Jilid Satu Bab Sembilan Belas: Virus dari Jalan Buntu
Ia mencoba bertanya dengan hati-hati, “Bagaimana jika pada akhirnya tidak mendapatkan apapun?”
“Kau adalah kasus pertama yang kutemui, dari produk gagal menjadi normal, ditambah lagi dengan perilaku-perilaku yang sulit dipercaya. Aku yakin aku bisa menemukan sesuatu darimu, mustahil pulang dengan tangan hampa.”
“Aku sangat menghargai semangat ilmiahmu,” jawab Pisen menatap matanya lekat-lekat. “Tapi aku ini manusia, bukan bahan percobaan. Saat kau mengkritik kekuranganku dalam karakter, pernahkah kau berpikir bahwa apa yang kau lakukan ini juga tidak berperikemanusiaan?”
Ia tersenyum, “Klon manusia bukanlah manusia sejati dalam arti sebenarnya.”
“Hanya karena aku tidak lahir dari rahim seorang ibu, di matamu aku hanyalah produk dari jalur perakitan?”
“Maaf kalau aku terus terang, di zaman ini laki-laki selain untuk melanjutkan keturunan sudah tidak punya nilai lain. Kau bisa lihat sendiri, baik itu prajurit terhebat, ilmuwan, seniman, bahkan di bidang-bidang yang kurang penting, yang terbaik selalu perempuan. Laki-laki sejak lahir sudah menerima kenyataan ini, umat manusia takkan pernah kembali ke zaman patriarki.”
Pisen tersenyum tipis, “Begitukah?”
“Tahu tidak, inilah justru yang membuatku tertarik padamu.” Tatapan matanya yang indah mengamati Pisen dari atas ke bawah. “Dalam kehendak bebasmu muncul pemikiran kuno yang aneh, aku yakin pikiran-pikiran itu bukan hasil transfer pengetahuan. Aku bahkan curiga, jangan-jangan kau benar-benar dirasuki jiwa-jiwa tua.”
“Seperti hantu perempuan di dalam tubuh Sier?”
“Itu sama sekali berbeda. Aku bisa lihat, kau tidak akan pernah kehilangan kendali.”
“Tidak juga, saat aku marah aku juga bisa lepas kendali.”
Ia tertawa, “Tapi mengendalikanmu jauh lebih mudah daripada mengendalikan Sier.”
Pisen berkata, “Profesor Yousiang, menurutku, kau pasti mewakili mayoritas wanita di dunia ini. Mereka sudah meremehkan laki-laki hingga ke tulang, laki-laki jadi barang langka namun tak lagi penting, hanya untuk hiburan semata. Tentu saja, kalian sekarang punya kekuasaan itu. Aku hanya berharap kalian tidak melupakan, lebih dari tiga ratus tahun lalu, siapa yang menyelamatkan bumi.”
Ia menggeleng, “Jangan salah paham, aku tak pernah menafikan sumbangsih laki-laki bagi dunia. Sebagai ilmuwan, aku tahu persis mayoritas pencapaian sain di sejarah dibuat oleh laki-laki. Aku bicara panjang lebar hanya ingin tahu asal usul pemikiranmu. Buku apa yang sudah kau baca? Atau siapa yang menginspirasimu? Sampai kau bisa berbeda dari sebagian besar laki-laki lainnya?”
“Kau terlalu memikirkannya.” Pisen mengibaskan tangan, “Tak perlu inspirasi apapun. Ini hanyalah sifat dasar manusia, laki-laki atau perempuan sama saja, sama-sama mendambakan penghargaan, pengertian, penerimaan, dan kebebasan. Mungkin aku hanya sedikit lebih keras kepala dibanding yang lain. Toh, aku ini ‘produk gagal’.”
Ia menatap Pisen dengan penuh minat beberapa saat, lalu mengatakan hal yang membuatnya terperangah, “Jika Lingzi tak mau menerimamu sebagai suami, pertimbangkanlah datang padaku, aku bisa menjadi istrimu.”
“Kenapa?”
“Karena ucapan dan pemikiranmu sangat menginspirasiku. Banyak wanita yang tak seunik dirimu dalam bertindak. Jika aku bersamamu, aku yakin akan memperoleh sumber inspirasi yang tak pernah habis.”
Pisen melihat, tingkat ketertarikan wanita itu padanya melonjak dari -21 langsung ke 16, meski loyalitasnya tetap nol. Jelas ia masih menganggap dirinya sebagai bahan percobaan.
“Kedengarannya bagus, tapi sebaiknya tidak. Aku tak mau bersama orang yang tidak menyukaiku.”
“Maksudmu suka dalam arti… cinta?”
“Kurang lebih begitu.”
Ia tertawa, “Itu hanya reaksi fisiologis yang membuat wajah memerah dan jantung berdebar, tak bertahan lama dan mudah membuat orang hilang akal. Orang yang punya cita-cita besar tak butuh hal semacam itu.”
“Ini bukan soal butuh atau tidak butuh, tapi kalau ia datang, kau tak bisa menghindar.”
Ia tertawa makin keras, “Aku justru ingin mencoba berhadapan dengan perasaan aneh macam itu, sayangnya sampai sekarang belum pernah bertemu pria yang bisa membuatku jatuh hati.”
Pisen mengucapkan kalimat kunci untuk menaklukkannya, “Karena seperti yang kau bilang, klon-klon buatanmu itu belum bisa disebut sebagai laki-laki sejati.”
Alis wanita itu bergetar, “Kau juga klon.”
“Benar, dan bahkan produk gagal. Tapi kadang, justru kekurangan itulah yang menjadi ciri khas seseorang. Mencintai seseorang bukan karena kelebihannya, melainkan ciri khasnya.”
Tatapan Yousiang pada Pisen menjadi rumit, tingkat ketertarikan padanya menanjak pesat hingga menyentuh 45.
Ia bangkit berdiri, “Tetaplah berhubungan, aku akan mencarimu lagi.”
Setelah ia pergi dari ruang laboratorium, Pisen duduk di tempatnya, tersenyum penuh makna.
Dalam permainan, Yousiang dan dokter Younai adalah para Valkyrie yang relatif mudah didekati, tak disangka di dunia nyata bahkan lebih mudah. Jika mengikuti aturan permainan, setidaknya ia harus membantu mereka beberapa kali baru bisa mendapat tingkat ketertarikan setinggi ini.
“Siapa bilang jiwa lelaki tak lagi menarik.” Ia mengagumi bayangan dirinya di cermin, “Pisen, kau memang masih punya daya tarik. Hahaha!”
Namun belum sempat ia berbangga diri, tiba-tiba sebuah tong sampah jatuh menimpa kepalanya.
Terdengar suara Lucia, “Dasar Pisen, semua gara-gara ulahmu, ruang ujian jadi kacau balau, kami semua terpaksa ikut bersih-bersih. Cepat ke sini bantu bersihkan! Kalau tidak, hati-hati pantatmu dihajar!”
Aksi Sier memang membuat akademi rugi besar. Semua peralatan ruang ujian hancur, dinding berlubang besar, halaman kampus penuh puing, robot pembersih pun kewalahan, para Valkyrie terpaksa turun tangan sendiri.
Saat Pisen mengendarai mobil pembersih di halaman, banyak Valkyrie menuding-nuding ke arahnya.
“Itu kan pecundang yang bikin masalah? Kepala Akademi membiarkan peserta B mengikuti ujian A, akhirnya kacau begini.”
“Kenapa Kepala Akademi menuruti si pecundang itu?”
“Karena Sier terlalu istimewa, hanya mau mendengar ucapannya. Jadi Kepala Akademi terpaksa memberi kelonggaran.”
“Sayang sekali, Sier sehebat itu, malah menurut si pecundang.”
“Dia juga suaminya Lingzi si Taring Berbisa, lho.”
“Masa sih? Dia siapa sebenarnya?”
“Siapa lagi, produk gagal, tadinya cuma jadi objek observasi Profesor Yousiang, sekarang bikin keributan.”
“Huh! Bukan cuma pecundang, juga biang masalah…”
Pisen pura-pura tak mendengar, ia menyelesaikan tugas bersih-bersih dengan patuh lalu kembali ke bagian logistik.
Di depan pintu ia melihat Anlian berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya masam menatapnya.
“Beginikah caramu agar Sier cepat bergabung ke bagian logistik?”
Pisen menunduk, “Maaf, aku gagal.”
“Aku memang tak berharap banyak darimu. Tapi coba lihat…” Ia menunjuk gedung yang hancur, “Baru mulai kerja sudah memberi kejutan sebesar ini. Sekarang seluruh akademi membicarakan bagian logistik punya pecundang, sampai semua Valkyrie harus jadi tukang bersih-bersih. Bahkan ada yang bilang aku menampungmu karena terlalu lama tak mencium aroma laki-laki, sampai-sampai pecundang pun kuterima.”
“Bu, rumor hanya akan berhenti di telinga orang bijak.”
“Sudah kubilang, aku dan Lingzi berteman baik, aku tak ingin disangka merebut milik temanku. Kalaupun mau merebut, seharusnya yang lebih layak. Kenapa harus pecundang?”
Pisen memelas, “Jangan-jangan anda mau mengusir saya?”
“Sebenarnya aku ingin menendangmu keluar. Tapi setelah melihat bunga lili pemberianmu, aku jadi agak lunak.”
Pisen berseri-seri, “Terima kasih, Bu.”
“Jangan senang dulu. Aku tanya, soal Naga Baja itu benar atau tidak?”
“Mungkin… benar…” Ia ragu-ragu, “Aku hanya dengar cerita, belum pernah lihat sendiri.”
“Baiklah, aku memang tertarik dengan hal itu. Untuk saat ini kau tak perlu kerja, kuberi waktu tiga hari untuk mencari tahu dan buatkan laporan lengkap untukku.”
“Baik.”
Pisen menduga ia akan meminta Valkyrie lain membantu, dan tidak melibatkannya yang dianggap pecundang.
Tentu saja ia tak bisa membiarkan itu terjadi, bisa-bisa satu-satunya kesempatan mendapatkan serum nol point sirna.
“Ah, biar saja. Sekali ini, kalaupun mati, aku pasrah. Aku akan nekat.”
Malam itu ia tidur nyenyak, membawa perlengkapan lengkap, lalu meminta drone mengantarnya ke Kota Pusat, bersiap menyelesaikan tugas ini sendirian.
Kota Pusat berdampingan dengan distrik tempat ia menjalankan misi sebelumnya, namun jauh lebih berbahaya, penuh dengan makhluk asing dan robot luar angkasa yang tak terhitung jumlahnya.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa pasukan militer yang lokasinya begitu dekat tak membersihkan area itu?
Di sini harus disebutkan senjata mengerikan yang disebarkan alien di dunia manusia—bakteri regeneratif.
Sesuai namanya, bakteri ini begitu masuk ke organisme hidup akan berkembang biak dengan cepat, memenuhi seluruh tubuh, membuat makhluk hidup “hidup kembali” dan mengalami mutasi, padahal sebenarnya sudah mati, hanya bergerak karena rangsangan bakteri tanpa kesadaran.
Makhluk hidup yang dikuasai bakteri regeneratif hanya memiliki satu naluri dasar—lapar. Selain menolak sesama jenis, mereka akan menyerang semua yang berbeda. Alien bahkan bisa mengendalikan makhluk-makhluk ini dengan kekuatan pikirannya dalam jarak tertentu, menjadikan mereka pasukan sendiri.
Yang paling mematikan adalah, lingkungan bumi sangat cocok bagi bakteri regeneratif. Di sini mereka bahkan tak butuh organisme asli, bisa menyerap nutrisi dari tanah, udara, air, lalu menumbuhkan makhluk-makhluk baru yang jauh lebih kuat dibanding makhluk hasil mutasi alami bumi.
Karena itu, daerah yang pernah disebar bakteri regeneratif akan jadi bencana permanen. Sebanyak apapun militer membombardir, beberapa saat kemudian mereka akan muncul lagi, tak pernah habis dibasmi. Satu-satunya cara hanya dengan membangun garis perbatasan api yang panjang untuk mengisolasi wilayah tersebut.
Tempat-tempat itulah yang jadi titik utama penyusupan mata-mata alien, biasanya mereka menyusup di bawah perlindungan tembakan besar-besaran, membuat pertahanan manusia sulit dikendalikan.
Mata-mata alien kebanyakan adalah robot, dengan dua fungsi utama: mengumpulkan intelijen manusia, dan mempersenjatai makhluk-makhluk mutan kuat untuk mengganggu garis pertahanan manusia dari belakang, sangat merepotkan.
Namun itu bukanlah senjata utama alien. Yang paling mengerikan adalah senjata genetik yang membuat bayi laki-laki tak bisa bertahan hidup—virus mutlak generasi.
Awalnya karena pasukan manusia mayoritas laki-laki, alien salah informasi, mengira bumi hanya punya kaum pria, maka mereka menciptakan virus ini. Tak disangka, akibat tak terduga, sejumlah perempuan yang terinfeksi justru memperoleh kekuatan luar biasa, dan setelah kaum pria meredup, merekalah yang melanjutkan tugas melindungi bumi.
Munculnya “energi nol point” menjadi harapan manusia untuk mengalahkan virus mutlak generasi, karena dapat sebagian menetralkan virus dan menstabilkan energi dalam tubuh Valkyrie. Namun agar energi nol point sepenuhnya berhasil, dibutuhkan formula virus asal milik alien.
Tugas Pisen kali ini berkaitan dengan virus asal itu. Seratus tahun lebih lalu, sebuah tim riset yang dikawal pasukan khusus menembus zona perang antariksa, berhasil menangkap kapal kargo alien, dan tanpa sengaja menemukan strain virus asal di dalamnya. Para ilmuwan segera menciptakan serum nol point pertama.
Serum ini mampu menembus hambatan virus mutlak generasi terhadap energi nol point, memungkinkan laki-laki berkembang, serta membuat bayi laki-laki kebal total terhadap virus, menyelesaikan krisis populasi bumi—saat itu penduduk dunia tinggal enam ratus juta dan terus menyusut.
Sayangnya, dalam perjalanan pulang mereka disergap kapal musuh dan seluruh tim tewas. Di saat-saat terakhir, para ilmuwan mengunci formula baru energi nol point dalam kotak keamanan yang akhirnya jatuh di Kota Pusat.
Untungnya, alien tak pernah tahu bahwa di kapal itu sudah ada harapan umat manusia, sehingga tidak mengejar mati-matian, namun manusia sendiri juga tak tahu, sehingga kotak itu telah terbaring diam di reruntuhan Kota Pusat selama lebih dari seratus tahun.