Bab Empat Puluh Enam: Kenangan yang Tak Terlupakan
“Kriek” suara pintu kayu berat perlahan terbuka. Yan Li tak lagi memiliki semangat seperti biasanya, matanya dipenuhi kebingungan dan kepanikan saat ia perlahan melangkah keluar dari kamar.
Perlahan ia menengadah, memandang langit biru yang tak bertepi, tanpa satu awan pun. Langit ini memang indah, namun begitu asing baginya.
“Apakah langit ini bisa menerimaku?” Ia berbisik pelan.
“A Li…” Suara A Mu terdengar rendah, namun ia tak tahu harus bertanya apa. Setelah memanggil namanya, ia terdiam, bibirnya terbuka sedikit, tapi tak satu kata pun keluar. Inilah perasaan tak berdaya yang melingkupinya saat ini.
Selama ini, ia hanya bisa menjadi pengikut. Gong Mo Han benar, ia tak bisa menjadi seseorang yang berdiam di hati Yan Li, jadi cukup baginya menjadi pengikut saja. Namun kini, ketika Yan Li ingin kembali ke dunia asalnya, masihkah ia bisa tetap mengikuti? Atau, seperti dua tahun lalu, ia hanya akan kembali tak berdaya.
“Gong Mo Han, aku tahu kau bohong padaku. Kau bukan dewa, apalagi penguasa takdir, mana mungkin kau tahu apakah aku benar-benar Yan Li atau bukan.” Yan Li berusaha tersenyum santai, namun suara gemetar itu mengkhianati perasaannya.
“Saat ini juga akan kubuktikan padamu apakah aku bisa kembali. Aku tak mau bermain lagi, aku ingin pulang.” Tanpa memberi Gong Mo Han kesempatan bicara, Yan Li langsung melanjutkan, “Selama ini aku banyak bersikap kurang sopan pada Tuan, kumohon maafkanlah. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggu kehidupan Tuan lagi. Kini, izinkan aku meminjam beberapa pelayan dari kediaman ini.”
Sikap hormat dan dingin yang ditunjukkan Yan Li saat ini bagaikan tangan yang mencengkeram kuat hati Gong Mo Han—sakit, namun tak mengeluarkan darah.
“Tuan…” Yin tak yakin keputusannya benar, sehingga ia hanya bertanya. Ironisnya, sebagai asisten kepercayaan tuan, kini ia justru bingung apakah harus memanggil para pelayan untuk Yan Li atau tidak.
Gong Mo Han menghela nafas pasrah, melambaikan tangannya dengan lemah. Ia tahu, dengan watak Yan Li, sebelum mencoba sendiri ia takkan menyerah. Ia pun terpaksa membiarkan Yan Li membuktikan sendiri kenyataan bahwa ia memang tak bisa kembali.
Yin segera bergegas keluar dan tak lama kemudian kembali bersama beberapa pengawal yang bertubuh kekar.
“Hormat kami, Tuan.”
“Hari ini kalian dengarkan saja perintah Nyonya.”
“Baik, mohon petunjuk dari Nyonya, apa yang harus kami lakukan?”
“Tolong gali lebih banyak lubang di taman ini, sebanyak mungkin. Oh, ya, di kamar saya juga, gali sebanyak-banyaknya.”
Yan Li merasa, saat ia terlempar ke dunia ini, ia mendarat di taman ini. Jadi, untuk kembali, ia pikir mungkin juga harus dari suatu tempat di taman ini.
“Baik!” Para pengawal didikan Gong Mo Han memang tangkas. Meski tak paham maksud perintah Yan Li, namun karena Tuan sudah memerintahkan untuk mengikuti perintahnya, mereka pun tanpa ragu langsung bergerak.
“Nona…” Xiao Ruo bertanya pelan, menatap Yan Li yang terus-menerus memelintir jemarinya, menatap lubang-lubang yang sedang digali para pengawal.
“Xiao Ruo, aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi percayalah, aku sungguh baik-baik saja. Hanya sedikit bingung dan panik saja.”
Yan Li melihat mata Xiao Ruo yang juga bengkak karena menangis. Walau ia tahu ucapan penghiburannya begitu hambar, namun itu satu-satunya yang bisa ia berikan saat ini.
“Yin, bawa Xiao Ruo istirahat dulu.”
Gong Mo Han merasa tak ada gunanya membiarkan Xiao Ruo terus menangis, jadi ia menginstruksikan demikian.
“Tidak, Tuan, aku tidak mau pergi. Biarkan aku menemani Nona di sini,” sahut Xiao Ruo memohon.
Gong Mo Han pun tak lagi berkata apa-apa melihat Xiao Ruo bersikeras tak mau pergi.
Hanya dalam setengah jam, taman yang tadinya dipenuhi bunga matahari telah menjadi kacau, dipenuhi lubang-lubang besar.
“Saluran air waktu itu kurasa lebih dalam dari ini, harusnya digali lebih dalam lagi. Tapi kalau lebih dalam, pasti sakit sekali saat jatuh. Tidak, tidak boleh terlalu dalam,” Yan Li bergumam, menatap lubang-lubang tanah.
“Tapi kalau tak pingsan, tak bisa kembali. Dulu aku bisa menyeberang karena jatuh sampai pingsan.”
“Nyonya, apakah kamar juga perlu digali?” tanya seorang pengawal.
“Gali! Angkat ranjangnya juga, gali di bawahnya!” jawab Yan Li tanpa ragu.
“Di tempat ini, tidakkah ada satu orang pun yang membuatmu sedikit pun ingin bertahan?” Gong Mo Han bertanya lirih. Melihat Yan Li sama sekali tak ragu untuk pergi, perasaan sedih dalam hatinya kian dalam.
Pertanyaan Gong Mo Han membuat Yan Li terdiam. Selama ini ia hanya memikirkan cara pergi, tak pernah menyadari bahwa kepergiannya berarti juga perpisahan.
“Aku tahu kau membenciku, tapi bagaimana dengan Xiao Ruo? Jenderal Yan, Nyonya Yan, Yan Lang, Xiao Ruo, A Mu, dan juga Gong Mo Xuan? Benarkah kau tak sedikit pun akan merasa sedih meninggalkan mereka?”
Benci pada Gong Mo Han? Benarkah ia membencinya? Rasanya tidak. Melihat sorot mata Gong Mo Han yang terluka, ia justru merasa iba. Mungkin ia memang tak membencinya.
Soal kesedihan, sejujurnya ia memang tidak terlalu sedih. Di lubuk hatinya, ia merasa mustahil benar-benar bisa pergi dari dunia ini. Berapa banyak lubang pun yang ia gali, rasanya takkan ada gunanya. Tapi ia tak mau menyerah pada kenyataan tanpa berusaha. Ia tak suka nasib yang seolah sudah ditetapkan, tak suka perasaan semuanya sudah ditentukan tanpa ia dapat mengubahnya.