Bab 32 Dia ingin menjadi pemalas yang gemar emas
Jenderal Helan yang biasanya tak bergeming meski gunung runtuh di depan matanya, kini tak mampu menyembunyikan kegembiraan di dalam hatinya setelah mendengar pujian dari Yun Jiu.
Saat matanya yang segelap tinta memandang ke arah Yun Jiu, tersirat sebuah rasa suka yang bahkan tidak ia sadari sendiri. Rasa suka pemuda itu penuh dengan kendali dan pengekangan, begitu terkendali hingga ia pun mampu menipu dirinya sendiri. Namun, pola pikir Yun Jiu selalu tajam, ditambah lagi dengan pengingat yang diberikan oleh 2233 sebelumnya. Rasa suka yang mengalir lembut di sekelilingnya itu membuat Yun Jiu sulit untuk tidak menyadarinya.
Akan tetapi, jika dipikirkan kembali dengan saksama, sikap Helan Ting terhadapnya saat ini hampir tidak ada bedanya dengan masa lalu. Dalam lamunannya, Yun Jiu bahkan mulai curiga apakah ia terlalu terpengaruh oleh 2233 hingga mulai menjadi narsistik.
"A-Jiu?" Helan Ting memanggil namanya karena melihat Yun Jiu menatapnya dengan melamun.
Yun Jiu segera tersadar, ia menatap pria itu dengan senyum cerah. Tanpa menjawab apakah ia menyukainya atau tidak, ia justru berkata, "Sangat tampan."
Jawaban yang tidak nyambung ini justru samar-samar mengungkapkan kesukaannya. Setiap orang pasti memiliki hobi kecil yang tidak diketahui orang lain, dan Yun Jiu tidak terkecuali. Kesukaan Yun Jiu sangat jelas: ia menyukai tipe pria yang keibuan dan penuh perhatian. Sebelum bertransmigrasi, Yun Jiu selalu penasaran bagaimana rasanya jika ia bisa memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada seseorang seperti itu. Sayangnya, hingga saat ini, ia belum pernah merasakannya. Ia hanya berharap setelah menyelesaikan tugasnya, ia bisa hidup dengan bebas.
Melihat Yun Jiu kembali melamun, Helan Ting menunduk menatap lengannya sendiri dengan penuh pertimbangan.
Dapur segera menyiapkan bahan-bahan untuk memanggang, lalu disajikan sepiring demi sepiring di halaman. Hari ini, Helan Yue dan yang lainnya sedang sibuk dengan urusan dinas, sehingga hanya tersisa Yun Jiu dan Helan Ting di halaman kecil itu.
"Tidak lama lagi, titah kekaisaran pasti akan tiba," Yun Jiu mengedipkan matanya pada Helan Ting dengan penuh semangat, "Bagaimana jika saat itu tiba, kita langsung menyerang dan merebut Kota Yuedu?"
Setiap kali membahas tentang penaklukan kota atau pemberontakan, Yun Jiu selalu terlihat jauh lebih bersemangat dari biasanya. Helan Ting mendongak menatap Yun Jiu di sampingnya di sela-sela memanggang daging. Sudut bibirnya terangkat sedikit, "Lalu, bagaimana rencanamu untuk menaklukkan Kota Yuedu?"
Selain wilayah barat laut, Negara Sang masih memiliki sembilan provinsi besar lainnya. Kota Yuedu termasuk dalam Provinsi Wenzhou yang berbatasan dengan wilayah barat laut. Jenderal yang menjaga Kota Yuedu adalah teman lama Xie Changfeng selama bertahun-tahun, yaitu Yue Changming. Kebiasaan Yue Changming dalam mengatur formasi pasukan tidak ada yang lebih mengenalnya selain Xie Changfeng, sehingga bisa dikatakan menaklukkan Kota Yuedu bukanlah hal yang sulit.
Kesulitannya adalah bagaimana cara merebut Kota Yuedu tanpa mengorbankan satu prajurit pun, sekaligus menarik Yue Changming untuk tunduk di bawah komandonya. Saat mata mereka bertemu, Yun Jiu tahu bahwa pemikiran mereka saat ini sejalan.
"Kudengar Jenderal Yue adalah orang yang mudah goyah pendiriannya dan sangat penurut," Yun Jiu tersenyum pada Helan Ting, matanya yang cerah tampak licik, "Kebetulan aku mengenal seseorang yang sangat pandai bicara."
Mendengar hal itu, Helan Ting tahu bahwa Yun Jiu pasti telah merekrut talenta hebat entah dari mana. "Baiklah, kalau begitu aku tunggu kabar baik dari A-Jiu." Helan Ting meletakkan daging panggang ke piring di depan Yun Jiu, lalu beralih mengambil tusukan daging mentah untuk dipanggang kembali.
Keahlian memanggang Helan Ting sangat baik, bahkan jauh lebih baik daripada koki mana pun di kediaman jenderal. Halaman itu dipenuhi asap tipis, satu orang makan dengan lahap, dan satu orang lagi memanggang dengan penuh perhatian.
"Jenderal," Yun Jiu menyodorkan tusukan daging panggang ke mulut Helan Ting, "Jangan terburu-buru memanggang, makanlah dulu."
Melihat daging yang disodorkan ke mulutnya, Helan Ting tidak menolak. Karena gadis itu berkata tidak perlu terburu-buru, artinya ia sudah merasa setengah kenyang dan ingin beristirahat sejenak.
"Baik." Helan Ting mengeluarkan sebagian arang dari tungku panggangan, lalu meletakkan daging yang belum matang di atasnya agar terpanggang perlahan. Saat sudah matang nanti, mungkin Yun Jiu bisa memakannya lagi.
Selama dua tahun tinggal di wilayah barat laut, Yun Jiu dan Helan Ting paling sering menghabiskan waktu bersama. Awalnya, Yun Jiu hanya menganggap Helan Ting sebagai target tugasnya, setiap hari ia hanya memikirkan cara untuk mendapatkan kepercayaannya. Namun seiring berjalannya waktu, Yun Jiu merasa bahwa Helan Ting adalah atasan sekaligus teman yang sangat menyenangkan.
Setelah membalik daging panggang, Helan Ting berinisiatif bertanya, "A-Jiu, apa yang kau sukai? Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?" Sebentar lagi adalah hari ulang tahun A-Jiu. Helan Ting ingin bertanya agar bisa menyiapkan hadiah untuknya. Ia selalu merasa Yun Jiu seperti dewa yang tidak memiliki keinginan apa pun. Selain pilih-pilih soal makanan, ia seolah tidak memedulikan hal lain. Oleh karena itu, ia sempat bingung harus memberikan apa.
"Apa yang aku inginkan..." Yun Jiu berpikir sejenak dengan serius, lalu menjawab dengan mantap, "Aku ingin menjadi seekor 'ikan asin' yang kaya raya."
Istilah kaya raya mudah dimengerti, tetapi... apa maksud dari 'ikan asin'?
"Apa itu ikan asin?" Helan Ting yakin bahwa 'ikan asin' yang dimaksud Yun Jiu bukanlah jenis ikan yang bisa dimakan.
"Ikan asin adalah seseorang yang setiap hari bangun saat sudah puas tidur, makan apa pun yang diinginkan, melakukan apa pun yang disukai, atau hanya berbaring sepanjang hari tanpa memikirkan apa pun." Yun Jiu menopang dagunya dengan satu tangan, sudut bibirnya terangkat dengan tatapan penuh kerinduan.
Yun Jiu, yang di kehidupan modernnya terus berjuang keras mulai dari sekolah dasar hingga universitas, dan terus bekerja tanpa henti, sudah merasa lelah. Karena di kehidupan sebelumnya ia meninggal akibat kelelahan bekerja, di kehidupan ini ia hanya ingin hidup santai dan menjadi ikan asin yang bebas dari beban. Ia ingin menjalani kehidupan yang melambat.
"A-Jiu bisa menjadi seekor... ikan asin yang kaya raya sekarang juga." Helan Ting memiliki gudang pribadi, "Barang-barang di gudang selatan, silakan pilih sesukamu."
Ia memiliki banyak barang antik dan harta karun yang disimpan di gudang selatan. Karena ia lama tinggal di ibu kota dan tidak memiliki banyak keinginan material, barang-barang di sana tidak pernah tersentuh. Dulu, saat ibunya masih hidup, ibunya sering menyimpan barang-barang menarik di sana dan mengatakan itu untuk calon istrinya kelak. Sekarang, Helan Ting berpikir jika Yun Jiu menyukainya, ia bisa mengambil semuanya. Tidak ada alasan lain, ia hanya ingin Yun Jiu merasa senang.
"Gudang selatan?" Yun Jiu tahu tempat itu. Ia pernah mendengar dari Helan Yue bahwa gudang pribadi Helan Ting penuh dengan harta karun.
"Ya, aku ingat ada dua mutiara malam di dalamnya, kau pasti akan menyukainya." Helan Ting tidak ingat detail isinya, ia hanya terkesan dengan dua mutiara malam yang istimewa itu.
"Lupakan saja." Yun Jiu menggeleng tegas, "Seorang ksatria mencintai harta, namun ia mendapatkannya dengan cara yang benar." Selama bertahun-tahun ini, ia sudah mengumpulkan banyak emas dan perak dari perdana menteri, yang ia simpan secara diam-diam di bawah tempat tidur di kamarnya. Emas batangan yang ia simpan saja sudah cukup untuk kehidupannya di masa depan.
"Ini adalah pemberianku untuk penasihat A-Jiu, terima kasih atas kerja kerasmu selama bertahun-tahun ini." Helan Ting tahu Yun Jiu sudah mulai tertarik, ia pun membujuknya dengan tenang. Apa pun motif pribadinya, Helan Ting selalu ingin memberikan lebih banyak hal lagi kepada Yun Jiu.
"Sudahlah." Yun Jiu ragu sejenak, namun tetap menolak, "Dibandingkan mutiara malam, aku lebih suka perhiasan yang terbuat dari emas." Bisa dipakai sebagai perhiasan, sekaligus bisa digunakan saat keadaan darurat.
"Baiklah." Helan Ting membatin dalam hati, ia akan mengambil beberapa batang emas dan memesan beberapa set perhiasan emas murni sebagai hadiah ulang tahun untuknya!