Bab 153 Aku Merindukanmu
“Dengan penampilanmu itu, siapa yang akan melirikmu? Posisi sekretaris membutuhkan orang yang bertubuh bagus dan berwajah cantik sepertiku.”
Seorang karyawati membusungkan dadanya dengan bangga.
“Tubuh bagus memangnya kenapa? Belum tentu presiden direktur yang baru melirikmu juga! Sungguh, apa yang kau sombongkan? Apa tidak risih berjalan dengan bergoyang-goyang begitu? Masih berani ingin naik jabatan menjadi sekretaris, tolong simpan angan-angan murahanmu itu, ya,” cibir karyawati lainnya dengan nada meremehkan. Ia melirik sekilas ke arah perempuan yang baru saja bicara, lalu kembali menunduk memainkan ponselnya.
“Risih kenapa? Kalau benar-benar bisa melewatkan malam bersama presiden direktur yang baru, kita tidak perlu pusing memikirkan sandang pangan untuk sisa hidup kita. Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan kalian, aku harus pergi ke mal untuk membeli beberapa pakaian lagi.”
“Sudah jam pulang kerja?”
Keluar dari lobi, Gu Yihan berjalan menuju lantai basement untuk mengambil mobil sambil menelepon Xia Liu.
Xia Liu sendiri baru saja merapikan barang-barangnya, bersiap untuk pergi makan malam bersama Bai Wei.
Di dalam kantor, Xia Liu menerima panggilan dari Gu Yihan dan hampir melompat kegirangan. Hari ini adalah hari pertama suaminya bekerja, pasti ada banyak hal yang ingin pria itu katakan padanya.
“Baru saja jam pulang kerja. Tadi pagi Ibu juga datang ke kantor, kami bersiap-siap untuk pergi makan. Bagaimana keadaanmu di sana? Apakah semuanya lancar?”
Gu Yihan membuka pintu mobil, masuk ke dalam, menyalakan mesin, lalu menjawab sambil tersenyum, “Semuanya lancar. Jika kamu dan Ibu belum makan, aku akan menjemput kalian sekarang. Tunggu aku di depan pintu kantor, aku akan segera tiba.”
Xia Liu bergumam pelan, lalu berkata dengan lembut dan manis, “Kalau begitu, mengemudilah dengan pelan, aku akan menunggumu...” Wajah Xia Liu merona merah.
Padahal baru beberapa jam berpisah, rasanya dia sudah sangat merindukan pria itu.
Dirinya benar-benar tidak punya pertahanan.
Gu Yihan terkekeh pelan. “Kalau begitu sampai jumpa sebentar lagi. Tidak melihatku sepanjang pagi ini, apakah kamu merindukanku?”
“Mana ada.” Jawab Xia Liu sambil melirik Bai Wei dengan perasaan malu-malu.
Bai Wei sedang duduk di sofa, menatap Xia Liu dengan pandangan penuh arti.
Pasangan muda itu, baru berapa lama berpisah saja sudah saling menelepon.
Mereka pasti sedang membicarakan hal-hal yang mesra, lihat saja wajah kecil itu sampai memerah.
“Gadis kecil yang tidak jujur dengan isi hatinya. Tapi, Liu Liu, aku merindukanmu,” ucap Gu Yihan melalui sambungan telepon.
Hati Xia Liu terasa begitu berbunga-bunga, wajahnya semakin memerah. “Kalau begitu, setir mobilnya pelan-pelan ya. Aku dan Ibu akan menunggumu di depan pintu kantor. Aku matikan dulu teleponnya.”
Setelah Xia Liu dan Gu Yihan mengakhiri panggilan, Bai Wei menatap Xia Liu dengan pandangan orang yang lebih berpengalaman. “Apa yang dikatakan Yihan di telepon tadi? Lihatlah kalian berdua, padahal belum beberapa jam tidak bertemu, tapi sudah telepon-telepoan. Aduh, mesra sekali. Dulu aku tidak seberuntung itu. Haiming saat muda, meskipun tidak sedingin es seperti Yihan, tapi dia tidak pernah bisa mengatakan kata-kata manis. Lihatlah Yihan, meskipun jarang tersenyum, betapa baiknya dia padamu sebagai istrinya.”
Mendengar perkataan Bai Wei, dalam hati Xia Liu merasa ingin membantah.
Siapa bilang Gu Yihan tidak bisa tersenyum? Setiap kali tersenyum, senyumannya itu selalu penuh kelicikan!
Namun di luar, Xia Liu hanya tersenyum manis. “Bu, itu karena Ayah mencintai Ibu di dalam hatinya. Yihan itu, sebenarnya tidak sedingin yang terlihat. Senyumannya cukup tampan, hehe. Katanya dia mau menjemput kita untuk makan bersama dan menyuruh kita menunggu di depan pintu kantor.”
Mendengar ucapan Xia Liu, Bai Wei menggelengkan kepalanya.
Sepertinya putranya itu benar-benar telah jatuh cinta.
Bai Wei mengambil tasnya dan mengenakan selendang di bahunya. “Kalau begitu, ayo kita pergi. Nanti aku mau bertanya bagaimana keadaannya di kantor. Sekelompok rubah tua itu pasti tidak setuju anak muda seperti Yihan menduduki posisi presiden direktur. Terus terang saja, mereka itu hanya merasa iri, terutama bibimu yang bernama Gu Jingru itu.”
Xia Liu mengangguk paham, lalu merangkeng lengan Bai Wei menuju lift.
Turun ke lantai bawah dan melangkah keluar gedung kantor, udara di luar terasa agak dingin. Anginnya tidak terlalu kencang, cukup membuat suasana hati terasa nyaman.
Sekitar beberapa menit kemudian, mobil SUV milik Gu Yihan berhenti tepat di hadapan Xia Liu dan Bai Wei.
Meskipun mobil Gu Yihan tampak bersahaja, kendaraan itu tetap menarik perhatian di depan pintu kantor.
Selain harganya yang sangat mahal, seluruh suku cadangnya juga telah diganti dan dimodifikasi, membuatnya terlihat sangat unik.
Gu Yihan membuka pintu mobil dan turun untuk menyambut Bai Wei dan Xia Liu agar bisa segera naik ke dalam mobil.
“Liu Liu, kamu duduk di depan, Ibu di belakang.”
Xia Liu tidak bisa berkata apa-apa!
Memamerkan kemesraan pun tidak perlu sampai seperti ini.