Bab Seratus Lima Puluh: Membunuh Ding Fan

Baju zirah pedang Dikelilingi Oleh Panda 2592kata 2026-04-01 05:27:11

Saat Panah Deru Bulan menembus tubuhnya, Ye Han seketika merasakan gelombang kekuatan hukum yang begitu sejuk bagaikan cahaya rembulan mengalir deras tanpa henti, membersihkan serta membantunya menembus ranah kekuatan supranatural tingkat keempat, ranah Zhutong.

Di sekeliling tubuhnya, sambaran petir menyambar-nyambar, sementara alam-alam semesta berukuran miniatur tampak berkedip-kedip, silih berganti terbuka dan tertutup. Inilah fenomena alam yang tercipta saat seseorang menerobos masuk ke ranah Zhutong.

Para kultivator pada umumnya hanya membuka retakan spasial dari dimensi semesta lain ketika melakukan terobosan Zhutong. Namun, fenomena yang ditimbulkan oleh Ye Han sungguh sangat mencengangkan hingga berada di luar nalar. Di sekelilingnya, justru terbentuk hamparan alam semesta miniatur yang tak terhitung jumlahnya. Jika ada orang luar yang mengamatinya dengan indra kesadaran spiritual, mereka akan mendapati bahwa setiap semesta tersebut memiliki keunikan tersendiri—ada yang terlahir dan ada pula yang menemui ajalnya—seolah Ye Han tengah memicu siklus reinkarnasi dari ribuan semesta.

Fenomena mengerikan yang diciptakan Ye Han ini bahkan membuat Ding Fan merasa bahwa begitu pemuda itu berhasil naik tingkat, hanya dengan satu kibbasan telapak tangan saja ia sudah bisa meremukkannya hingga tewas.

"Istriku! Lupakan pusaka itu, kita harus membunuhnya bagaimanapun caranya!" seru Ding Fan sambil menggertakkan gigi.

Gao Xue juga menyadari situasi krisis di hadapan mereka. Tanpa ragu, ia langsung mengerahkan gelombang kekuatan hukum yang dahsyat dan melemparkan sebuah gelang pusaka berwarna perak ke arah Ye Han.

Teknik ini dinamakan "Pecahnya Giok Gelang Surgawi", sebuah jurus di mana sang pemilik rela mengorbankan gelang pusaka tersebut dengan menghancurkan dan meledakannya demi membinasakan musuh.

Gelang-gelang surgawi ini tidak hanya memiliki wilayah kekuasaan mandiri, tetapi juga merupakan hasil akumulasi dan lipatan dari berbagai dimensi ruang. Begitu meledak, ledakan tersebut bukan sekadar memancarkan kekuatan area aslinya, melainkan juga memicu efek keruntuhan spasial.

Jurus ini merupakan kartu truf penyelamat nyawa bagi pasutri Ding Fan. Sekali jurus ini dilepaskan, bahkan seorang kultivator di alam para suci tingkat empat ke atas pun akan langsung tewas seketika.

Ranah para suci sendiri terbagi menjadi tingkatan yang lebih rendah dan lebih tinggi. Para kultivator suci di bawah tingkat keempat umumnya hanya disebut sebagai Orang Suci, sementara mereka yang berada di tingkat keempat ke atas dijuluki sebagai Orang Suci Tataran Surgawi.

Perbedaan terbesar antara Orang Suci Tataran Surgawi dan orang suci biasa terletak pada kemampuannya. Orang suci biasa baru sebatas menyelaraskan diri dengan energi keabadian, sedangkan Orang Suci Tataran Surgawi mampu memanfaatkan energi keabadian secara penuh untuk memusnahkan musuh. Ketika mereka berhasil mengubah energi keabadian itu sepenuhnya menjadi kultivasi pribadi, mereka akan naik ke ranah Raja Bintang, bertransformasi menjadi eksistensi yang melampaui batas daratan dan melayang bebas di alam semesta.

"Meledaklah!"

Begitu gelang perak itu melesat mendekati tubuh Ye Han, Gao Xue membentak dengan suara nyaring. Gelang perak itu mendadak meledak dahsyat, menyelimuti Ye Han dalam kepulan kabut perak yang pekat.

Kabut perak yang tebal itu membuat situasi di dalamnya tak terlihat sama sekali. Bahkan ketika diselidiki menggunakan indra kesadaran spiritual, tidak ditemukan pula tanda-tanda adanya manusia hidup yang bergerak di dalam kabut tersebut.

"Keparat cilik itu seharusnya sudah mati, kan?" ucap Ding Fan dengan nada ragu. Yang kini lebih ia khawatirkan justru keempat gadis kembar berparas jelita yang baru saja dimasukkan oleh Ye Han ke dalam wadah pusaka spasial. Jika mereka turut tersapu dan tewas secara keliru dalam ledakan tadi, ia pasti akan merasa sangat terpukul hingga ingin mati rasanya.

"Dengan ledakan sehebat itu, bahkan Orang Suci Tataran Surgawi pun pasti akan hancur berkeping-keping. Betapapun kuatnya pusaka spasial kepunyaan anak itu, keempat gadis kembar tersebut mustahil bisa selamat," ujar Gao Xue. Sebagai pasangan hidup yang telah mendampinginya selama puluhan tahun, ia sangat memahami isi kepala suaminya itu, sehingga ia sengaja melontarkan kalimat penenang tersebut.

"Sungguh menyia-nyiakan anugerah alam! Benar-benar menyia-nyiakan anugerah alam!" seru Ding Fan sambil menepuk-nepuk pahanya dengan penuh penyesalan.

Namun, tepat pada saat itu, seolah menanggapi ratapannya, sayup-sayup terdengar suara tangisan seorang wanita dari dalam kepulan kabut tebal.

Ding Fan memasang telinganya baik-baik. Yang tertangkap oleh pendengarannya adalah rintihan terputus-putus berbunyi, "Tuan... jangan mati..." Mungkinkah keempat gadis kembar itu belum mati? Seketika itu juga, Ding Fan merasa sangat gembira bukan main dan berniat masuk ke dalam kabut untuk memeriksa kebenarannya.

Gao Xue di sisi lain merasa diliputi kebingungan. Ia membatin dalam hati, mungkinkah pusaka spasial pemuda itu merupakan harta karun langka tiada tara, sehingga mampu melindungi gadis-gadis muda tersebut dari kematian? Ia pun memperingatkan suaminya, "Sebaiknya kau jangan masuk dulu, tunggu sampai kabut ini buyar."

Jurus "Pecahnya Giok Gelang Surgawi" memiliki daya rusak yang luar biasa serta fungsi yang beragam. Jurus ini tidak hanya bisa digunakan untuk mencederai musuh, tetapi juga sarana untuk melarikan diri. Sekalipun gagal membunuh musuh, kabut pekat yang ditimbulkannya mampu menghalangi pandangan mata serta kesadaran spiritual musuh, sehingga mengacaukan pengejaran mereka dan memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk kabur.

Kabut perak tersebut tergolong jenis kabut yang sangat awet dan hampir mustahil untuk disingkirkan begitu saja.

"Istriku, indra kesadaran spiritual bahkan tidak bisa mendeteksi keberadaan anak itu lagi, sudah jelas ia telah tewas sepenuhnya. Tempat ini adalah jalan raya utama. Kalau kita berlama-lama di sini dan terlihat oleh orang lain, situasinya akan menjadi tidak baik," bujuk Ding Fan. "Biar suamimu ini saja yang masuk ke sana untuk mengambil keempat gadis kembar itu. Oh ya, pusaka spasial anak itu begitu kokoh hingga tidak rusak dalam ledakan sehebat tadi, aku akan mengambilnya sekalian. Dengan tingkat kekuatannya, di dalam wadah spasialnya pasti tersimpan banyak benda berharga."

Gao Xue mengangguk dan berkata, "Pergilah, tapi berhati-hatilah."

Ia juga mempertimbangkan bahwa lokasi mereka berada di jalur utama yang kerap dilalui orang, di mana para kultivator bisa datang kapan saja. Sebagai pasangan suami istri yang memiliki kedudukan terhormat sebagai sesepuh di Akademi Changsheng, tentu akan membawa dampak buruk bagi reputasi mereka jika terlihat oleh orang lain.

Ding Fan menyelimuti tubuhnya dengan beberapa lapis mantra pertahanan, lalu dengan hati-hati menyelinap masuk ke dalam kabut pekat. Jarak pandang di dalam kabut itu sangat rendah; bahkan telapak tangan sendiri pun tak terlihat meski didekatkan ke depan mata. Saat ia membentangkan kesadaran spiritualnya, jangkauannya ternyata hanya mampu mendeteksi jarak kurang dari satu depa di hadapannya.

Kabut perak yang tadinya ia ciptakan untuk menghalangi musuh yang mengejar, kini justru berbalik mendatangkan kesulitan bagi dirinya sendiri. Kendati demikian, ia sama sekali tidak merasa cemas. Di dalam benaknya, Ye Han sudah dipastikan tewas sehingga tidak lagi mendatangkan ancaman apa pun. Sambil memasang telinga tajam-tajam dan mengikuti arah suara tangisan gadis-gadis kembar tersebut, ia meraba-raba jalannya menuju ke suatu arah.

Tiba-tiba, suara tangisan itu terhenti seketika.

"Celaka!"

Ketika Ding Fan merasakan ada kejanggalan, sebuah gelombang energi pedang mendadak meledak tepat di hadapannya, meluncur deras menerjang dengan ganas. Di bawah tekanan yang begitu luar biasa, Ding Fan bahkan nyaris tidak bisa bernapas akibat sesak.

Syuuut!

Teknik rangkaian tiga puluh tiga pedang milik Ye Han, yang dilancarkan dari jarak sangat dekat, meledak dalam serangan pembunuhan kilat.

Ding Fan tidak berani menahan serangan itu secara langsung. Sambil mengerahkan seluruh tenaga pada kedua belah tangannya, ia memancarkan seberkas energi keabadian untuk memperlambat laju serangan Ye Han. Di saat yang sama, ia melompat mundur dengan kecepatan penuh guna menyatukan kembali posisinya dengan Gao Xue.

Meskipun seberkas energi keabadian itu ukurannya sangat kecil, ia tetaplah energi yang berasal dari dimensi tinggi, yang kualitasnya jauh melampaui energi dari dimensi rendah. Bahkan dalam jumlah yang amat sedikit pun, energi itu sudah lebih dari cukup untuk menahan tebasan energi pedang Ye Han.

Para kultivator di bawah tingkat keempat ranah para suci, kendati mampu memanfaatkan energi keabadian, jumlahnya bahkan tidak mencukupi untuk keperluan kultivasi pribadi, apalagi jika harus digunakan untuk menyerang musuh. Hanya setelah melangkah ke tingkat keempat dan memasuki tataran surgawi barulah seseorang memiliki sumber daya energi keabadian yang relatif berlimpah untuk dimanfaatkan.

Berkas energi keabadian yang dilepaskan oleh Ding Fan itu terbukti sangat mujarab. Sesuai dugaan, rangkaian energi pedang Ye Han seketika tertahan oleh hambatan putih susu tersebut dan terhenti di tempat.

Tubuh Ding Fan terus melesat mundur demi bergabung kembali dengan istrinya. Ia sama sekali tidak berani bertarung secara terbuka melawan Ye Han, sebab guncangan batin yang ditimbulkan oleh kekuatan pemuda itu sebelumnya terlampau mendalam baginya.

Selepas serangan pedangnya tertahan oleh energi keabadian, Ye Han tidak langsung melanjutkan pengejaran. Hal itu membuat Ding Fan diam-diam merasa girang, menyangka bahwa pemuda tersebut merasa gentar oleh kekuatan keabadian. Sayangnya, ia tidak memiliki cadangan energi keabadian lagi; jika tidak, ia pasti sudah memilih untuk berbalik dan melancarkan serangan balasan.

"Berhenti! Berhentilah!"

Tepat saat Ding Fan hendak menerobos keluar dari kabut perak, tiba-tiba ia mendengar teriakan istrinya dari luar. Hatinya diliputi rasa heran dan bingung; ia tidak mengerti mengapa Gao Xue melarangnya berbuat demikian, padahal ia sudah berada sangat dekat untuk keluar dari kabut tebal dan bergabung dengannya.

"Mungkinkah istriku menyuruhku agar tidak kabur, melainkan berbalik kembali untuk bertarung mati-matian dengan anak itu? Aku tidak mau mengambil risiko sebesar itu."

Saat Ding Fan tengah membatin demikian, tiba-tiba ia merasakan sensasi dingin menyergap lehernya. Kepalanya seketika terpelanting lepas dari tubuhnya, sementara bagian leher yang terpotong tampak begitu rata dan licin, seolah-olah baru saja diiris oleh suatu benda yang sangat tajam.

Akibat momentum gerak yang begitu cepat, jasad tanpa kepala itu masih sempat melangkah maju sejauh beberapa langkah sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan suara bergedebuk keras. Di belakang mayat tersebut, pada ketinggian sekitar setinggi orang dewasa, tampak seutas garis putih tipis yang samar-samar melayang di udara.

Itulah penyebab kematian Ding Fan. Sesaat sebelumnya, ketika ia bergerak dalam kecepatan tinggi, lehernya tanpa sengaja menabrak seutas benang tipis tersebut hingga kepalanya terpenggal.

Benang tipis itu diciptakan oleh Ye Han dengan menerapkan metode manipulasi mikrokosmik dari Seni Yin Yang pada energi pedang lubang putih, hingga terajut menjadi sehelai benang pedang yang amat halus. Benang pedang itu bahkan masih mengandung efek daya isap dari energi pedang lubang hitam, sehingga sangat sulit dideteksi menggunakan kesadaran spiritual. Ditambah lagi dengan kondisi kabut tebal yang melumpuhkan panca indra, tidak heran jika Ding Fan akhirnya terjebak dalam perangkap maut tersebut.