Bab Tiga Puluh Tiga: Jejak Burung Kertas
Beberapa saat kemudian, beberapa orang bergegas masuk ke gang tempat kejadian sebelumnya.
“Tempat terakhir sinyal muncul adalah di sini,” kata salah satu dari mereka.
“Ya,” pemimpin mereka, seorang pria paruh baya, menganggukkan kepala. Tasbih yang terus berputar di tangannya akhirnya berhenti sejenak.
“Qiang sudah tiada. Cari apakah ada jejak yang tertinggal.”
“Baik!”
Mendengar perintah yang diucapkan dengan tenang, namun tegas, hati yang lain langsung bergetar. Mereka tahu, pemimpin mereka sedang marah.
Meskipun malam telah larut, itu sama sekali tak jadi hambatan bagi mereka. Ada yang melompat ke atas gang untuk melihat situasi dari ketinggian, ada juga yang menyisir permukaan tanah mencari petunjuk.
Hanya satu pemuda yang tetap tak bergerak, berdiri diam di sisi pria paruh baya itu, wajahnya setenang air danau.
Pria paruh baya itu pun tak mempermasalahkannya. Ia sudah lama melanglang buana, bertemu berbagai macam orang, dan setelah masuk ke Taman Menara Ajaib yang aneh ini, ia semakin percaya diri. Berkat kemampuannya yang menonjol, ia berhasil mengumpulkan banyak orang di sekelilingnya dan membentuk tim yang sekarang.
“Kakak, Mata Darah Penglihatan Menembus sudah di Qiang, sekarang...”
Setelah ragu sejenak, pemuda itu akhirnya membuka suara.
“Sudah tiada,” Tang Ao menggeleng, tanpa memperlihatkan ekspresi apa pun di wajahnya.
Bertahun-tahun berkecimpung di dunia abu-abu membuatnya terbiasa menyembunyikan perasaan, namun memikirkan Mata Darah Penglihatan Menembus yang telah hilang itu, hatinya tetap saja terasa nyeri.
Ia menilai Qiang bocah yang berbakat, layak diinvestasikan. Maka ia rela berkorban, memberikan barang langka itu demi membina anggota inti, namun tak disangka, orangnya kini telah tewas.
Setelah orangnya tewas dan Mata Darah Penglihatan Menembus telah menyatu, maka kemungkinan besar benda itu ikut lenyap, atau, kemungkinan kecil, diambil sebagai rampasan oleh orang yang membunuhnya.
Karena ia percaya pada penilaian Qiang, maka ia pun percaya ucapan bocah itu, mengira lawannya hanyalah seorang pemula. Kendati sudah mewanti-wanti untuk tetap waspada, ia tetap saja tidak terlalu mengindahkan. Kali ini, ia benar-benar salah perhitungan.
Berdiri di gang yang gelap, sembari memutar tasbih di tangannya, tak seorang pun tahu apa yang tengah dipikirkan Tang Ao.
“Kakak!” terdengar panggilan tak jauh dari sana.
Mendengar itu, Tang Ao dan pemuda di sampingnya segera melangkah menghampiri.
“Di sini ada bercak darah!”
Seseorang berjongkok, menunjuk ke arah noda darah kecil yang nyaris tak terlihat—tempat Murong Xun sebelumnya menembak jatuh pemuda itu dengan satu anak panah.
“Bersih dan rapi, bahkan jasadnya pun tak tersisa. Ini jelas tangan profesional!” Tang Ao tersenyum sinis.
“Ade!”
“Ya, saya di sini!”
Seorang pemuda yang tengah memeriksa jejak di ketinggian menyahut, melompat turun dan bergabung bersama yang lain. Dari arah lain, satu orang juga mendekat.
“Bisakah kau melacaknya?” tanya Tang Ao pada Ade.
“Akan kucoba.”
Ade mengeluarkan secarik kertas merah, menyerap noda darah di tanah, lalu melipatnya beberapa kali hingga membentuk burung kertas kecil.
“Ini darah Qiang. Aku akan mencoba melacak lewat sisa auranya. Namun, orang yang membunuhnya hanya bersentuhan singkat, sehingga aura mereka tak banyak bercampur. Aura Qiang akan segera menghilang. Kita hanya punya sedikit waktu, belum tentu bisa mengejar.”
“Coba saja,” ujar Tang Ao datar.
“Siap!”
Ade tak berani berkata apa-apa lagi. Ia segera membuat beberapa gerakan tangan, burung kertas itu pun mengepakkan sayapnya dengan goyah, lalu terbang menuju satu arah.
Itulah arah Murong Xun pergi sebelumnya.
Kelima orang itu langsung berlari mengikuti burung kertas tersebut tanpa ragu.
Meskipun burung kertas itu terbang cukup cepat, mereka dengan mudah dapat mengikutinya berkat kemampuan mereka.
Kini yang ingin diketahui Tang Ao hanyalah satu: siapa sebenarnya yang mampu menumbangkan dua tangan kanannya sekaligus.
Harus diketahui, demi mendapatkan keuntungan di dunia ini, ia rela menunda misi kenaikan tingkat, bahkan mengeluarkan barang berharga untuk memperkuat para bawahannya. Tujuannya jelas, agar lebih mudah melalui ujian dunia kenaikan tingkat.
Baginya, Qiang adalah orang yang polos dan mudah dikendalikan, sementara Li Jing adalah orang yang lurus, tanpa banyak keinginan, seorang petarung penting yang bisa dijadikan inti. Tak disangka, baru saja ikut misi pertama, mereka sudah tumbang. Kehilangan orang mungkin bukan masalah besar, tapi investasinya di awal benar-benar sia-sia.
“Siapa pun kau, kau pasti mati!” tekadnya bulat. Ia tak akan membiarkan orang itu mati dengan mudah.
Sebagai salah satu dari sedikit orang di zona pemula yang siap naik tingkat, ia punya hak untuk berkata demikian.
Hanya dengan memikirkan berapa besar biaya yang telah ia keluarkan demi membina Li Jing dan Qiang, Tang Ao pun merasakan sesak di dada.
Tak hanya peningkatan atribut, Mata Darah Penglihatan Menembus milik Qiang saja sudah bernilai enam ribu koin taman, sedangkan Busur Emas Li Jing adalah perlengkapan biru dengan kemampuan akurasi sempurna, termasuk kategori langka dan bisa dijual hingga seribu lima ratus sampai dua ribu koin. Jika dihitung, kerugian totalnya lebih dari sepuluh ribu koin taman. Siapa pun pasti akan murung mengalaminya.
Menyadari suasana hati Tang Ao yang buruk, yang lain pun enggan banyak bicara, takut kena marah.
Sebagai salah satu penguasa zona pemula, Tang Ao sangat disegani oleh bawahannya.
Ade terus mengendalikan burung kertas itu, kekuatannya cepat terkuras. Wajahnya pucat, ia pun terpaksa mengeluarkan sebuah buah stroberi dan memakannya dengan berat hati.
Perlahan warna di wajahnya kembali pulih seiring dengan pulihnya kekuatan.
Setelah melewati beberapa jalan, mereka sadar burung kertas itu membawa mereka ke arah yang semakin terpencil, menjauh dari keramaian, menuju sisi gelap kota besar yang tak diketahui banyak orang.
Meski lingkungan buruk dan bau busuk menusuk hidung, mereka jelas bukan pemula seperti Qiang dan Li Jing. Segala macam situasi sudah sering mereka hadapi.
Semua tetap melangkah maju dengan tenang.
“Tak ada seorang pun di sekitar sini,” pemuda di samping Tang Ao berbisik.
“Ya,” Tang Ao mengangguk.
Jika Zhao Jun sudah berkata begitu, berarti ini memang wilayah terbengkalai, sehingga tak ada penduduk.
Di tempat seperti ini, lebih mudah tumbuh hal-hal jahat dan aneh.
Pada saat-saat seperti ini, kedatangan lawan ke sini hanya punya satu kemungkinan.
“Apa yang sebenarnya ingin dilakukan di sini?” tanya Tang Ao dalam hati.
Membunuh makhluk aneh kelas satu tak membawa banyak keuntungan, tak layak membuang-buang waktu. Cairan penguat milik Biro Khusus memang bernilai tiga ratus koin taman, tapi tidak perlu repot-repot, cukup membawanya pulang setelah membunuh makhluk aneh.
Dalam situasi seperti ini, ia benar-benar tak mengerti apa motif lawannya datang ke tempat seperti ini.
Bagi orang seperti mereka, tentu saja yang dicari adalah makhluk aneh yang lebih kuat, agar bisa menukarkan poin perburuan dengan keuntungan besar.