Bab 147: Iri Sekali
Mengenai penilaian Wang Zhimin, Wu Xinhai menyatakan setuju. “Murid Ming itu kelihatannya agak polos dan lugu! Orang seperti itu mudah dirugikan di tengah masyarakat.”
“Selama tiga tahun ini, kita harus mengajarinya cara tumbuh dewasa! Beban di pundak kita sungguh berat!” ujar Wang Zhimin dengan tangan di belakang punggung dan wajah serius.
Di sisi lain, Ming Han dan kakak kelas itu sudah mulai berduel satu lawan satu!
Ming Han lebih dulu memasukkan satu tembakan hukuman dan memperoleh hak menyerang pertama.
Sang kakak kelas tampak cukup menghargainya. “Postur menembakmu sangat mantap dan indah, Dik!”
Ming Han menggiring bola menyilang. Sang kakak kelas mengawasinya dengan ketat, berusaha menutup setiap arah terobosan Ming Han.
Ming Han tiba-tiba melangkah maju, mengecoh titik berat tubuh lawannya. Setelah itu, ia menarik bola kembali, lalu mengubah arah lewat belakang tubuh dan berhasil melepaskan diri. Ia menerobos ke bawah ring dan memasukkan bola dengan layup.
Sang kakak kelas menggelengkan kepala. Adik kelas ini benar-benar melewatinya tanpa cela!
Wang Zhimin semula hendak melontarkan komentar, “Gaya bermain Ming Han agak terlalu mencolok! Permainan yang hanya tampak indah tetapi tidak efektif seperti ini jelas tidak boleh kita anjurkan.”
Namun, setelah melihat rangkaian gerakan Ming Han yang begitu indah, nyaris seperti seni pertunjukan, Wang Zhimin langsung ternganga.
“Anak ini ternyata jagoan tersembunyi?”
Wu Xinhai juga agak terkejut. “Ini tidak cocok sama sekali dengan gambaran anak bodoh yang selama ini ada dalam bayangan kita!”
“Wajahnya setampan itu, permainan bolanya juga segarang itu. Sepertinya dia bakal menjadi saingan beratku dalam mengejar perempuan,” gumam Wang Zhimin.
Setelah bermain beberapa ronde, kemampuan mereka hampir berimbang.
“Dengan tinggi badanmu, seharusnya kamu bermain sebagai pemain tengah, bukan?”
Ming Han mengangguk. “Pernah.”
Sang kakak kelas terkejut. “Jangan-jangan kamu pemain serbabisa?”
Pemain serbabisa adalah pemain yang dapat menempati beberapa posisi. Misalnya, Jordan dan Kobe dapat bermain sebagai penyerang maupun penjaga, sedangkan James bisa bermain di posisi satu maupun tiga.
“Menyebutnya pemain serbabisa terdengar terlalu hebat. Lebih tepatnya, aku hanya sedikit memahami setiap posisi,” jawab Ming Han rendah hati.
Sombong tanpa terlihat sombong justru paling mematikan!
Sang kakak kelas merasakan pukulan telak.
Pada akhirnya, skor mereka menjadi lima sama.
Ming Han memegang bola. Ia melakukan satu langkah tipuan, lalu langsung melepaskan tembakan tiga angka dari garis luar, menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa.
Wang Zhimin menggelengkan kepala. “Masih muda! Terlalu ingin menang sampai-sampai memberikan kesempatan kepada lawan.”
Begitu Wang Zhimin selesai berbicara, bola yang dilempar Ming Han langsung masuk ke dalam keranjang.
Kenyataan sekali lagi menampar Wang Zhimin dengan keras.
Ming Han menang!
Sang kakak kelas menerima kekalahan itu dengan lapang dada. “Teknikmu hebat, Dik. Dulu kamu anggota tim sekolah?”
Ming Han mengangguk. “Aku hanya pemain kecil di dalam tim sekolah. Dalam perjalanan menjadi pemain basket, aku masih seperti anak sekolah dasar.”
Kakak kelas itu menyukai sikap rendah hati murid baru tersebut. “Aku Liu Hong dari kelas sebelas satu. Kalau ada masalah, cari aku saja. Aku bisa membereskannya untukmu.”
Setelah berkata demikian, ia pun pergi.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik. “Ternyata dia Kak Liu Hong yang terkenal di kelas sebelas. Katanya, dia punya pengaruh besar di sekolah!”
“Anak itu benar-benar beruntung!”
Sebenarnya, Ming Han sangat tidak menyukai perasaan semacam ini—aku melindungimu, kau melindungiku. Rasanya seperti sedang terlibat dalam dunia gangster. Ia datang ke SMA Pertama hanya untuk bersekolah dan mengikuti ujian masuk universitas. Tujuannya sederhana dan jelas.
…
Saat itu, Chen Li datang menghampiri.
Wajah dan auranya menarik perhatian banyak anak laki-laki.
“Cantik sekali. Aku mau meminta nomor akun QQ-nya.”
Seorang anak laki-laki yang cukup berani langsung meminta kontak Chen Li.
Chen Li menggeleng dan menolaknya begitu saja.
Benar-benar gadis cantik yang dingin!
Wang Zhimin sangat bersemangat. Ia menarik lengan baju Wu Xinhai. “Ini gadis yang baru kukenal tadi. Namanya Chen Li. Cantik, kan?”
Wu Xinhai menatap Chen Li tanpa berkedip. “Wah, Kak Wang, dia gadis tercantik yang pernah kulihat. Hebat sekali kau! Jangan-jangan dia datang mencarimu?”
Wang Zhimin sendiri tidak yakin. Namun, ketika melihat Chen Li berjalan ke arah mereka, jantungnya hampir melompat keluar dari dada.
Ia berinisiatif menyapa. “Halo, Chen Li. Ada urusan apa datang ke lapangan basket?”
Chen Li mengangguk ringan kepada Wang Zhimin dan tersenyum manis. “Aku datang mencari seseorang.”
Banyak anak laki-laki yang mendengar jawaban Chen Li menjadi penasaran. Siapakah sosok luar biasa yang hendak dicari gadis cantik ini?
Chen Li berjalan lurus menuju Ming Han. Dari dalam tas kecilnya, ia mengeluarkan termos berwarna merah muda.
“Ini untukmu.”
Ming Han menerimanya dengan sangat alami, lalu menenggak setengah botol sekaligus.
“Waduh, kau memasukkan goji beri ke dalamnya? Rasanya aneh sekali.”
Semua anak laki-laki di tempat itu ingin sekali menghajar Ming Han sampai babak belur. Berani-beraninya dia mengeluhkan air pemberian gadis cantik! Bagaimana bisa ada orang yang begitu tidak peka di dunia ini?
Mereka ingin sekali berkata, “Aku paling suka makan goji beri. Nona, tolong beri aku setengah kilogram!”
Melihat kedekatan kedua orang itu, Wang Zhimin baru menyadari bahwa sejak awal Ming Han tidak berbohong kepadanya. Mereka memang sudah saling mengenal, bahkan sangat akrab.
Walaupun Ming Han memang tampak sangat tampan, ketika berdiri bersama Chen Li, ia tetap memberikan kesan seperti sawi putih yang sudah dicabik-cabik babi.
Sawi putihku!
“Temani aku membeli perlengkapan asrama,” pinta Chen Li.
Ming Han memasang wajah enggan. “Chen Li, aku berharap kau menganggapku sebagai sahabat dekat, bukan tenaga kerja gratis.”
Bagi para anak laki-laki yang mendengar protes Ming Han, ucapan itu terdengar seperti pamer terang-terangan.
Seorang murid yang tidak tahu diri berinisiatif maju. “Kau Chen Li, bukan? Ming Han mungkin terlalu sibuk. Bagaimana kalau aku menemanimu membeli perlengkapan asrama?”
Chen Li menggeleng. “Tidak perlu…”
Wah, Nona Cantik, jangan begitu! Mengapa pilihan katamu saat berbicara dengan orang lain begitu singkat?
Ming Han secara alami mengambil tas punggung Chen Li dan menyampirkannya ke tubuhnya sendiri. “Ayo pergi! Kita makan dulu. Aku lapar.”
Wajah Chen Li memerah, tetapi ia sama sekali tidak menolak. Ia mengikuti Ming Han dengan patuh dari belakang, seperti seorang istri kecil.
Wu Xinhai menatap punggung Ming Han yang semakin menjauh dengan wajah iri. “Aku kira Kak Ming tidak cukup berani. Ternyata tanpa sadar dia sudah menaklukkan gadis terbaik!”
Wang Zhimin mengerucutkan bibir. “Itu hanya karena Ming Han beruntung dan lebih dulu mengenal Chen Li. Memangnya kau tidak merasa Kak Wang-mu ini tampak lebih berwawasan dan memesona daripada Ming Han?”
Wu Xinhai mengamatinya dengan saksama selama beberapa saat, lalu menggeleng. “Kak Ming jauh lebih tampan, tahu?”
…
Ming Han dan Chen Li memilih sebuah kedai mi di jalan belakang SMA Pertama.
Chen Li memesan mi telur tomat, sedangkan Ming Han memesan mi campur daging sapi dan telur.
Sambil makan, Ming Han berkata, “Chen Li, kau harus lebih banyak makan daging! Dengan begitu, kau bisa tumbuh tinggi dan gagah seperti aku!”
Tinggi dan gagah?
Chen Li mengerucutkan bibir. Kalau aku benar-benar tumbuh seperti itu, mungkin setiap hari kau hanya akan berkata kepadaku, “Saudara, mari berpelukan.”
Sambil menyantap mi, Chen Li memindahkan telur ke dalam mangkuk Ming Han.
“Sepertinya mulai sekarang aku harus makan bersamamu. Dengan begitu, kita bisa membayar satu porsi, tetapi makan lauk untuk dua orang. Ha-ha…”
Melihat Ming Han menghabiskan semangkuk besar mi sendirian, Chen Li menghentikan sumpitnya dan menatapnya dalam diam.
Ming Han memasukkan sepotong daging ke mulutnya dan berkata dengan suara agak tidak jelas, “Kenapa aku merasa kau sedang melihat anjing besarmu, Si Kuning, makan pakan?”
Si Kuning adalah anjing serigala besar milik keluarga Chen Li. Ming Han pernah bertemu dengannya sekali.
Saat Ming Han melihatnya, anjing itu sedang mengangkat satu kaki untuk buang air besar. Kepalanya terangkat tinggi, seolah-olah buang air besar merupakan hal yang sangat membanggakan.
Chen Li tertawa. “Ming Han, kau jauh lebih menggemaskan daripada Si Kuning.”
Heh! Terima kasih, ya…