Bab 29 Selalu Harus Belajar Menerima Kehilangan yang Datang Tiba-tiba
Meng Qi menatapnya sejenak, merasa sangat putus asa, lalu berkata, “Axi, kenapa kamu begitu polos? Hubungan darah itu bukan sesuatu yang bisa diputuskan begitu saja, aku tidak sebodoh itu, kan? Sudahlah, jangan bahas soal ini lagi. Kalau aku merasa lelah, aku akan beristirahat, jadi kamu tak perlu khawatir. Tentu saja, kalau aku kehabisan uang, aku juga akan meminjam ke kamu, puas?”
Shen Yansi masih ingin membujuknya lagi, tapi melihat keteguhannya, ia hanya bisa menyerah sementara.
Keduanya terdiam sejenak. Terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini, sampai-sampai Meng Qi sudah tak ingat kapan terakhir kali mereka duduk bersama seperti ini. Ia merasa dunia telah berubah dan segalanya tak lagi sama.
Ia teringat akan keluarga Shen, lalu ragu sejenak sebelum bertanya pelan, “Bagaimana keadaan keluargamu?”
Akhir-akhir ini hidupnya memang tidak mudah, tapi Shen Yansi juga tidak lebih baik. Ia sama sekali enggan membicarakan masalah keluarganya, tak ingin menambah beban pikiran Meng Qi, lalu menjawab dengan setengah hati, “Ya, begitulah.”
Saat itu tiba-tiba Meng Qi teringat ucapan Shen Ziye waktu itu: “Dia memang tidak bisa diam saja.” Hatinya langsung diliputi kecemasan, ia bertanya, “Itu... Shen Ziye... apakah dia melakukan sesuatu?”
Nama Shen Ziye sudah lama menjadi sosok yang sangat dibenci Shen Yansi. Ia terkekeh dingin, lalu berkata dengan nada geram, “Dia tidak perlu berbuat apa-apa, rumahku sudah cukup kacau.”
Shen Yansi baru meninggalkan Meng Qi setelah mengantarnya naik ke lantai atas. Setelah ia pergi, Meng Qi hanya membersihkan diri seadanya lalu berbaring di tempat tidur. Malam itu begitu sunyi, tak terdengar satu pun suara. Dalam keheningan itu, ia tak mampu mengendalikan pikirannya, satu per satu mengingat kembali ucapan ayahnya malam ini. Meski ia sudah tahu jawabannya, hatinya tetap terasa seperti diiris-iris.
Ia teringat sebuah kalimat yang entah pernah ia baca di mana: Seseorang akhirnya harus belajar menerima kehilangan yang datang mendadak—susu yang tumpah, dompet yang hilang, cinta yang tercerai, persahabatan yang hancur—ketika semua usaha tak lagi berguna, satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menerima.
Dan yang harus ia terima adalah sesuatu yang tak pernah ia miliki. Justru karena tak pernah benar-benar mendapatkannya, ia menjadi semakin takut, semakin khawatir akan kehilangan. Itulah sebabnya ia terus menipu diri sendiri, menolak menghadapi kenyataan.
Ia teringat momen-momen bersama ibunya, kadang begitu dekat namun terasa sangat jauh, begitu jauh hingga tak terjangkau. Malam ini, meski ayahnya terus menyangkal, suaranya terdengar begitu lemah dan tak berdaya.
Ibunya memang tak pernah mencintainya, sejak awal pun tidak.
Rasa sakit yang tajam merambat di dadanya, membuatnya menggulung tubuh erat-erat, seakan dengan begitu ia bisa sedikit meredakan perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
******
Hari itu Shen Ziye sedang bertemu dengan seorang klien ketika ponselnya yang tergeletak di samping bergetar. Di layar terpampang sebuah nomor asing. Ia menolaknya tanpa ragu dan tetap mendengarkan permintaan kliennya. Setelah urusan selesai dan ia kembali ke hotel, ia baru membuka ponselnya dan mendapati ada satu pesan baru.
Pesan itu berasal dari nomor asing yang sama, isinya hanya satu kalimat sederhana, memberitahukan bahwa ini dari Meng Qiyuan dan memintanya menelepon balik jika ada waktu.
Shen Ziye mengernyitkan dahi, tapi tetap menelpon balik. Telepon itu langsung diangkat, tanpa basa-basi, Meng Qiyuan langsung bertanya, “Ziye, aku ingin tahu, apakah putriku, Aqi, pernah meneleponmu?”
Shen Ziye tidak mengerti kenapa dia harus mencari Meng Qi lewat dirinya, lalu menjawab, “Tidak pernah, aku juga tidak sedang berada di Kota Pingtan.” Ia mendengar nada lelah di suara Meng Qiyuan, ragu sejenak lalu bertanya, “Ada sesuatu yang terjadi?”
Meng Qiyuan menelponnya memang karena sudah kehabisan akal, berharap masih ada harapan. Meng Qi sudah menghilang selama satu minggu penuh. Dalam seminggu ini ia sudah menghubungi semua orang yang mungkin pernah dihubungi putrinya, namun tetap saja tak ada kabar. Shen Yansi pun sudah berkali-kali menelpon dan mengirim pesan, namun hanya mendapat balasan singkat: ia baik-baik saja, tak perlu khawatir, ia hanya ingin sendiri. Setelah itu, semua pesan dan telepon tak lagi dijawab.