Bagian Tambahan
Tiga bulan kemudian, di jalanan kota yang ramai dan penuh hiruk-pikuk, sebuah kereta kuda melaju dengan roda yang berderak. Seorang pria berpakaian merah, berwajah tampan dan berwibawa, namun tampak lesu. Ketika matanya menangkap sebuah kedai teh di pinggir jalan, sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum nakal sebelum ia melompat turun dari kereta dan bersiul pelan.
“Aku haus, ingin minum teh dulu,” katanya, namun ia tidak langsung melangkah, melainkan menatap ke arah kereta, seolah menunggu seseorang.
Beberapa saat kemudian, barulah seorang pria berbaju putih keluar dari dalam kereta. Pria berbaju merah sudah sangat menarik, tapi kehadiran pria berbaju putih itu seketika membuat pesonanya memudar. Setiap gerak-geriknya memancarkan aura seorang raja. Begitu turun dari kereta, tangannya terangkat setengah, matanya tak berkedip menatap ke arah kereta.
Tak lama, seorang wanita pun keluar dari kereta. Ia juga mengenakan pakaian serba putih, rambutnya hanya disanggul sederhana dan disematkan tusuk rambut kayu. Wajahnya begitu memesona, kecantikannya tiada tara, hingga sulit dipercaya ia benar-benar nyata. Ketika ia menatap kedua pria yang menunggunya dan tersenyum cerah, senyumnya bagaikan cahaya bulan yang begitu indah dan hampir tak nyata.
Pria berbaju merah sempat cemberut saat melihat pria berbaju putih, namun ketika wanita itu tersenyum kepadanya, ia langsung mendekat dengan wajah ceria.
“Ali, aku sangat merindukanmu.”
Dengan semangat, ia hendak menggenggam tangan si wanita, namun baru melihat tatapan tajam dari pria berbaju putih, ia pun mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya dengan ragu.
Amuk merasa sangat dirugikan. Betapa tidak, Gung Mokhan melarang Yanli mengenakan pakaian merah, malah dirinya yang memakai pakaian putih serasi bersama Yanli. Ia dilarang duduk satu kereta dengan Yanli, sementara Gung Mokhan malah memeluk si jelita. Sekarang, bahkan menggenggam tangan Yanli pun ia tak diizinkan.
“Amuk, kau pasti lelah,” ujar Yanli sambil tersenyum lembut, menuangkan secangkir teh untuknya.
“Istriku, tidakkah kau pikir suamimu juga lelah?” Amuk menatap Gung Mokhan dengan penuh ejekan. Apanya yang lelah, memeluk wanita secantik itu, malah mengaku lelah?
“Suamiku juga pasti lelah, tapi aku juga sedang haus, lho,” Yanli bersandar di meja, menatap Gung Mokhan dengan mata besar bersinar. Gung Mokhan membalasnya dengan tatapan penuh kasih, menggeleng pelan, lalu menuangkan teh untuk Yanli, sebelum akhirnya menuang sendiri untuk dirinya.
“Kau dengar tidak? Putra Mahkota menikahi wanita galak, katanya. Wanita itu sama sekali tak punya sikap perempuan terhormat, katanya sombong pada adat dan sangat manja,” terdengar suara bisik-bisik dari meja sebelah.
“Jangan asal bicara, Putra Mahkota mana mau dipermainkan begitu?” balas yang lain dengan nada meremehkan.
“Kudengar Putra Mahkota justru menikmati dan sangat memanjakan istrinya.”
Yanli yang tadinya mendengarkan gosip dari meja sebelah, tiba-tiba tangannya digenggam erat. Ia tersenyum pada Gung Mokhan, lalu berdiri dan bersama Amuk keluar dari kedai teh.
“Tujuan berikutnya, kita mau ke mana?” tanya Amuk.
“Kita menginap di sini saja dulu,” jawab Gung Mokhan.
Melihat Amuk dan Yanli memandangnya dengan bingung, Gung Mokhan pun melanjutkan, “Ali, kita memang enak berkelana seperti ini, tapi urusan hidup Amuk juga perlu dipikirkan.”
“Benar juga,” Yanli menoleh pada Amuk, mengangguk setuju.
“Tak usah sok baik, aku mau ikut Ali saja!” Amuk membantah dengan kesal pada Gung Mokhan.
Gung Mokhan mengabaikan kemarahan Amuk, lalu dengan hati-hati bertanya, “Ali, bukankah kita juga sudah seharusnya memikirkan soal anak?”
Begitu mendengar tentang anak, wajah Yanli langsung seperti mendengar sesuatu yang menakutkan, ia berbalik dan pergi. “Jangan harap!”
“Ali, Ali...” Gung Mokhan pun mengejar Yanli, mencoba membujuknya. Adakah nasib yang lebih malang darinya? Sejak malam pertama pernikahan, karena rasa sakit itu, Yanli jadi takut akan urusan ranjang, dan sejak saat itu tak mengizinkan Gung Mokhan menyentuhnya lagi. Sudah setengah tahun ia bertahan! Setengah tahun! Memeluk wanita secantik itu tapi harus menahan diri, ia hampir gila. Yang lebih menyedihkan, tubuhnya sangat sensitif pada Yanli.
Sementara Amuk yang tadinya masih cemberut, kini melihat Gung Mokhan gagal, langsung tertawa terbahak-bahak dengan puas, lalu berlari mengejar mereka agar tidak ditinggalkan begitu saja.