Bab 65 Tuan Muda Rong, benar-benar... meninggalkan kehidupan biara dan kembali ke rumah?
"Nyonyah Agung, Tuan Muda Rong."
Nyonyah Agung Rong keluar dari aula bersama rombongannya. Mereka berjalan menuju serambi di samping aula utama untuk berbicara. Melihat wajah Xie Yixiao sudah jauh membaik, Nyonyah Agung Rong pun tampak senang. "Bagaimana perasaanmu dua hari terakhir ini?"
Xie Yixiao tersenyum, "Terima kasih atas perhatian Nyonya, aku sudah jauh lebih baik. Beberapa hari lagi juga akan turun gunung."
"Itu bagus, itu bagus." Nyonyah Agung Rong melirik putranya. Dilihatnya, dia tetap tenang, dingin dan tak banyak bicara, berdiri seperti pohon cemara yang kokoh, sama sekali tak berniat membuka suara.
Ia melotot padanya, tetapi sang putra seolah tak melihatnya.
Nyonyah Agung Rong menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan pembicaraan dengan Xie Yixiao, "Kami akan segera turun gunung. Tapi tabib perempuan Chen aku suruh tetap di sini, suruh dia mengepak barang-barangnya dan ke tempatmu, supaya bisa menjagamu beberapa hari ke depan."
Mendengar hal itu, Xie Yixiao segera berterima kasih, "Terima kasih atas perhatian Nyonya, aku pasti akan memperlakukan Nona Chen dengan baik."
Nyonyah Agung Rong melambaikan tangan, "Tak perlu dilayani, cukup sediakan kamar baginya, kalau lapar biar dia makan sendiri di ruang makan. Kalau ada keperluan apa pun, jangan ragu suruh dia."
"Kau, kalau sudah kembali ke Kota Kekaisaran, jangan lupa mampir ke rumah dan bercerita padaku. Aku menunggumu di rumah, tahu?"
"Tentu saja tak akan lupa." Nyonyah Agung Rong berbicara dengan hangat, mengobrol cukup lama. Melihat putranya, Rong Ci, tetap berdiri seperti patung kayu tanpa suara, ia jadi agak kesal dan tanpa sadar menginjak kakinya.
"Kau berdiri di sini saja, kenapa tidak bicara?"
Rong Ci mengangkat kepala menatap bukit di kejauhan, lalu berkata, "Ibu, sebaiknya kita turun gunung sekarang."
Nyonyah Agung Rong langsung terdiam, sudut bibirnya berkedut, tidak tahu harus berkata apa.
Xie Yixiao khawatir mereka akan bertengkar, jadi ia berkata, "Memang sudah waktunya turun gunung, kalau terlalu lama nanti terlambat."
Sampai di sini, Nyonyah Agung Rong tidak bisa memaksa lagi. Perjalanan turun gunung dan kembali ke kota juga memakan waktu, jadi tidak bisa menunda.
Ia pun berkata, "Kalau begitu kami duluan turun gunung. Nona Xie, jaga dirimu baik-baik."
"Baik, Nyonyah Agung, Tuan Muda Rong, semoga kalian selamat sampai tujuan. Aku tak akan mengantar lagi."
"Tak perlu diantar, kau juga sebaiknya istirahat lebih awal."
Setelah saling berpamitan, Nyonyah Agung Rong pun membawa Rong Ci pergi. Keduanya menuruni tangga aula utama, perlahan-lahan berjalan menjauh.
Xie Yixiao berdiri di bawah serambi aula utama, memperhatikan mereka melintasi alun-alun, lalu terus berjalan keluar. Sinar matahari pagi yang hangat dan cerah membuat bumi bersinar terang. Angin gunung berhembus, dedaunan pohon di tepi alun-alun berayun perlahan, bayangannya jatuh di tanah membentuk bintik-bintik cahaya.
Di dalam aula utama, para biksu ada yang berdiri, ada yang duduk bersila melantunkan mantra suci. Ada yang membakar dupa, asap tipis menguar saat mereka berdoa di depan patung Buddha. Ada yang memutar roda doa, mengambil batang ramalan, lalu bertanya pada biksu penafsir apakah hasilnya sesuai harapan.
Orang-orang hilir mudik di dalam aula, sementara angin gunung tetap bertiup di luar.
Saat menutup mata, waktu seolah berhenti, namun juga seakan berlalu ribuan tahun. Dalam perjalanan waktu, suka dan duka manusia, pada akhirnya, semua akan berlalu.
Xie Yixiao bersama dua pelayannya berdiri di bawah serambi, menyaksikan Nyonyah Agung dan putranya menyeberangi alun-alun, keluar dari gerbang utama. Di depan aula, para pengawal, pelayan, dan kuli sudah menunggu, siap turun gunung bersama mereka.
Tak lama kemudian, rombongan itu sudah melewati gerbang gunung, menuruni lereng.
Benarkah mereka sudah pergi?
Tuan Muda Rong, sungguh... sudah kembali ke dunia fana?
Xie Yixiao sempat tertegun cukup lama. Ketika sadar, ia merasa angin gunung sedikit dingin. Ia merapatkan lengannya, lalu berkata pada kedua pelayannya, "Karena kita sudah di sini, mari kita juga membakar dupa. Mingjing, kamu bawa uangnya?"
Mingjing mengangguk, "Sudah, Nona. Bukankah kemarin Nona bilang mau memberi uang persembahan di aula utama? Jadi waktu berangkat tadi, aku sudah siapkan. Ayo, kita ke sana."
"Berapa yang kamu bawa?"
"Tiga ratus tael uang kertas. Waktu datang hanya bawa segini, sisanya cuma beberapa keping perak kecil. Memang agak sedikit, tapi saat ini cuma ada segitu."
"Tiga ratus pun cukup."
Mereka bertiga pun berbalik masuk ke aula utama, menuju meja yang berlapis kain kuning untuk menerima tiga batang dupa dari biksu, lalu berdoa di depan Buddha.
Konon katanya, saat berdoa harus mengucapkan keinginan, dengan hati yang tulus maka akan terkabul.
Xie Yixiao berpikir sejenak. Harapannya sederhana: bisa hidup dengan selamat, keluarga Marquis Changning bisa melalui segala kesulitan, dan semuanya tetap selamat.
Setelah selesai berdoa, mereka pun memberikan uang persembahan, lalu kembali ke paviliun tempat tinggal mereka.
Hari itu cuacanya cerah. Mereka mengeluarkan kursi ke halaman untuk berjemur. Awan di langit bergerak perlahan, malas-malasan, membuat orang yang melihatnya ikut merasa malas.
"Hidup di gunung memang santai, tapi kalau terlalu lama juga membosankan," gumam Mingxin pelan. Ia memang suka keramaian, selalu mencari tempat ramai, sehingga tahu banyak kabar.
"Terlalu sunyi, cocok untuk beristirahat, tapi kalau menetap selamanya terasa sepi," sahut Mingjing.
"Benar sekali. Tidak semua orang setabah Tuan Muda Rong..." Ucapan Mingxin terpotong, ia tampak sadar telah keceplosan, lalu buru-buru menutup mulut.
Ia melirik Xie Yixiao dengan hati-hati, melihat majikannya bersandar di kursi, memegang kipas bulu putih untuk menutupi cahaya matahari di kepala, tampak santai memandangi awan di langit.
Melihat kedua pelayannya diam, Xie Yixiao pun bertanya, "Kenapa kalian berhenti bicara?"
"Cape bicara," jawab Mingxin sambil terkekeh, lalu bertanya, "Nona, haus tidak? Mau kubuatkan minuman?"
"Tidak, aku tidak haus."
Xie Yixiao merasa bosan. Sinar matahari menghangatkan tubuh, ia jadi mengantuk. Ia bangkit berdiri, "Aku mau tidur sebentar. Nanti kalau Nona Chen datang, salah satu dari kalian layani dia baik-baik, jangan sampai terabaikan."
"Baik."
Setelah itu, Xie Yixiao masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Chen Baishao datang sekitar tengah hari, membawa sekotak ramuan dan beberapa pakaian ganti. Mingxin dan Mingjing sudah menyiapkan kamar untuknya.
Beberapa hari berikutnya, ia tinggal di paviliun itu, setiap hari memeriksa denyut nadi Xie Yixiao. Di waktu senggang, ia sibuk mencampur ramuan atau membaca buku pengobatan, baik di kamar maupun di halaman.
Pada suatu kesempatan, Xie Yixiao sempat bertanya padanya, "Nona Chen, apakah Anda sudah menikah?"
"Belum," jawab Chen Baishao sambil menggeleng. "Sejak kecil aku terobsesi dengan ilmu pengobatan. Aku ingin jadi tabib militer, jadi kalau ada waktu senggang hanya belajar resep obat. Jika suatu saat perang berkecamuk, aku akan bergabung dengan pasukan keluarga Rong ke medan perang. Tak cocok bagiku untuk menikah dan punya anak."
Xie Yixiao merasa kagum, lalu bertanya, "Keluargamu setuju?"
Chen Baishao menjawab, "Sebenarnya tidak terlalu setuju, tapi jika negara membutuhkan, mereka pasti rela. Lagi pula Nyonyah Agung juga pernah memimpin pasukan ke medan perang, beliau jenderal perempuan yang sangat terkenal."
"Ayahku seorang tabib militer, ibuku juga pernah ikut Nyonyah Agung ke medan perang!"