Bab Dua Puluh Tiga: Dibawa Paksa Kembali ke Kediaman
Keesokan harinya, saat Yan Li terbangun, Zi Xuan telah pergi lebih awal karena harus mengurus urusan di Gedung Cinta Mabuk. Karena efek mabuk semalam, kepala Yan Li terasa sangat sakit hingga ia menurut saja meminum ramuan penawar mabuk yang sudah disiapkan Zi Xuan sebelumnya. Setelah itu, dengan langkah gontai, ia pun mengikuti Xiao Ruo kembali ke kediaman pangeran.
Namun, baru setengah jalan mereka tempuh, sekelompok orang berpakaian hitam tiba-tiba mengepung mereka. Pikiran pertama yang melintas di benak Yan Li adalah apakah dirinya, atau lebih tepatnya Yan Li yang dulu, punya hutang dan para penagih hutang ini datang menagihnya.
Sedangkan pikiran pertama Xiao Ruo, ia merasa pasti nyonya mudanya benar-benar telah merusak nama baik Tuan Muda Zi Xuan, sehingga para pembunuh bayaran yang disewa oleh salah seorang pendukung setia Zi Xuan sekarang mengepung mereka.
Namun kenyataannya, saat Yan Li dan Xiao Ruo sibuk berprasangka, para pria berbaju hitam itu serempak berlutut di depan Yan Li.
“Hormat kami, Putri Pangeran.” Suara mereka serentak dan penuh hormat.
Harus diakui, saat melihat sekelompok pria keren berlutut di bawah kakinya, sisi bangga Yan Li benar-benar terpuaskan. Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi seorang putri pangeran adalah hal yang sangat membanggakan.
“Ehem... Kalian semua boleh berdiri,” ujarnya, mulai muncul keinginan untuk memamerkan kekuasaan.
“Kami diutus oleh Pangeran untuk menjemput Putri kembali ke kediaman.”
“Aku bisa pulang pelan-pelan, kenapa dia terburu-buru?” Begitu tahu mereka datang menjemputnya pulang, Yan Li langsung menampakkan rasa enggan, sensasi baru yang tadi dirasakannya mendadak menguap.
“Pangeran memerintahkan agar Putri segera kembali.”
“Benar-benar anak buah Gong Mo Han, dingin sekali, tidak ada ramah-ramahnya,” dengus Yan Li, memperlihatkan wajah tak sabar.
“Kami hanya menjalankan perintah. Mohon Putri segera kembali ke kediaman.”
“Dia suruh pulang lalu aku harus nurut? Tidak mau, malam ini aku tidak akan pulang!” Yan Li memang tidak suka dikendalikan orang lain.
“Mohon Putri jangan mempersulit kami.” Suara itu tetap penuh hormat, namun sedingin es.
“Aku tidak mau pulang, kalian mau apa padaku?” Yan Li dengan gaya congkak menantang kesabaran para pria berbaju hitam itu. Ia sangat sadar, di masyarakat feodal seperti ini, mereka tidak mungkin berani berbuat macam-macam kepadanya, apalagi adat melarang lelaki dan perempuan bersentuhan. Mau tak mau mereka hanya bisa mengalah.
Namun kenyataan membuktikan, meski dugaan Yan Li ada benarnya, ia tetap meremehkan Gong Mo Han. Ia juga lupa, orang-orang ini adalah tangan kanan Gong Mo Han.
“Ikat Putri Pangeran.”
Melihat para pria berbaju hitam mengambil tali dan perlahan mendekat, barulah Xiao Ruo panik. Ia segera berlari ke depan Yan Li, seperti seekor induk ayam melindungi anaknya.
“Kalian berani mengikat Putri Pangeran!” ucap Xiao Ruo tegas, siap bertarung mati-matian.
“Pangeran sudah memerintahkan, sekalipun harus mengikat, Putri harus dibawa kembali,” ujar seseorang saat bayangan Yin muncul. Yan Li sempat merasa seperti mendapat penolong, tapi setelah mendengar ucapan Yin, ia sadar lelaki itu jelas bukan di pihaknya.
“Yin, baru sehari tidak bertemu, kamu jadi tambah tampan,” Yan Li mencoba bersikap akrab.
“Kurasa kalau semalaman tidak tidur, seharusnya bukan tambah tampan,” jawab Yin datar.
“Ada kabar baik apa sampai kamu begadang semalaman? Kita kan teman, kabar baik harus dibagi,” Yan Li tersenyum ramah, penuh harap.
“Kalau memang kabar baik harus dibagi, bukankah Putri juga harus berbagi kabar baik dengan Pangeran sebelum meninggalkan kediaman?”
“Siapa bilang aku dan Gong Mo Han berteman baik, kami tidak sedekat itu.”
“Saya rasa, saya pun tidak terlalu dekat dengan Putri.” Yin dengan tegas menarik batas.
“Yin, ayolah, tolong aku. Kalau sampai harus diikat dan dibawa pulang, malu sekali.” Karena rayuan halus tidak mempan, Yan Li pun mulai merendah.
“Ikat,” perintah Yin, seulas kilatan licik di matanya. Mana bisa ia melewatkan kesempatan membalas dendam setelah semalaman dibuat repot oleh Yan Li dan dimarahi habis-habisan oleh Gong Mo Han.
“Aku janji tidak akan kabur, juga tidak akan mencari jalan belakang, aku akan ikut pulang, ikat-mengikat tidak perlu,” ujar Yan Li cepat.
“Putri kami sangat pandai, penuh akal. Untuk memastikan Putri pulang dengan selamat dan membuat Pangeran tenang, terpaksa Putri harus sedikit bersabar.”
“Aku janji tidak akan lari.”
“Seberapa besar janji Putri bisa dipercaya?”
“Sudahlah, mau aku bujuk dengan cara apa pun tetap tidak berhasil. Memang kalau aku tidak dikerasi, kau dan Gong Mo Han tidak akan puas. Ikat saja!” Yan Li bersikap seperti pejuang yang siap dihukum, meski di dalam kepalanya tetap mencari cara untuk kabur. Ia tahu, Gong Mo Han pasti sudah tahu ia semalaman tidak pulang. Kalau sekarang ia kembali ke kediaman, yang menantinya pasti badai besar.
“Aku peringatkan padamu, Yin, lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan. Berani coba-coba sentuh aku, awas saja.”
“Saya tentu tidak berani.”
Yin dengan cepat menotok titik nadi Yan Li, lalu menyuruh orang-orangnya mengikat Yan Li. Yan Li menunggu dan ingin tahu trik apa lagi yang akan digunakan Yin untuk membawanya ke kereta kuda. Namun hanya dalam sekejap, ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya disiram air dingin.
Seorang wanita berbaju hitam keluar dari barisan, tanpa ragu mengangkat Yan Li dan membawanya ke kereta kuda dengan sangat mudah.