Gadis dari keluarga terhormat yang lembut dan cerdas, berhadapan dengan pemuda bangsawan yang dingin bak bunga di puncak gunung. Xie Yixiao tiba-tiba terlahir kembali sebagai sepupu perempuan antagoni
Pada bulan ketiga ini, musim semi sedang berada di puncaknya, bunga-bunga bermekaran indah. Hanya tinggal beberapa hari lagi hingga pengumuman hasil ujian besar musim semi, dan anak-anak di setiap sudut kota kembali melantunkan lagu tiga tahunan tentang arak-arakan Sang Juara Ujian Negara.
Orang-orang di ibu kota sibuk menebak siapa di antara para pemuda yang akan menjadi juara kali ini.
Para gadis diam-diam membicarakan, membandingkan siapa di antara para pemuda yang memiliki kepandaian dan bakat layak menjadi juara utama atau peringkat ketiga teratas. Karenanya, belakangan ini para gadis begitu rajin keluar rumah, entah ke rumah teh atau ke kedai arak, hanya demi melihat langsung keanggunan dan kepandaian para pemuda itu.
Ada yang benar-benar berharap bisa mendapatkan jodoh, ada pula yang sekadar ingin ikut meramaikan suasana.
Para gadis di Keluarga Adipati Changning pun tak terkecuali. Kecuali Xie Yixiao yang sedang sakit, semua gadis lain sejak pagi sudah berdandan dan pergi keluar.
Menjelang tengah hari, hujan gerimis jatuh di luar jendela.
Xie Yixiao duduk di dipan kayu dekat jendela, wajahnya pucat, bersandar miring di atas bantal lembut, memandang dunia asing yang tersapu hujan.
Dari balik tirai hujan yang jauh, samar-samar terdengar suara nyanyian anak-anak dari entah jalan mana:
“Bersua sahabat lama di tempat lama,
Akan menikahi dara di loteng bersulam.
Siapakah pemuda paling memesona?
Di ibu kota, menara sang Raja.
Bergegas menunggang kuda melintasi jalan,
Ingin membawa semilir angin membeli arak..