Bab seratus dua puluh enam; Berjumpa kembali dengan kawan lama
Tentu saja, itu pun jika rubah iblis tersebut mengetahui tempat berkumpulnya ayam iblis!
Mengambil sehelai bulu ayam iblis, Wang Zhen menghampiri rubah iblis itu. Ia meletakkan bulu tersebut di depan sang rubah seraya bertanya, "Tahukah kau, bulu ini berasal dari jenis monster apa?"
Rubah iblis itu adalah makhluk yang cerdik. Meski tidak tahu mengapa ada manusia yang tinggal di tempat leluhur, ia bisa menebak bahwa hubungan manusia ini dengan sang leluhur pastilah luar biasa.
Maka, setelah mendengar pertanyaan Wang Zhen, rubah itu mengendus sejenak dan menjawab dengan yakin, "Ini adalah bulu ayam iblis warna-warni."
"Hm, namanya memang sesuai dengan wujudnya. Karena kau tahu namanya, apakah kau juga tahu di mana tempat berkumpulnya ayam iblis warna-warni tersebut?" Wang Zhen menatap rubah itu dan terus bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, bola mata rubah tersebut berputar. Walaupun tidak mengerti maksudnya, ia tetap menjawab dengan jujur, "Tahu. Kaum ayam iblis warna-warni adalah musuh bebuyutan kaum kami, jadi aku tahu persis di mana tempat mereka berkumpul."
"Benarkah?" tanya Wang Zhen dengan nada terkejut.
Awalnya ia hanya bertanya sekadar mencoba-coba, tidak disangka rubah itu benar-benar tahu lokasinya. Ini adalah kejutan yang menyenangkan!
"Baiklah, ikutlah denganku masuk. Setelah kami selesai makan, kau tunjukkan jalan menuju tempat berkumpulnya ayam iblis warna-warni itu, bagaimana?" ujar Wang Zhen setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan.
Rubah itu sempat hendak menolak, namun saat menoleh dan melihat wajah tanpa ekspresi milik si babi iblis Baichi, ia segera menelan kembali kata-katanya karena takut. Ia pun mengangguk patuh sebagai tanda setuju.
Melihat rubah itu sepakat, Wang Zhen membawanya masuk ke dalam pekarangan. Si babi iblis Baichi pun segera mengikuti dari belakang. Begitu memasuki halaman, aroma harum jamur roh rebus ayam iblis langsung menyerbu hidung. Rubah itu menciumnya dan merasa seolah sedang berada di surga. Si babi iblis Baichi yang melihat itu terkekeh dalam hati; ia yakin sekarang, meski disuruh pergi pun, rubah itu pasti tidak akan mau.
"Keponakan sudah kembali? Bagaimana? Apakah urusannya sudah beres?"
Saat masuk ke halaman, tampak Li Canghe dan Lin Fei sedang bersantai menikmati teh. Mereka sama sekali tidak terlihat terburu-buru, meski hidung mereka yang sesekali mengendus aroma masakan sebenarnya telah mengkhianati ketidaksabaran mereka.
"Sudah, semuanya sudah beres. Mari kita makan!" Wang Zhen tahu mereka sudah menunggu dengan tidak sabar, jadi ia langsung mengumumkan saatnya makan.
Saat ia membuka panci pusaka, jamur hitam dan daging ayam putih di dalamnya tampak seperti sebuah lukisan tinta yang sederhana. Wang Zhen meminta Li Xue menyajikan acar jamur kuping roh yang telah disiapkan, sementara ia sendiri mulai menyendok sup jamur roh ayam iblis ke dalam mangkuk bambu.
Setelah menyajikan lima mangkuk untuk empat orang dan satu babi, Wang Zhen melihat rubah iblis yang menatapnya dengan memelas di sudut halaman.
Setelah berpikir sejenak, Wang Zhen menyendok satu mangkuk lagi. Untuk bagian babi iblis Baichi, mangkuk yang digunakan lebih menyerupai baskom, sengaja diberikan Wang Zhen sebagai bentuk terima kasih. Li Canghe dan yang lainnya tidak keberatan sama sekali, karena mereka sedang sibuk berebut acar jamur kuping roh hingga tidak sempat memedulikan porsi si babi iblis.
Sama seperti Li Xue, begitu mencicipi acar jamur kuping roh, cita rasa uniknya langsung memikat hati Li Canghe dan Lin Fei. Demi bisa makan lebih banyak, sumpit mereka bergerak secepat kilat.
"Senior, ini untukmu!" Wang Zhen menyerahkan baskom berisi sup jamur roh ayam iblis kepada babi iblis Baichi.
"Hm, kau anak yang tahu diri," puji babi iblis itu dengan gembira. Begitu baskom diletakkan, ia langsung menyantapnya dengan tak sabar. "Enak, enak! Benar-benar sangat enak!" serunya sambil makan. Hal itu membuat rubah iblis di sampingnya meneteskan air liur hingga membasahi tanah.
"Ini, untukmu!"
Rubah itu sedang terpaku menatap baskom si babi iblis hingga tidak menyadari Wang Zhen telah datang membawakan semangkuk sup untuknya. Saat mendengar bahwa mangkuk itu untuk dirinya, rubah itu tampak terpana. Namun, sedetik kemudian, ia dengan hati-hati menerima mangkuk bambu tersebut dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Karena tidak tahu harus memanggil Wang Zhen apa, ia hanya terus mengucap terima kasih.
Wang Zhen tidak terlalu memedulikan hal itu. Ia hanya merasa telah membawa makhluk itu kemari dan nanti akan meminta bantuannya, jadi rasanya tidak enak jika tidak memberi imbalan. Ia tidak menyangka bahwa semangkuk sup ini mengandung energi roh yang setara dengan pil kelas menengah biasa. Bagi rubah itu, sup ini mungkin bisa menjadi jalan baginya untuk mencapai tahap perubahan wujud.
Bagi Wang Zhen, itu hanyalah sekadar imbalan, namun ia tidak sadar bahwa mangkuk kecil ini adalah titik balik kehidupan sang rubah.
Tanpa membuang waktu, setelah memberikan sup kepada kedua iblis tersebut, Wang Zhen membawa tiga mangkuk sisanya ke meja. Saat itu, acar jamur kuping roh di meja sudah hampir habis.
"Tok, tok, tok..."
Saat Wang Zhen baru saja duduk dan hendak mulai makan, pintu gerbang bata pekarangan tiba-tiba diketuk. Dari luar terdengar suara pria paruh baya.
"Permisi, dari perguruan mana rekan yang berkemah di sini? Saya Zhao Gen, ketua Perguruan Zhengyang. Dalam perjalanan, saya melihat cahaya di sini. Malam gelap dan banyak iblis, ditambah saya membawa beberapa murid, jadi sangat berbahaya. Bolehkah kami menumpang menginap semalam?" Suaranya serak dan berwibawa, memberi kesan baik meski orangnya belum terlihat.
"Perguruan Zhengyang! Sepertinya itu perguruan kelas tiga," ujar Lin Fei setelah berpikir.
"Ya, benar. Saya pernah bertemu Zhao Gen, orangnya sangat jujur. Meski tidak akrab, saya menghargai karakternya. Lagi pula, Perguruan Zhengyang adalah satu-satunya yang tidak ikut mengepung Perguruan Tianlei saat itu," sambung Li Canghe.
"Karena sudah kenal, biarkan mereka masuk. Menambah teman berarti menambah jalan," usul Lin Fei.
"Baiklah! Keponakan, bukakan pintu untuk tamu," ujar Li Canghe. Ia meletakkan mangkuknya dan berdiri, diikuti oleh Lin Fei dan Li Xue. Wang Zhen pun ikut berdiri. Saat sampai di depan pintu, ia menggerakkan pikiran dan gerbang pun terbuka.
"Kau?"
Saat pintu terbuka, Wang Zhen dan seorang gadis berbaju putih yang berdiri di samping pria paruh baya itu berseru bersamaan.