42. Kamar Terpisah
Setelah para petinggi sekolah dan pimpinan markas selesai menyampaikan pidato mereka, para instruktur memimpin para siswa di lapangan untuk meninggalkan lapangan yang sudah usang itu secara beruntun.
Mendengar teriakan dan hardikan yang ketus serta bernada tinggi, banyak siswa laki-laki maupun perempuan menunjukkan ekspresi patuh, bahkan sedikit murung. Jelas sekali bahwa mereka sama sekali tidak menyukai para instruktur yang angkuh ini.
Seluruh Pangkalan Pelatihan Huashan dipadati oleh para mahasiswa baru dari universitas komprehensif kota ini. Baik mahasiswa dari kampus cabang maupun kampus utama menjalani pelatihan di sini. Dalam perjalanan menuju asrama mengikuti para instruktur, Yuan Shu bahkan melihat beberapa wajah yang tidak asing.
Saat melewati gerbang asrama Fakultas Biologi, pemuda itu melihat teman sekelasnya semasa SMP. Teman itu hampir tidak berubah sama sekali sejak masa SMP, seolah-olah pertumbuhannya sudah berhenti begitu saja, dan Yuan Shu tidak mungkin salah mengenali orang.
Namun, karena instruktur berada tidak jauh di depan barisan, pemuda itu dengan cerdik memilih untuk tidak menyapa. Jika tidak, sangat besar kemungkinan ia akan menerima hukuman yang aneh-aneh.
Ketika melewati Fakultas Teknik, Yuan Shu bahkan melihat seorang teman semasa SMA. Meskipun mereka tidak berada di kelas yang sama, hubungan mereka cukup baik. Melirik sekilas ke asrama tempat para mahasiswa Fakultas Teknik tinggal, pemuda itu mau tak mau mendecakkan lidahnya dalam hati. Kondisi akomodasi mahasiswa di kampus cabang saja sudah sangat bagus, semestinya fasilitas untuk mereka yang berasal dari kampus utama tidak akan kalah bagus, bukan?
Lin Qingyang, yang berjalan di belakang Yuan Shu, tiba-tiba mendekatkan kepalanya dan berbisik, "Shu'er, lihatlah asrama tempat mereka tinggal ini, semuanya tampak sangat bagus. Jalanan semen di luar bersih, dan tempat tidur di dalam juga terlihat nyaman."
"Hmm."
Yuan Shu tidak menoleh, hanya merespons pelan dengan deheman.
"Siapa di belakang yang berbicara?!"
Instruktur yang memimpin di depan barisan tiba-tiba menghentikan langkahnya, berbalik, lalu bertanya dengan kepala miring.
Barisan besar itu perlahan berhenti. Memandangi wajah instruktur yang tampak sangat serius itu, banyak siswa pura-pura tidak mendengar. Melihat tidak ada seorang pun di dalam barisan yang bersuara, instruktur itu melambaikan tangannya dan berteriak, "Maju jalan!"
"Sebaiknya kau pelankan suaramu."
Yuan Shu sedikit menoleh ke kanan dan memperingatkan Lin Qingyang. Untungnya, instruktur yang berkulit agak gelap ini bukanlah tipe orang yang suka mendesak dan mencari-cari masalah. Jika dia adalah tipe orang bermulut lancip dengan wajah galak, kemungkinan besar jika orang yang bersuara tidak ditemukan hari ini, ia akan menyuruh semua orang berdiri di bawah terik matahari sepanjang sore tanpa mendapatkan makan siang.
Entah itu saat pelatihan militer di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas, tempatnya mungkin berbeda, tetapi penampilan dan temperamen para instruktur tampaknya selalu dicetak dari cetakan yang sama.
"Iya, iya. Tapi, kurasa instruktur berwajah gelap yang memimpin kita ini orangnya cukup baik. Tidak seperti instruktur lain yang langsung berteriak-teriak begitu datang. Alangkah bagusnya kalau nanti setelah pembagian asrama selesai, dia tetap yang memimpin kita."
Lin Qingyang kembali mendekatkan kepalanya dan berkata dengan suara yang sengaja direndahkan.
"Semoga saja," ucap Yuan Shu pelan.
Melirik ke arah barisan di belakang, pemuda itu menghela napas kecil. Karena para mahasiswi meninggalkan lapangan menuju arah asrama yang berbeda dengan mahasiswa laki-laki, Yuan Shu khawatir ia hanya bisa menemui Cheng Jiayun pada saat latihan gabungan skala besar nanti.
Menembus sebuah jalur kecil berbatu yang tidak rata dan berlumpur, para mahasiswa jurusan Kuliner dan Manajemen digiring ke sebuah tempat yang menyerupai rumah kaca pertanian.
"Kenapa bau sekali di sini..."
"Rasanya seperti datang ke pedesaan."
"Dinding bata rumah ini menumpuk seperti ini, apa tidak bocor kalau hujan?"
Beberapa siswa mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. Mendengar suara-suara yang datang dari belakang, instruktur berwajah gelap itu menghentikan langkahnya, berbalik, lalu melambaikan tangan sambil berteriak, "Berhenti!"
*Krasak-krasak.*
Seiring barisan besar itu berhenti perlahan, instruktur berwajah gelap berjalan mondar-mandir dari depan ke belakang dengan tangan di belakang punggung. Memandangi satu per satu siswa di dalam barisan, ia berkata dengan nada tidak puas, "Coba lihat kalian ini. Apakah kalian tidak bisa berdiri dengan postur militer yang benar? Apa yang dikatakan para pimpinan saat upacara tadi? Berdiri harus ada bentuknya, duduk harus ada gayanya. Tidak bisa berdiri dengan sikap militer, begitu? Bagus, sebentar lagi kalian akan merasakan akibatnya."
Mendengar kalimat itu, Yuan Shu diam-diam menghela napas sekaligus menutup kedua matanya yang terasa kering dan perih karena tersengat matahari. Sekelompok babi ini, tidak bisakah mereka menutup mulut dengan patuh? Apakah tidak wajar jika bangunan di tempat ini reyot? Kenapa harus melontarkan komentar segala!
"Maju jalan!"
Mengikuti aba-aba dari instruktur berwajah gelap, pasukan besar itu mengikutinya melewati bangunan-bangunan sederhana yang tersusun dari bata merah. Saat seorang instruktur yang jauh lebih kurus daripada instruktur berwajah gelap keluar dari sebuah bangunan, instruktur berwajah gelap itu langsung menyerahkan sebagian mahasiswa jurusan Manajemen kepadanya, lalu memimpin sisa mahasiswa lainnya untuk melanjutkan perjalanan.
Setibanya di tempat akomodasi, pandangan Yuan Shu bergerak perlahan. Meskipun lingkungan ini tidak sebaik kondisi akomodasi mahasiswa Fakultas Biologi dan Fakultas Teknik, tempat ini masih jauh lebih baik daripada bangunan-bangunan berdinding bata merah tadi.
Sesampainya di sini, jumlah mahasiswa jurusan Kuliner and Manajemen yang tersisa sudah tidak banyak. Sebagian mahasiswa dari Kelas 2 dan Kelas 1 telah digabungkan ke dalam bangunan-bangunan bata merah tadi dan tinggal bersama sebagian mahasiswa jurusan Manajemen. Barisan yang ada sekarang hanya menyisakan sepertiga dari jumlah awal.
"Semuanya, dengarkan aba-2 dariku! Berdasarkan barisan terdepan, berbarislah secara berurutan! Cepat!"
Instruktur berwajah gelap berdiri di depan bangunan, lalu berteriak kepada orang-orang.
Melihat banyak orang berjalan lambat dan menyeret kaki, instruktur berwajah gelap itu mendesak, "Cepat!"
"Sudah kubilang berbarislah secara berurutan berdasarkan barisan terdepan! Apa kamu bertubuh pendek, hah?"
Melihat seorang mahasiswa laki-laki dari Kelas 2 berdiri di ujung barisan, instruktur berwajah gelap itu melontarkan makian dengan kata-kata kasar yang jarang ia ucapkan.
"Oh, oh..."
Mahasiswa laki-laki itu tampaknya merasa takut kepada instruktur, lalu buru-buru menyusup masuk ke sisi kanan di sebelah siswa yang bertubuh tinggi.
"Kenapa tidak menunggu yang lain selesai berbaris baru menyusup masuk? Terburu-buru sekali!"
Melihat mahasiswa laki-laki itu mengacaukan barisan, dengan rasa tidak puas instruktur berwajah gelap menarik kerah bajunya dan menariknya ke belakang. Mahasiswa laki-laki itu hanya bisa menundukkan kepala dan tidak berani berkata apa-apa.
Seiring barisan mulai tertata perlahan dengan rapi, dua orang instruktur berpakain loreng keluar dari bangunan di sebelah kanan para siswa. Pandangan Yuan Shu sedikit bergeser; itu pastilah asrama tempat para instruktur tinggal. Pintu luar mereka saja berbeda dengan pintu kamar para siswa, dan yang paling penting, ada tirai terpasang di atasnya.
Mengamati instruktur yang keluar, Yuan Shu tiba-tiba merasakan firasat buruk. Instruktur bertubuh pendek dan bertubuh kurus kering di sebelah kiri ini, dari wajahnya saja sudah terlihat bukan orang yang mudah diajak berurusan. Terlebih lagi, wajah tanpa senyum dan bergaris tegas itu tampak persis seperti tipikal pria bermulut tajam yang akan langsung memaki jika ada hal kecil yang tidak berkenaan di hatinya.
Adapun instruktur di sebelah si bertubuh pendek, yang bertubuh kekar seperti instruktur berwajah gelap namun kulitnya tidak sehitam itu, justru memasang senyum penuh kelicikan. Memandang Yuan Shu dan kawan-kawan dengan tatapan penuh permainan bagaikan kucing yang mempermainkan tikus. Menghadapi tipe musuh berwajah manis seperti ini, Yuan Shu merasa dia bahkan lebih sulit ditangani daripada si bertubuh pendek. Jika instruktur berwajah gelap bisa dianggap sebagai tipe orang yang berwatak agak baik dan berwajah jujur di antara ketiga orang itu, maka si bertubuh pendek adalah jenis tong emosi yang bisa meledak kapan saja jika ada yang salah kata. Sementara instruktur yang tersenyum-senyum ini ibarat tipe orang tua licik yang mengucapkan kata-kata paling santai namun melakukan perbuatan paling merusak.
Melihat keduanya keluar, instruktur berwajah gelap berjalan ke samping instruktur bertubuh pendek dan berkata dengan sedikit serius, "Komandan Peleton."
"Komandan Peleton?"
Pendengaran Yuan Shu cukup tajam. Ia baru saja mendengar instruktur berwajah gelap memanggil dengan sebutan "Komandan Peleton" secara pelan. Rupanya instruktur bertubuh pendek ini benar-benar bukan orang sembarangan. Meskipun dia yang paling putih dan paling pendek di antara ketiganya, aura menakutkan itu sama sekali tidak mencerminkan seorang prajurit tanpa jabatan.
"Aduh, ada yang mau makan apel tidak?"
Tepat saat instruktur berwajah gelap sedang berbicara dengan komandan peleton bertubuh pendek itu, instruktur bermuka manis mengambil sebuah apel di tangannya dan langsung menggigitnya. Mendengar suara renyah dan menggiurkan yang keluar dari mulutnya, banyak siswa yang belum minum mau tak mau menelan ludah. Aksi ini benar-benar membuat mereka merasa semakin kehausan.
"Mau makan tidak? Hmm? Kamu, mau makan tidak?"
Sambil tersenyum, instruktur bermuka manis itu memutar-mutar apel merah yang sudah digigit itu di hadapan banyak orang, lalu menggigitnya lagi, menikmatinya dengan sangat berselera.
Melihat pemandangan itu, keyakinan Yuan Shu semakin kuat bahwa instruktur bermuka manis ini jauh lebih mengerikan daripada si bertubuh pendek. Jangan lihat penampilannya yang tersenyum ramah dan suka menggoda para siswa untuk mencairkan suasana dengan santai; jika ada yang benar-benar mengatakan ingin makan atau mengangguk, orang itu pasti akan masuk ke dalam perangkapnya. Belum lagi memikirkan apakah si pembuat masalah ini akan merusak suasana, tindakan semacam itu saja sudah pasti akan membuat mereka disiksa habis-habisan oleh sang instruktur.
Melihat tidak ada satu pun orang idiot yang berani memprovokasi instruktur bermuka manis ini, Yuan Shu merasa lega di dalam hati. Rupanya sekelompok orang bodoh ini telah belajar menjadi penurut.
Tidak lama setelah Yuan Shu merasa lega, komandan peleton bertubuh pendek bersama instruktur berwajah gelap berjalan mendekat. Memandangi orang-orang di hadapannya, komandan peleton bertubuh pendek tiba-tiba menaikkan volume suaranya, "Dengarkan aba-dariku! Lencang—kanan!"
Meskipun tinggi badan adalah kelemahan fatal bagi si bertubuh pendek, kapasitas paru-parunya sungguh luar biasa mengejutkan. Teriakan lantang itu membuat tubuh Yuan Shu dan kawan-kawan bergidik ngeri, lalu perlahan-lahan merapikan barisan mereka.
"Heh, benar seperti yang kau katakan, sekelompok sampah keparat ini bahkan tidak bisa merapikan barisan dengan benar."
Komandan peleton bertubuh pendek itu menunjukkan ekspresi kecewa sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu melirik ke arah instruktur berwajah gelap di sampingnya, yang dibalas oleh instruktur berwajah gelap itu dengan senyuman pasrah. Pada saat yang sama, komandan peleton bertubuh pendek itu kembali menatap orang-orang di hadapannya dan membuka mulutnya sekali lagi.