Bab 28 Takut, ya?
Pada saat itu, terdengar langkah kaki di depan pintu. Ayah dan anak itu serempak menoleh, dan tampaklah Shen Yanshi berdiri di ambang pintu. Melihat mereka berdua berdiri di ruang tamu, ia tersenyum dan berkata, "Selamat malam, Paman Meng. Aku tidak mengganggu kalian, kan?"
Meng Qiyuan sangat bersyukur atas kedatangannya yang tepat waktu, buru-buru menyuruh putrinya menyambut tamunya untuk duduk. Namun, Meng Cang tidak berniat untuk tinggal lebih lama. Dengan suara pelan ia berkata, "Aku kembali ke kampus dulu."
Meng Qiyuan cemas ingin menahannya, namun putrinya tak menghiraukan dan melangkah cepat ke luar rumah.
Baru saja sampai di gerbang halaman, Shen Yanshi sudah menyusul. Ia menatap wajah Meng Cang dengan hati-hati dan berkata, "A Cang, biar aku antar kau pulang."
Ia mengendarai mobil sport berwarna hijau terang yang sangat mencolok meski di malam hari. Meng Cang tak menolak, hanya mengangguk dan membuka pintu mobil untuk naik.
Sepanjang perjalanan, Meng Cang memandangi jendela, entah apa yang dipikirkannya. Begitu sampai di kampus, Shen Yanshi memarkirkan mobil di pinggir jalan dan bersikeras mengantarnya hingga ke asrama. Kampus selama liburan tampak sepi, tak seramai biasanya. Mereka berjalan cukup jauh tanpa bertemu banyak orang.
Angin malam bertiup lembut, membawa kesejukan yang jarang dirasakan. Meng Cang tidak terburu-buru kembali ke asrama; keduanya lalu duduk di sebuah bangku panjang. Shen Yanshi meliriknya dan bertanya, "Kau tidak takut sendirian di asrama?"
Meng Cang tersenyum dan menggeleng. "Aku jarang di asrama, hanya kembali untuk tidur malam saja. Lagi pula, bukan aku sendiri yang tinggal di lantai itu, masih ada belasan mahasiswa lain. Menurutku malah lebih nyaman, tidak seramai hari biasa."
Ia tidak ingin membicarakan dirinya sendiri, lalu menatap Shen Yanshi dan bertanya, "Bukankah kau bilang mau pergi berlibur ke tempat sejuk? Kenapa belum berangkat?"
Mendengar pertanyaan itu, Shen Yanshi tampak lesu dan berkata, "Kalau kau tidak ikut, buat apa aku pergi sendiri?"
Biasanya mereka selalu bepergian bersama. Meski Shen Yanshi punya banyak teman, setiap kali ada acara makan atau bersenang-senang, ia pasti mengajaknya. Ia memang selalu setia kawan.
Meng Cang hanya tersenyum samar dan tidak berkata apa-apa.
Shen Yanshi menatapnya hati-hati, ragu-ragu sejenak lalu berkata, "A Cang, bisakah kau berhenti kerja paruh waktu? Bagaimanapun juga, aku yakin Paman Meng tidak akan membiarkanmu sendirian di masa depan."
"Aku tidak pernah khawatir dia akan meninggalkanku," sahut Meng Cang pelan. "Dia sudah bertahun-tahun membantu membereskan masalah Paman dari pihak ibuku, tentu saja takkan menelantarkan putri kandungnya setelah punya keluarga baru."
"Lalu kenapa kau masih harus bersusah payah kerja paruh waktu?" nada suara Shen Yanshi terdengar cemas dan sedikit kesal.
Meng Cang tak kuasa menahan tawa. "Tenanglah. Bukankah mahasiswa kerja paruh waktu itu hal yang biasa? Lagipula aku tidak merasa itu berat, justru hidupku jadi terasa lebih bermakna."
Shen Yanshi masih sulit menerima. Beberapa waktu lalu, ketika Meng Cang tumbuh satu jerawat saja ia bisa mengeluh sepanjang hari, tapi sekarang, meski wajahnya menghitam dan terkena sengatan matahari, ia tetap berkata semuanya baik-baik saja.
Perasaan di hatinya bercampur aduk. Dengan suara lembut ia berkata, "A Cang, kalau kau kerja paruh waktu karena butuh uang, aku bisa meminjami. Kau boleh buat surat pinjaman, lalu bayar setelah lulus, bagaimana?"
Nada bicaranya sudah mengandung permohonan.
Meng Cang hanya bisa tertawa sekaligus merasa tak berdaya. "Bukan karena butuh uang aku kerja paruh waktu." Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Aku hanya ingin mandiri. Tak mungkin selamanya bergantung pada orang lain."
"Kau ingin memutus hubungan dengan Paman Meng?" Shen Yanshi terkejut.