Bab Sembilan Puluh Sembilan: Serangan Niat Jahat
“Kalian berdua benar-benar punya nyali besar, ya? Sudah tahu ada yang tidak beres, tapi dua hari lalu masih saja membuka penutup peti untuk melihat isinya? Di antara para arwah, yang berbaju merah adalah yang paling ganas.
Peribahasa ini sudah tersebar di seluruh pelosok negeri, kalian berdua pasti pernah mendengarnya. Untung saja simpanan Paman Guru memang selalu berisi barang-barang bagus, kalau tidak, malam itu juga kalian pasti sudah kehilangan nyawa.”
Mendengar teguran dari Wang Yu dan melihat jenazah perempuan cantik berbaju merah yang terbaring di dalam peti, dengan mata berbinar seolah masih hidup, Wencai dan Qiusheng akhirnya merasa ngeri sendiri.
Sudah bertahun-tahun menjadi pendeta Tao, mereka setidaknya masih punya pengetahuan dasar. Perempuan yang meninggal dengan mengenakan pakaian merah dan berubah menjadi arwah semacam ini adalah yang paling ganas dan buas di antara semuanya. Jika bukan karena dilindungi oleh leluhur, mereka berdua tak mungkin bisa bertahan hidup selama tiga hari.
“Selain itu, arwah yang terbentuk setelah kematian memang bisa menumpang pada tubuh lain untuk membuat kekacauan, tapi sangat jarang ada arwah yang bisa kembali menempati tubuhnya sendiri. Karena, itu hampir sama dengan hidup kembali. Kejadian seperti itu dilarang oleh langit dan bumi, dan termasuk pantangan besar di dunia arwah. Begitu ketahuan, arwah yang melanggar pasti akan dihukum berat dengan tuduhan mengacaukan keseimbangan dan dilenyapkan tanpa sisa. Lihat matanya, bukankah hampir sama dengan manusia hidup?”
“Iya, matanya memang mirip sekali dengan Tingting,” sahut Wencai yang lamban dalam berpikir, tanpa sadar menimpali ucapan Wang Yu.
Namun Qiusheng yang lebih lincah tiba-tiba saja berkeringat dingin. Bisa kembali menempati tubuh sendiri meski melawan larangan langit, bumi, dan tekanan dunia arwah… Arwah dalam peti itu jelas jauh lebih kuat daripada arwah berbaju merah biasa.
Sebagai pendeta Maoshan, Qiusheng memang belum pernah menyaksikan kemarahan langit dan bumi, tapi dia tahu betul betapa dahsyatnya kekuatan dunia arwah. Bahkan seorang ahli tingkat tertinggi sekalipun tak berarti apa-apa di hadapan mereka.
Jika Raja Akhirat sudah menentukan ajal seseorang di tengah malam, siapa yang berani menahannya hingga fajar? Itu bukan sekadar pepatah kosong.
Dulu, guru dari guru mereka—mantan pemimpin Maoshan—adalah ahli tertinggi sama seperti Master Tertua dari Gunung Longhu. Tapi saat ajalnya tiba, hanya satu utusan arwah yang datang dari dunia arwah sudah cukup untuk mengakhiri keinginan sang guru untuk menentang takdir. Betapa dahsyat kekuatan macam itu? Siapa yang mampu melawan?
Tanpa perlu menunggu jawaban orang lain, Qiusheng sudah tahu jawabannya.
Tidak ada.
Bahkan Master Tertua dari Gunung Longhu pun tidak bisa!
“Kak Yu, kami salah. Menurutmu, apa yang harus kami lakukan selanjutnya? Apakah kita harus langsung memusnahkan mayat ini, atau ada cara lain?” Qiusheng kini begitu hormat pada Wang Yu, karena rasa takut yang menguasai hatinya.
“Jangan terburu-buru. Ceritakan dulu bagaimana kalian menerima pekerjaan ini hari itu, aku butuh lebih banyak petunjuk.” Berbeda dengan Qiusheng yang mulai panik, Wang Yu justru tidak ingin gegabah bertindak.
Pada titik ini, kalau Wang Yu masih tidak bisa melihat bahwa sejak awal semua kejadian ini penuh keanehan dan ada campur tangan seseorang, maka dulu waktu masih di desa kecil, dia pasti sudah lama mati di parit.
Sudah membusuk dan berbau busuk pula.
Mendengar nada bicara Wang Yu, bahkan Wencai yang polos sekalipun mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Kak Yu, maksudmu ada yang menjebak aku dan Wencai? Tapi rasanya aneh, selama ini aku dan Wencai selalu berbuat baik pada orang lain, siapa yang tega-teganya merencanakan ini pada kami?” Meskipun bertanya, semakin lama Qiusheng bicara, semakin masuk akal juga ucapan Wang Yu.
Memang sejak awal, perkara ini aneh sekali.
Maka dia mulai menceritakan kejadian malam itu, “Tiga malam lalu, ada pria berjanggut lebat menaiki kereta kuda dari pelabuhan masuk ke kota. Di atas kereta itulah ada peti mati ini. Karena takut sial, tidak ada penginapan di kota yang mau menerima pria berjanggut itu. Kemudian dia bilang ada yang memberitahu bahwa di kota ini ada rumah duka. Jadi, dia datang membawa kereta dan peti mati itu, sore hari… ya, waktu senja, mengetuk pintu rumah duka.”
Wencai yang melihat Qiusheng mulai lupa-lupa ingat, segera melanjutkan, “Rumah duka kita memang usaha menerima mayat, jadi tak takut apapun. Aku dan Qiusheng sepakat menerima pria berjanggut itu masuk. Begitu masuk dan melihat kami, dia langsung seperti melihat dewa, begitu mengagumi kami berdua. Lalu entah kenapa, aku dan Qiusheng langsung menerima pekerjaan itu saja. Pria berjanggut itu bahkan menjanjikan hadiah lima ratus dollar perak.”
Mendengar kata hadiah, Qiusheng pun akhirnya benar-benar mengingat kejadian malam itu, “Hadiah atau tidak sebenarnya tidak penting, yang aneh itu, saat itu aku dan Wencai seperti kerasukan. Sekarang kalau dipikir ulang, pria berjanggut itu dari kepala sampai kaki sama sekali tidak terlihat seperti orang baik.
Selain itu, kesepakatannya adalah dibayar setelah selesai tugas. Sampai sekarang, aku dan Wencai malah belum dapat sepeser pun, bahkan sudah keluar modal beberapa dollar perak.”
Sampai di sini, Wang Yu tak perlu mendengar lebih lanjut untuk menebak alur besar kejadian ini. Wencai dan Qiusheng, dua orang kurang beruntung ini, sejak membukakan pintu rumah duka untuk pria berjanggut itu, sudah masuk ke dalam perangkap orang lain.
Orang yang menjerat Wencai dan Qiusheng jelas cukup akrab dengan situasi rumah duka, tapi ada juga celah. Kalau tidak, Qiusheng pasti tak sempat lari ke Kota Ping’an untuk meminta bantuan padanya. Selain itu, orang itu tampaknya tak terlalu berani atau punya pertimbangan lain. Kalau tidak, saat itu juga ketika dia membuka pintu rumah duka, nyawa Wencai dan Qiusheng pasti sudah melayang.
Meski petunjuknya masih minim, belum bisa dipastikan siapa dalang di balik layar dan kenapa dia memusuhi rumah duka, Wang Yu sama sekali tidak khawatir.
Kalau memang musuh benar-benar datang, masa dia harus takut—ah, pedang Tianzuan Qinglu yang biasanya selalu dibawa… sial, tadi keluar rumah cuma berpikir mau makan, pergi pun terburu-buru, sepertinya pedangnya tertinggal?
Tapi tak masalah, ilmu petir masih bisa diandalkan. Baik arwah jahat, makhluk halus, maupun orang di balik semua ini, Wang Yu tidak percaya mereka bisa menahan beberapa kali serangan Petir Sembilan Tingkat.
Sekarang, sebaiknya urus dulu mayat perempuan dalam peti ini. Jangan sampai nanti saat benar-benar berhadapan dengan dalang di balik layar, malah harus menjaga diri dari serangan perempuan ini dari belakang.
Cara mengatasi mayat perempuan ini sebenarnya sudah lama Wang Yu pikirkan. Arwah dalam tubuh perempuan ini karena menempati tubuhnya sendiri, sama dengan hidup kembali. Jadi, ada keistimewaan tersendiri, tak mempan dengan kebanyakan teknik pengusiran makhluk jahat.
Itulah sebabnya, dua hari lalu Wencai dan Qiusheng sudah mencoba segala cara dari luar peti namun tetap tak berhasil menanganinya.
Tapi seperti yang sempat terpikir oleh Wang Yu tadi, entah manusia atau arwah, kalau berhadapan dengan petir yang menghantam tubuh dan jiwa sekaligus, pasti akan menyerah juga.
Ingin sekaligus menguji seberapa kuat arwah istimewa ini demi mengukur kekuatan lawan di balik layar, Wang Yu tidak langsung memanggil Petir Sembilan Tingkat, melainkan melambaikan tangan dan mengundang puluhan kilatan petir emas setebal sumpit, menyambar ke arah mayat perempuan yang terbaring dalam peti.