
"Ya sudah, tunggu saja dia bicara..." Xiao Qingqing malas menanggapi, ia kembali berbaring dan bermain ponsel.
"Kau ini tahunya cuma main ponsel terus!" Cheng Jiayun mengeringkan kakinya, lalu menjulurkan jari untuk menggelitik temannya. Xiao Qingqing yang geli langsung berteriak dan duduk tegak. Dengan ekspresi antara ingin tertawa dan menangis, ia berkata, "Kakak, jangan macam-macam! Aku geli. Lalu kau mau aku melakukan apa?"
"Sekarang... aku hanya ingin kau berbaring dengan tenang, hihihi!" Cheng Jiayun memasang senyum jahil dan langsung menerjang temannya!
"Ah!"
Jeritan panjang terdengar dari kamar mereka. Di bawah selimut malam, lampu-lampu di seluruh asrama putri mulai menyala satu per satu.