Bab Delapan Puluh Sembilan: Tuan Mayat Hidup yang Baru (Tamat)
Tak berminat menyaksikan adegan-adegan canggung itu, Wang Yu sudah keluar dari kamar tidur Nyonya Zhe sebelum Wencai dan Qiusheng sempat bertindak. Namun, ia tidak langsung meninggalkan bagian belakang rumah. Bagaimanapun juga, menonton pertunjukan tidak mungkin dari jarak delapan belas meter, bukan?
Tak lama kemudian, Wencai dan Qiusheng yang awalnya ingin melihat bagaimana guru mereka menenangkan Nyonya Zhe, juga diusir keluar. Melihat pintu kamar yang kini tertutup rapat oleh Guru Kesembilan, Wencai tersenyum lebar, “Tak kusangka Guru begitu aktif hari ini. Qiusheng, kurasa kali ini Nyonya Zhe pasti mendapatkan keinginannya. Tapi, rasanya apa yang kita lakukan ini sedikit tidak adil pada Guru.”
Qiusheng yang sedang menguping di sudut dinding kurang suka mendengar ucapan itu, “Kita hanya membantu Guru menemukan teman hidup di perjalanan hidupnya, mana mungkin itu tidak adil?”
Mendengar Qiusheng menjelaskan dengan serius, Wang Yu yang menahan tawa akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Qiusheng memang luar biasa, jelas-jelas mereka berdua menjebak Guru Kesembilan, tapi sekarang malah mengaku demi kebaikan sang guru. Entah nanti Guru Kesembilan akan memperlakukan mereka berdua seperti apa setelah keluar—apakah akan digantung dan dipukuli? Atau… tetap digantung dan dipukuli?
Saat Wang Yu tertawa, tiba-tiba terdengar tawa terbahak-bahak dari dalam kamar. Suara tawa yang begitu dekat di telinga membuat Wencai dan Qiusheng saling berpandangan. Perlukah Nyonya Zhe tertawa sekencang itu? Walau semua tahu ia telah menanti momen ini puluhan tahun, tetap saja terlalu heboh.
“Qiusheng, melihat Nyonya Zhe begitu lancar mendapatkan Guru, kurasa rencana selanjutnya tak dibutuhkan lagi. Kalau begitu, bukankah berlebihan kalau kita terus menguping di depan pintu?” Wencai, yang belum pernah mengalami urusan pria dan wanita, akhirnya tak tahan juga. Ia pun menjadi yang pertama menyarankan untuk pergi.
Qiusheng yang pernah menjalin hubungan dengan arwah perempuan bernama Dong Xiaoyu memang sedikit lebih berpengalaman, namun di depan Wencai dan Wang Yu, ia juga tak mau terlihat terlalu ahli. Setelah menunggu sejenak dan tidak mendengar bel penanda bantuan yang dijanjikan Nyonya Zhe, ia akhirnya mengangguk setuju pada usulan Wencai.
Wang Yu, yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar, juga tidak keberatan. Lagipula, mata batinnya belum cukup hebat untuk menembus dinding. Saat ketiganya hendak pergi, tawa keras dari dalam kamar tiba-tiba terhenti.
Hal ini membuat Wencai dan Qiusheng yang sudah berniat pergi jadi ragu-ragu. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana? Dalam kebimbangan, mereka berhenti melangkah. Wang Yu pun mengikuti mereka.
Selanjutnya, seharusnya adalah adegan Guru Kesembilan dipukul dengan palu kayu oleh Nyonya Zhe hingga pingsan dan justru terjebak. Entah apakah Nyonya Zhe masih butuh bantuan pistol air, dan apakah Guru Kesembilan akan muntah setelah mendengar pengakuan cinta Nyonya Zhe yang kampungan itu.
Saat Wang Yu dengan santai menonton dari kejauhan, tiba-tiba terdengar desahan berat dan teredam dari dalam kamar. Wang Yu yang sedang asyik ‘menonton’ jadi terkejut setengah mati. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar itu? Apakah selera Guru Kesembilan berubah? Atau Nyonya Zhe berhasil mengetuk hatinya dengan ketulusan?
Dengan pertanyaan itu, Wang Yu bergegas meninggalkan halaman belakang Wenmiyuan. Ia memang berniat menonton, tapi tak ingin sampai menguping begitu dekat. Walau tak jelas kenapa Guru Kesembilan akhirnya benar-benar terjebak oleh Nyonya Zhe, Wang Yu sama sekali tak berniat mencampuri urusan itu ataupun masuk ke kamar untuk ‘menyelamatkan’ Guru Kesembilan.
Urusan laki-laki dan perempuan sungguh sulit dijelaskan. Siapa tahu, setelah kejadian ini, Guru Kesembilan malah benar-benar jatuh hati pada Nyonya Zhe. Kalau ia masuk sekarang, bukankah justru akan menyulitkan dirinya sendiri?
Entah karena Nyonya Zhe tak mau melepaskan, atau Guru Kesembilan yang baru mencicipi manisnya tak ingin bangun, kamar Nyonya Zhe baru benar-benar tenang menjelang fajar keesokan harinya. Bagaimana Wang Yu tahu? Semua berkat dua ‘harta karun’ Wencai dan Qiusheng yang setia menguping hampir semalaman. Mereka memang nekat, tak takut Guru Kesembilan keluar dan menguliti mereka hidup-hidup.
Meskipun Guru Kesembilan yang sudah berada di tingkat pemuja arwah sibuk di dalam kamar, ia tetap tak sampai kehilangan kesadaran terhadap apa yang terjadi di luar kamar.
Pagi harinya, Wang Yu masuk ke aula utama Wenmiyuan sambil membawa sarapan berupa cakwe dan susu kedelai. Berbeda dengan rumah mayat, Wenmiyuan memang cukup luas, tapi tak sampai mewah hingga memiliki ruang makan terpisah. Jadi, aula utama berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus tempat makan.
Kebetulan, Guru Kesembilan yang memakai baju panjang khas dan sedang mengancingkan kancing depan, berpapasan langsung dengannya. Melihat wajah Guru Kesembilan yang pucat dan kantung mata hitam seperti panda, Wang Yu bisa membayangkan betapa berat malam yang dilaluinya. Namun, melihat air muka Guru Kesembilan yang tenang, Wang Yu merasa rencana Nyonya Zhe tampaknya benar-benar berhasil.
Sebagai seorang pendeta yang sangat tradisional, Guru Kesembilan sangat memegang teguh aturan-aturan lama. Kalau tidak, ia takkan rela melepaskan Mi Qilian, cinta masa kecilnya, hanya karena perempuan itu telah menjadi istri orang lain. Ia bahkan masih menyimpan rasa, sampai-sampai pernah menyelamatkan nyawa Ren Dalong, suami Mi Qilian sekaligus saingan lamanya.
Kini, meski Nyonya Zhe belum sepenuhnya mendapatkan hati Guru Kesembilan, ia jelas telah mengukir kesan mendalam dalam hatinya. Dengan bekal itu, selama Nyonya Zhe bisa bersikap bijak, besar kemungkinan ia akan menjadi ‘guru perempuan’ bagi Wencai dan Qiusheng, karena berada di dekat dan sering berinteraksi.
Merasa suasana agak canggung, Guru Kesembilan langsung batuk dua kali, “Ehhem… Wang Yu, pagi-pagi sekali sudah bangun, ya? Bagus, bagus. Anak muda memang sebaiknya membiasakan diri tidur awal dan bangun pagi agar bisa menempuh jalan spiritual lebih jauh lagi. Aku, paman gurumu, sangat menaruh harapan padamu! Tidak seperti Wencai dan Qiusheng, dua anak nakal itu, sudah matahari tinggi masih saja tidur nyenyak di ruang samping. Kalau saja mereka setekun dan sedisiplin dirimu, pasti nasib mereka tak akan seperti sekarang—setengah-setengah, tak jelas arah. Seharian hanya mengandalkan sedikit kecerdikan, keluyuran di jalanan, entah kapan bisa membuatku tenang.”
Saat Guru Kesembilan sedang mencari-cari bahan pembicaraan, tiba-tiba muncul sosok dari belakangnya, “Suamiku, Wencai dan Qiusheng masih anak-anak. Kalau kau terlalu keras pada mereka, aku tak setuju.”
Melihat Nyonya Zhe yang kini tampak segar dan berseri, dalam hati Wang Yu terlintas sebuah kalimat: Di dunia ini memang hanya ada sapi yang kelelahan, tak pernah ada sawah yang rusak karena dibajak.