Bab Tiga Puluh Empat: Rasa Kebahagiaan
Wajah Yan Li kini sudah tak menunjukkan sedikit pun bayang-bayang dirinya yang dulu. Saat ini, Yan Li memancarkan cahaya yang luar biasa, duduk dengan percaya diri di samping sang Kaisar. Satu-satunya yang belum berubah hanyalah sorot mata jahil yang berkilat dan senyuman yang selalu terukir di wajahnya.
Meskipun Gong Mo Han tetap mempertahankan ekspresi aslinya, siapa pun yang jeli akan melihat tangannya yang memegang cawan arak tampak sedikit bergetar.
"Dia benar-benar telah kembali." Sebelum meneguk habis araknya, Gong Mo Han bergumam pelan, dengan sorot kegembiraan di matanya.
Yan Li duduk di sisi Kaisar, tanpa malu-malu, bebas mengamati para tamu di perjamuan. Ia sangat penasaran dengan pesta ala orang zaman dulu ini.
Namun ketika melihat seseorang yang duduk tepat di seberang Gong Mo Han, ia terkejut. Orang itu, yang selalu tersenyum ramah menenangkan hati siapa pun, bukankah itu Zi Xuan?
Konon, Zi Xuan karena keahlian memasaknya yang luar biasa, membuat para selir istana berlomba-lomba mengutus orang untuk membeli makanan dari Restoran Zui Xin Lou. Apakah malam ini ia memang diundang masuk istana untuk menyiapkan jamuan ulang tahun Kaisar?
Namun jika demikian, mustahil ia duduk di seberang Gong Mo Han, apalagi duduk di sebelah kiri Kaisar. Dalam tradisi Dinasti Qin, sisi kiri adalah posisi terhormat, hal ini masih diingat Yan Li.
"Ali, menurutmu bagaimana hidangan di perjamuan ulang tahun ini?" Saat Yan Li menatap Zi Xuan dan menerka siapa sebenarnya dirinya, Kaisar tiba-tiba bertanya.
"Aku dengar kau pernah bilang, selama ada makanan enak dan keseruan, kau akan sangat senang. Itu sebabnya aku buru-buru membawamu duduk di meja utama."
"Ananda belum sempat mencoba, Ayahanda," jawab Yan Li dengan manis, membayangkan masakan dapur istana pasti lezat, lalu mengangkat sumpit dengan gembira.
Baru saja hendak mencicipi, Zi Xuan berdiri perlahan dan berkata, "Mohon izin, Ayahanda. Ananda telah menyiapkan hadiah untuk Ayahanda, mohon Ayahanda menerima."
"Aku tak pernah menerima hadiah di hari ulang tahun, Putra Mahkota, kau tahu itu. Mengapa kau memulai tradisi seperti ini?" Meski ucapannya terdengar menegur, jelas hati Kaisar sedang amat gembira. Yan Li yang sudah bersiap-siap secara mental, mengira Zi Xuan hanyalah pejabat atau pangeran, sama sekali tak mengira ia adalah Putra Mahkota. Ini sungguh mengejutkan. Ternyata namanya Mo Xuan—Gong Mo Xuan. Rupanya, ia bahkan tak pernah memberitahu nama aslinya, membuat hati Yan Li agak kecewa.
"Ayahanda, mohon maaf. Namun hadiah ini bukanlah barang langka ataupun berharga."
"Oh? Tunjukkan padaku," balas Kaisar, jelas tertarik pada hadiah dari Zi Xuan.
Zi Xuan dengan anggun menepuk tangan, lalu beberapa dayang muda berpakaian merah muda masuk beriringan membawa nampan.
"Ananda dengar Permaisuri Gongjing sangat pandai menilai makanan. Hari ini, mohon bimbingannya." Meski wajah Zi Xuan tetap membawa senyuman hangat yang membuat Yan Li nyaman, ia tak suka cara bicara Zi Xuan yang begitu formal. Menurutnya, Zi Xuan adalah lelaki seumpama angin—bebas, tak peduli dengan kemewahan dan kekuasaan, bukannya seperti sekarang, penuh hormat dan sopan.
"Yan Li merasa tak layak, Paduka menyanjung berlebihan," jawab Yan Li sopan.
Zi Xuan tampak tak ambil pusing, hanya tersenyum dan mengangguk, lalu mempersilakan para dayang menyajikan hidangan.
Sebuah mangkuk porselen indah diletakkan di hadapan Yan Li. Di permukaan mangkuk itu, hanya tergambar sepotong laut.
"Memandang laut, menikmati bunga di musim semi." Bibir mungil Yan Li perlahan melafalkan kalimat itu. Ia ingat pernah berkata pada Zi Xuan bahwa impiannya adalah hidup menghadap laut, menyambut bunga-bunga bermekaran di musim semi.
Ketika membuka tutup mangkuk dan melihat isinya, Yan Li sungguh terkejut. Begitu pula para selir, pangeran, dan pejabat yang mendapat sajian serupa di aula istana.
Yang tersaji adalah semangkuk susu lapis dua yang indah, dengan permukaan lembut putih bergetar, dihiasi potongan buah. Di abad ke-21, makanan ini biasa saja, tetapi di zaman ini, hidangan seperti itu cukup membuat orang-orang terhormat terperangah. Ketika aroma susu yang kuat memenuhi udara, mata Yan Li pun berkaca-kaca.
Ia merasa, bagaimana mungkin dirinya seberuntung ini, dicintai begitu banyak orang—Jenderal Yan, Nyonya Yan, Yan Lang, dan Xiao Ruo saja sudah membuatnya merasa tak pantas, apalagi kini Kaisar memanjakan, Zi Xuan pun memperhatikan. Semua itu membuat hatinya gelisah. Kebahagiaan kadang menakutkan, takut kenyataan nanti menyadarkan bahwa semua itu tak layak ia miliki, atau takut akan kehilangan.
Padahal, hanya karena sekali waktu ia mengeluh ingin makan susu lapis dua pada Zi Xuan, dan ketika Zi Xuan meminta resepnya, ia sama sekali tak menganggap penting. Tak disangka, di tempat asing ini, ia benar-benar bisa mencicipi lagi susu lapis dua.
Ada pepatah, "Gadis yang suka tersenyum biasanya takkan punya nasib buruk." Rupanya, pepatah itu benar. Ia sungguh-sungguh merasakan keberuntungannya.
"Enak sekali," puji Kaisar berulang kali, lalu menoleh pada Yan Li, "Bagaimana menurutmu, Yan Li?"
"Ada rasa bahagia di dalamnya."
Gong Mo Han terus mengamati Yan Li: saat ia menatap Zi Xuan sambil berpikir, saat Zi Xuan tersenyum penuh kasih kepadanya, saat matanya berair menatap makanan itu, saat ia mengucapkan ada rasa bahagia di dalamnya—semua terekam jelas oleh Gong Mo Han. Walau wajahnya tak memperlihatkan perubahan, kedua tangannya terkepal di bawah meja, dan sepiring makanan tak disentuhnya sedikit pun—semua itu menandakan amarahnya.