Bab 82: Keputusan (Bagian Keempat)
Setelah makan, Ming Han buru-buru kembali ke rumah sakit. Saat itu malam sudah turun, udara dingin menusuk. Satu bulan lagi, musim semi yang hangat akan tiba, pikirnya.
Chen Li membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan pakaian. Ia keluar terburu-buru malam itu, hanya mengenakan jaket jins. Melihat itu, Ming Han segera melepas jaket tebalnya dan menyelimutkannya ke tubuh Chen Li. Jaket besar itu hampir menelan tubuh mungil Chen Li.
“Chen Li, kebiasaanmu lebih mementingkan gaya daripada kehangatan membuatku sedih. Aku selalu mengira kau tipe perempuan yang lebih menekankan keindahan batin,” kata Ming Han.
Chen Li melirik Ming Han kesal, namun ia sudah terbiasa dengan sikap santai laki-laki itu.
Mereka berjalan kembali ke rumah sakit, dan melihat Da Xu mondar-mandir di depan gerbang seperti ayam kehilangan induk.
“Da Xu!” sapa Ming Han.
Da Xu menoleh, menatap Chen Li dengan curiga. “Astaga Ming Han, perempuan yang kau ajak ini mirip sekali dengan Chen Li!”
Ming Han baru menyadari kalau Da Xu belum tahu Chen Li sudah kembali. Namun, bisa berpikir seperti itu memang membuktikan cara pikir Da Xu sedikit berbeda dari kebanyakan orang.
“Ini memang Chen Li.”
Da Xu memegangi dadanya, “Chen Li, kenapa kau bersama si bajingan ini? Kau tahu kan aku lebih tampan dan lucu darinya.”
Chen Li melirik Da Xu, “Ming Han lebih tampan.”
Da Xu menepuk kening, seolah menerima pukulan telak.
Setelah itu, Da Xu mulai menanyai Ming Han soal keadaan Yu Hang. Begitu tahu kondisi kesehatan kakeknya, wajah Da Xu pun menjadi serius, hal yang jarang sekali terlihat.
“Ming Han, menurutmu Yu Hang akan tetap melanjutkan SMA-nya?”
Ming Han terdiam. Jujur saja, setelah musibah ini, ia pun tak bisa menebak keputusan Yu Hang.
“Aku tak tahu,” jawabnya.
Mata Da Xu membelalak, “Ming Han, bagaimanapun juga, kita tak boleh membiarkan Yu Hang putus sekolah. Meski aku nanti berhenti main game atau berhenti cari gebetan, aku tak sudi melihat sahabatku menggelandang di luar sana.”
Semakin lama Da Xu bicara, semakin emosional ia jadinya, sampai-sampai air matanya hampir jatuh.
Meskipun Ming Han merasa pola pikir Da Xu agak aneh, ia tetap tersentuh oleh ketulusan sahabatnya itu.
Semua orang mengira Da Xu hanya bisa main game, tak suka belajar, dan tak dewasa. Namun Da Xu benar-benar sahabat yang baik!
“Tenang saja! Kita bertiga akan baik-baik saja.”
...
Begitu melihat Yu Hang, Da Xu langsung memeluknya erat-erat.
Di saat itu, yang paling canggung adalah Huang Ying. Dalam hati ia menggerutu: “Ini adegan gue! Gimana perasaan gue coba!”
Yu Hang diam-diam mendorong Da Xu, “Jangan lebay.”
Ming Han buru-buru menarik Da Xu menjauh, takut kalau-kalau anak itu tiba-tiba menangis meraung. Soalnya, emosi nenek Yu Hang baru saja stabil, tak bijak kalau kembali membuatnya tertekan.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ming Han.
Wajah Yu Hang sudah jauh lebih baik. “Sudah stabil. Kata dokter, seminggu lagi boleh pulang. Ming Han, terima kasih, hari ini kamu sudah repot-repot. Tolong antar dua gadis ini pulang.”
Lalu ia berpaling ke Da Xu, “Bro, kau jauh-jauh datang dari kampung, aku benar-benar terharu.”
Da Xu mengibaskan tangan, “Kita ini sahabat, jangan pakai kata-kata resmi. Lagi pula, malam ini aku juga mau begadang di warnet, ha ha…”
“Kalau begitu, aku tidak perlu mengantar kalian.”
Saat itu, Ming Han tiba-tiba berkata kepada Yu Hang, “Aku ada sesuatu mau dibicarakan.”
Karena tidak dibicarakan di tempat itu, jelaslah kalau hal ini belum ingin diketahui oleh kedua gadis itu. Huang Ying pun segera paham, lalu menggandeng tangan Chen Li, “Kalau begitu, kita tunggu di luar.”
Da Xu juga pamit, “Aku pergi ke warnet dulu! Bro, kalau nanti kelaparan, telpon aku. Aku pasti antarkan nasi goreng panas-panas buatmu.”
Setelah semua pergi, Yu Hang tiba-tiba berkata dengan suara lirih, “Sebenarnya aku ini cukup beruntung. Di saat seperti ini, aku masih punya kalian sebagai sahabat.”
Ming Han mengangguk. Hidup ini panjang dan membosankan. Tanpa beberapa sahabat sejati, hidup benar-benar hambar.
“Oh ya Ming Han, ada apa?”
Ming Han mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari sakunya. “Ini informasi tentang Klub Qianyang.”
Yu Hang menunduk, membaca dengan saksama.
“Klub Qianyang hanyalah anak perusahaan dari Tianqi Entertainment, sebuah perusahaan terkenal di provinsi ini. Skala perusahaannya mencapai miliaran. Mereka adalah agensi pencetak bintang terbesar di provinsi ini. Artinya, tujuan utama mereka mengontrak kita adalah untuk menciptakan bintang basket yang punya nilai komersial besar.”
Yu Hang terkejut. Ia sama sekali tak menyangka Ming Han sudah menganalisis data sedetail itu. Ia pun mulai kagum pada kemampuan sahabatnya itu dalam menghadapi masalah.
“Kau tahu Wu You?” tanya Ming Han.
Yu Hang mengangguk. Itu adalah legenda streetball yang terkenal di seluruh provinsi. Ia sering tampil di berbagai acara basket komersial, dan konon kekayaannya sudah miliaran.
Ming Han berkata, “Wu You adalah bintang basket yang dibina langsung oleh Tianqi.”
Biasanya, kalau mereka bisa membina satu bintang seperti Wu You, itu sudah cukup untuk menghidupi ratusan orang di perusahaan.
“Mereka ini sedang menjaring pemain sebanyak-banyaknya,” Yu Hang mulai paham maksud Klub Qianyang.
“Yu Hang, begitu kita menandatangani kontrak, semua pertandingan dan kegiatan kita akan memakai label mereka. Kalau kita mulai punya pengaruh di pasar, kita akan mendapat bayaran tinggi,” kata Ming Han dengan serius.
Yu Hang terdiam sejenak. “Ming Han, ini sebenarnya proses penciptaan bintang, kan? Tapi, setiap tahun berapa banyak yang ikut, dan berapa yang sukses? Hidup dari model seperti ini, mungkin hanya seratus orang di provinsi ini yang mampu!”
Ming Han menatap Yu Hang, bicara pelan-pelan, “Tapi kita memang tak punya apa-apa sejak awal.”
Yu Hang paham maksud Ming Han. Dari awal, mereka tak punya apa-apa. Kalaupun gagal, toh mereka hanya kembali ke titik awal, tak ada ruginya.
“Ming Han, aku sudah bilang akan ikut keputusanmu. Kalau kau sudah mantap, mari kita jalani ini tanpa ragu!”
Yang paling sering dipikirkan Ming Han saat itu adalah, asalkan ia dan Yu Hang bisa keluar dari situasi ini, banyak masalah yang menimpa Yu Hang pasti bisa teratasi.
Sumber dari semua masalah itu sebenarnya hanya satu: uang yang terlalu sedikit.
Dua pemuda delapan belas tahun itu jelas tak pernah membayangkan, keputusan hari itu akan mengubah seluruh hidup mereka. Saat itu, mereka sama sekali tidak tahu seperti apa masa depan menanti.
Keberhasilan terasa begitu jauh, bahkan sulit diraih.
Setelah berdiskusi selama sepuluh menit, Ming Han dan Yu Hang keluar rumah sakit, mendapati dua gadis itu sudah mulai tak sabar menunggu.
“Ming Han, aku dan Yu Hang tak pernah serepot kalian. Kalian berdua memang cocok jadi pasangan!” Huang Ying mengeluh kesal.
Ming Han hanya tersenyum canggung. “Ayo, aku traktir kalian makan malam.”
“Kalau Yu Hang?” Huang Ying, seperti biasa, tetap khawatir akan seseorang.
“Aku sudah memesankan makanan untuknya.”
“Hahaha… Ming Han, aku mau makan bebek panggang, ayam panggang, angsa panggang!” Huang Ying menyebutkan satu per satu dengan semangat.
Chen Li melirik Huang Ying, “Kau ini babi, ya?”