Bab Delapan: Masing-Masing Tak Saling Berhubungan
Setelah Yan Li sama sekali mengabaikan kegelisahan serta desakan Xiao Ruo yang terus-menerus meminta pulang, menikmati makan malam yang lezat, lalu bersandar puas di kursi sambil menyesap teh hijau harum, langit telah benar-benar gelap. Baru setelah itu ia bangkit dengan enggan dan meminta orang di rumah makan mengantarnya pulang. Ia tak ingin Zi Xuan tahu bahwa dirinya berasal dari kediaman Pangeran Ketiga, jadi ia hanya meminta orang rumah makan mengantarnya sampai di depan toko sutra milik Keluarga Zhou. Setelah orang rumah makan itu menghilang dalam gelapnya malam, barulah Yan Li melompat-lompat riang kembali ke kediaman pangeran.
Gerbang besar kediaman itu sudah tertutup rapat sejak lama. Yan Li memerintahkan Xiao Ruo untuk mengetuk pintu, namun setelah mengetuk lama pun tak ada seorang pun yang keluar. Saat Xiao Ruo hampir menyerah, barulah pintu terbuka perlahan dan seorang pelayan menjulurkan kepalanya.
“Malam-malam begini, ketuk-ketuk pintu untuk apa? Mencari siapa?” Suaranya sama sekali tak ramah.
“Maafkan kami, Kakak. Hari ini Nyonya Muda kami ada urusan di luar, baru selesai sekarang,” ujar Xiao Ruo hati-hati dengan nada memohon.
“Nyonya Muda apaan? Nyonya Muda Pangeran Ketiga selalu ada di dalam rumah. Nyonya Muda yang kau maksud, aku tak kenal.” Pelayan itu melirik sinis, jelas-jelas meremehkan.
“Kakak, kumohon, biarkanlah Nyonya Muda masuk,” pinta Xiao Ruo.
“Pergi! Pergi! Pergi! Sengaja membawa orang untuk berpura-pura, Nyonya Muda pulang tengah malam, kalian ini ingin mencemarkan nama baik kediaman kami, ya?”
Pelayan itu mendorong Xiao Ruo tanpa ampun, membuat tubuh Xiao Ruo menghantam tiang dengan keras.
“Xiao Ruo, kau tak apa-apa?” Yan Li segera berlari menolong Xiao Ruo yang dahinya sudah dipenuhi keringat dingin, tapi dengan menahan sakit Xiao Ruo menggeleng memberi isyarat ia baik-baik saja.
Amarah Yan Li membuncah. Apa salahnya baru pulang sekarang? Bukankah langit baru saja gelap, mengapa jadi tengah malam? Kalaupun tidak diizinkan masuk, tak perlu sampai berbuat kasar! Semakin dipikir, Yan Li makin marah. Dengan wajah dingin, ia berdiri dan menendang perut pelayan itu. Karena sangat marah, tendangannya lebih keras dari biasanya, membuat pelayan itu meringis kesakitan dan terhuyung beberapa langkah.
Yan Li mendorong pintu lebar-lebar. “Kau tidak tahu diri, menolak dengan baik-baik malah cari gara-gara!” teriaknya lantang.
Para pengawal kediaman pangeran segera berdatangan mendengar keributan itu. Yan Li melirik mereka yang semua membawa pedang, lalu tersenyum sinis.
“Mau apa? Gong Mo Han ingin membunuhku?” Suara pertanyaannya begitu tajam hingga para pengawal itu mundur ketakutan, walau tetap menghunus pedang mereka.
“Perempuan ini benar-benar berani, berani-beraninya menyamar jadi Nyonya Muda, mencemarkan nama beliau,” pelayan yang membuka pintu itu rupanya tak belajar dari akibat, masih saja berteriak.
“Aku tak peduli kalian menganggapku tuan rumah di sini atau tidak, tapi kalau ingin menindasku, lupakan saja. Lebih baik kita saling mengabaikan, tak usah saling mengganggu,” kata Yan Li sambil menampar wajah pelayan itu keras-keras, hingga wajahnya langsung membengkak merah.
“Ada apa ribut-ribut?” Suara laki-laki bernada dingin terdengar di belakang Yan Li. Ia tahu persis itu adalah Gong Mo Han, namun ia tetap menatap tajam para pengawal tanpa menoleh sedikit pun.
“Hormat kami, Pangeran!”
Semua orang serempak berlutut, hanya Yan Li yang berdiri sendirian tanpa ekspresi, membiarkan angin malam mengacak-acak rambutnya yang nakal menutupi wajah.
“Ada urusan apa?” Gong Mo Han menatap Yan Li dengan dahi berkerut, suaranya dingin.
“Hamba ingin melapor, Pangeran…”
“Kau pura-pura tidak tahu urusan apa? Pelayan-pelayan ini kalau bukan karena merasa didukung olehmu, mana berani berbuat seperti ini? Sekarang kau malah berpura-pura, benar-benar menjijikkan,” potong Yan Li tanpa ampun, bahkan sebelum pelayan itu menyelesaikan kalimatnya.
“Kau!” Mata Gong Mo Han hanya berisi hawa dingin, membuat orang merasa seolah berada di dalam gua es.
“Aku sudah bilang aku tak butuh gelar Nyonya Mudamu, juga tak peduli apakah orang-orang di kediamanmu menganggapku bagian dari sini atau tidak. Tapi jangan ganggu hidupku. Anggap saja aku tak ada, aku pun akan menganggapmu tak ada. Itu cara terbaik kita untuk saling berurusan. Tapi kalau kau benar-benar muak padaku, silakan saja ceraikan aku.”
“Dulu yang ingin menikah ke kediaman pangeran adalah kau.” Setelah mendengar ucapan Yan Li, Gong Mo Han menatap wajahnya yang acuh, sementara tinjunya yang di belakang punggung semakin mengepal.
“Dulu aku buta, makanya bisa suka pada orang sepertimu.”
“Kau bilang tak peduli sikapku padamu? Kalau benar, tak mungkin sekarang kau masih menganggapku bajingan.”
“Benar juga, untuk apa aku mempermasalahkan orang sepertimu. Yang penting jangan biarkan pelayanmu menggangguku lagi.” Begitulah Yan Li, bahkan saat marah besar, selama ada satu alasan yang bisa menenangkan diri, ia langsung reda emosinya.
“Saat ini aku sudah tak sudi lagi padamu, jadi tak perlu membuang-buang perasaan untukmu.”
Gong Mo Han menatap Yan Li yang barusan masih marah, kini tiba-tiba adem, dengan santai menuntun Xiao Ruo pergi, meninggalkan dirinya berdiri terpaku. Ia bilang ia sudah tak sudi, perempuan yang dulu selalu menatapnya penuh cinta, kini mengatakan tak sudi, bahkan menganggap itu hanya buang-buang perasaan!
Butuh beberapa saat sebelum Gong Mo Han akhirnya berkata pelan, “Mulai sekarang, apapun yang ingin dilakukan Nyonya Muda, biarkan saja.”