Bab Dua Puluh Dua: Aku Memiliki Seekor Keledai Kecil
Yan Li merasa hal yang paling menyenangkan dalam hidup adalah makan dan minum hingga kenyang. Bulan sudah tinggi di langit, tetapi Yan Li merasa masih belum puas makan, belum puas bersenang-senang.
“Nona, kita sebaiknya pulang,” ujar Xiao Ruo, sang pelayan, yang memang menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
“Malam ini aku ingin menikmati bunga, bulan, dan bintang di surga tersembunyi ini. Jangan ganggu suasana hatiku.”
“Nona, ini tidak sesuai dengan tata krama wanita,” Xiao Ruo terus membujuk dengan lembut.
“Aku tidak melakukan hal yang tak pantas, dan lagi, jika kau tidak bilang, aku tidak bilang, tak akan ada yang tahu kalau aku tidak pulang malam ini.”
“Nona...”
“Hal-hal yang biasa dikhawatirkan para wanita, aku tidak peduli. Kalau sudah datang untuk bersenang-senang, harus pulang dengan puas.” Zi Xuan berkata santai sambil membantu Yan Li membuang duri ikan dari makanannya.
Setelah mendengar Zi Xuan berkata begitu, Xiao Ruo yang tadinya terus mengeluh akhirnya menutup mulutnya, tidak lagi mengeluarkan suara.
Yan Li sangat puas dengan kepekaan Xiao Ruo, matanya setengah terpejam, ia makan ikan panggang dengan lahap dan penuh rasa puas. Ia tahu betul pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, dan ia sangat paham bahwa di masyarakat feodal ini, seorang wanita yang tidak pulang malam adalah sebuah masalah besar. Tapi Yan Li adalah orang yang justru semakin ingin menantang ketika menghadapi kekuasaan.
“A Li, apa kau benar-benar tidak pulang?” Zi Xuan di satu sisi ingin Yan Li tetap tinggal agar bisa lebih lama bersamanya, di sisi lain khawatir akan akibat jika Yan Li tidak pulang. Hal-hal yang tidak dihiraukan Yan Li belum tentu tidak menjadi masalah bagi orang lain.
“Zi Xuan, kau juga pikir ini akan merusak reputasimu?”
“Aku lelaki, tak perlu khawatir soal itu. Aku hanya khawatir tentang dirimu...”
“Kalau begitu, tidak perlu khawatir. Orang-orang di rumahku bahkan berharap aku menghilang selamanya. Lagi pula mereka menganggap aku tidak ada, jadi tak akan menyadari aku tidak pulang.”
Sedikit rasa kehilangan tersirat, bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia tidak bisa peduli. Mengharapkan bayangan diri sendiri muncul di mata orang yang sama sekali tidak peduli adalah hal yang mustahil, bahkan jika kau menjadi badut sekalipun, mereka tak akan memandangmu. Dan Yan Li tidak ingin menjadi badut; pada dunia yang tak bisa dimasuki, ia bahkan tak ingin berusaha, lebih memilih mengambil kembali kebanggaannya dan mundur ke tempat yang tak terjangkau pandangan orang lain. Kebanggaan seperti itu, kebohongan diri sendiri, setidaknya membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Malam musim panas selalu terasa panas, bahkan angin sepoi yang sesekali berhembus pun membawa hawa hangat, sama sekali tidak memberikan kenyamanan.
Gelisa, sangat gelisah. Sebelum berpindah ke dunia ini, ia pikir dengan pasti ia akan bisa hidup di masa lalu, dan memang benar ia berpindah, tetapi kini semua di luar kendalinya, dan itu membuatnya kehilangan rasa aman.
Arak beraroma harum perlahan dituangkan ke dalam cawan, Yan Li bahkan merasa suara arak yang dituangkan pun membuatnya semakin gelisah.
Ia mengangkat cawan dan meneguknya hingga habis, tersenyum seperti biasa, tetapi senyumnya lebih buruk daripada tangisan.
“A Li, kau sedang sedih?”
“Aku bilang beberapa hari ini kau tidak seperti biasanya, nona. Kau sangat menyukai Wang...” Sadar telah salah menyebut, Xiao Ruo segera membetulkan, “Nona sangat menyukai orang bermarga Wang itu, mana mungkin setelah mati sekali langsung bisa melupakan, dia adalah orang yang bahkan mati pun kau tak mau tinggalkan.”
“Sudah mati sekali”, “orang yang bahkan mati pun tak mau tinggalkan”—kata-kata itu menghantam hati Zi Xuan di tempat yang dalam. Ia merasa ucapan Xiao Ruo begitu menusuk, menyakitkan. Ia tak berani membayangkan bahwa wajah yang tampak ceria itu pernah menangis di tempat gelap. Ia tiba-tiba sangat membenci pria yang membuat Yan Li ingin mati karena putus asa, berharap pria itu lenyap dari dunia ini.
Zi Xuan menggelengkan kepala dengan kuat, memandang Yan Li yang hanya tertawa dan terus minum tanpa berkata apa-apa. Ia tersadar, hatinya telah bergetar karena Yan Li, bahkan sebelum ia menyadarinya sendiri. Tidak! Tidak boleh! Yan Li sudah bersuami, dan tidak ada yang bisa mengubah itu! Ia berusaha menekan perasaannya, tidak lagi memandang Yan Li.
“Nona memang bodoh, memang malang...” Xiao Ruo masih terus mengeluh, tanpa menyadari bahwa kedua orang di sampingnya sama sekali tidak mendengarkan apa yang ia katakan.
Yan Li benar-benar sedang melamun, tidak mendengarkan kata-kata Xiao Ruo, ia larut dalam pikirannya sendiri, tak menyadari telah menenggak berkali-kali cawan arak.
Akibat dari minum cawan-cawan arak itu adalah seperti sekarang, Yan Li terus-menerus menepuk batu besar tak jauh darinya sambil bernyanyi keras, “Aku punya keledai kecil, aku tak pernah menungganginya... Hik... Suatu hari aku tiba-tiba ingin menungganginya ke pasar, di tangan ku ada cambuk kecil...”
“Nona!” Xiao Ruo menoleh ke arah Zi Xuan yang sedang tertawa terbahak-bahak, lalu berusaha menarik tangan Yan Li sambil memegang kepala, ia sungguh ingin bersembunyi ke dalam tanah.
“Aku belum selesai bernyanyi, tadi sampai mana ya, aku punya keledai kecil, aku tak pernah menungganginya...” Seseorang sambil bersendawa karena mabuk, kembali mengangkat suara untuk bernyanyi.