Bab Lima: Gedung Pesona Anggur
Meskipun ia sangat penasaran dengan hiruk-pikuk jalanan yang ramai, namun ia berlari secepat mungkin mencari rumah makan. Yan Li memang benar-benar kelaparan, sejak masih di kediaman pangeran perutnya sudah keroncongan, hanya saja ia punya satu kebiasaan buruk, yaitu sangat pemilih soal makanan; jika bukan makanan lezat, ia tak akan mau menyentuhnya.
"Nona, kalau memang kau begitu lapar, bukankah di sana ada sebuah rumah makan?" tanya Xiao Ruo sambil tersenyum geli.
"Itu tidak bisa, harus, harus ke rumah makan terbaik. Dan lagi, Xiao Ruo, nanti panggil aku nona saja, sebutan yang tadi membuatku sangat tidak nyaman."
Sembari berpesan kepada Xiao Ruo, Yan Li terus melaju ke depan, saat itu ia berharap bisa terbang agar lebih cepat sampai. Berlari dari timur ke barat kota bukan perkara mudah, ketika akhirnya tiba di "Gedung Zui Xin", rumah makan terbesar dan paling terkenal di Kota Luo, Yan Li sudah kelelahan hingga tergeletak di kursi, terengah-engah. Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan penasaran, sinis, bahkan bisik-bisik orang-orang di dalam rumah makan yang bertanya-tanya anak gadis siapa yang begitu tak memperhatikan penampilan. Xiao Ruo yang sudah sangat cemas, akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyeret Yan Li ke ruang pribadi di lantai atas.
"Xiao Ruo, kau benar-benar menyiksa majikanmu," ujar Yan Li dengan kaki gemetar, menatap pilu ke arah kursi yang tak jauh dari sana, ingin rasanya duduk dan tak bangun lagi.
"Nona, bersabarlah sebentar saja, di atas nanti kau mau berbaring pun aku tak keberatan."
Melihat pelayan masuk dengan wajah penuh senyum, Yan Li seakan menemukan penyelamat dan langsung melompat dari kursinya tanpa mempedulikan ocehan Xiao Ruo, lalu menggenggam lengan si pelayan sambil berkata, "Cepat! Bawakan semua makanan paling enak di tempat kalian, aku hampir mati kelaparan!"
Pelayan yang mendengar Yan Li meminta makanan terbaik jelas sangat senang, ia segera mengiyakan dan bergegas turun.
"Silakan, Nona, ini semua hidangan khas kami, dijamin memuaskan," kata pelayan dengan penuh percaya diri, menepuk dadanya dengan bangga.
Yan Li memandang satu per satu hidangan dengan warna yang menggoda dan aroma yang harum, ia terus mengangguk puas, tersenyum bahagia. Sikap antusias Yan Li sudah biasa bagi pelayan itu; tak ada tamu yang pernah pulang kecewa dari Gedung Zui Xin. Konon, papan nama rumah makan ini saja adalah anugerah dari Kaisar, bahkan sang Kaisar yang sudah mencicipi seluruh hidangan di negeri ini pun memuji Gedung Zui Xin, apalagi rakyat biasa.
"Dua nona, silakan nikmati pelan-pelan, saya akan melayani tamu lain," ujar pelayan itu.
Yan Li tak menghiraukan pelayan itu, segera mengambil sumpit, teringat bahwa daging ikan yang lembut mudah dicerna dan baik untuk mengencangkan kulit serta menghilangkan jerawat, ia langsung mengambil sepotong ikan dan memasukkannya ke mulut. Melihat Yan Li mengerutkan kening lalu memuntahkan ikan itu, Xiao Ruo pun penasaran dan ikut mencoba sepotong.
"Hmm...enak sekali, pantas saja Gedung Zui Xin terkenal. Nona, kau tidak suka makanannya?"
"Meski kelembutan ikannya tetap terasa, bau amisnya sama sekali tidak hilang," jawab Yan Li sambil menggeleng dan mencoba lauk lain, namun tetap saja semua ia muntahkan. Xiao Ruo mencicipi semuanya, namun menurutnya semua sangat lezat. Seorang terus mengangguk, yang lain terus menggeleng, satu ingin menelan lidahnya sendiri, satu justru memuntahkan semuanya, kontras yang begitu jelas.
"Aduh..." Yan Li menghela napas panjang, meletakkan sumpit di meja, menopang dagu dengan tangan, menatap makanan-makanan itu dengan putus asa.
"Lalu bagaimana ini, sampai masakan Gedung Zui Xin pun tak cocok di lidah nona?"
Yan Li tidak menjawab, tetap menatap hidangan di depannya dengan wajah penuh keluh kesah.
"Meski rasanya kurang memuaskan, tetap saja seratus kali lebih baik dari makanan di kediaman pangeran. Nona, makanlah sedikit, kalau tidak tubuhmu tak akan kuat."
"Xiao Ruo, sepertinya nasib nona kalian memang untuk mati kelaparan." Meski Yan Li sangat pilih-pilih dan paham betul soal makanan, kelemahan terbesarnya adalah hanya pintar bicara, sama sekali tidak bisa memasak.
"Suruh pelayan bawa pergi semuanya," ujar Yan Li dengan kesal, karena makanan-makanan lezat itu hanya bisa dilihat, tak bisa dimakan, bahkan aromanya saja merupakan siksaan bagi orang yang kelaparan.
"Kalian belum habis makan, sudah mau pesan lagi?" tanya pelayan dengan senyum lebar.
"Teligamu yang mana yang dengar kami mau pesan lagi?" ucapan Yan Li langsung membekukan senyum si pelayan. "Kalau begitu, dua nona ini maksudnya apa?"
"Kau yakin ini yang terbaik dari tempat kalian?"
"Tentu saja." Yan Li berharap pelayan tadi hanya bercanda, namun ternyata pelayan itu tetap menjawab tegas, "Semua yang kalian pesan hari ini dimasak langsung oleh pemilik Gedung Zui Xin sendiri, orang biasa belum tentu beruntung mendapatkannya."
"Pemilik kalian pasti tak lebih hebat dari juru masak yang kalian pekerjakan, kan?"
"Nona bercanda, di dunia ini kalau pemilik kami disebut nomor satu dalam memasak, tak ada yang berani mengaku nomor dua."
Melihat sikap pelayan yang begitu bangga, Yan Li merasa sudah tak punya harapan, ia pun melambaikan tangan lesu, "Bawa semua pergi saja."