Bab 62 Semoga Tuan Muda Rong Mewujudkan Keinginannya dan Mencapai Kesempurnaan
Wajah Xie Yixiao sedikit berkedut, langsung saja ia mengejar ingin memukul temannya, “Mingxin, berani-beraninya kamu mengejekku, lihat saja nanti kugeprek kamu!”
Mingxin menjerit dua kali, lalu lari terbirit-birit. Xie Yixiao tertawa dan mengejar, memungut segenggam bunga persik lalu melemparkannya ke arah Mingxin. Mingxin pun tak mau kalah, ia juga mengambil segenggam dan membalas melempar.
Keduanya saling bercanda di antara pepohonan persik, bunga-bunga berjatuhan dari dahan, ujung pakaian mereka melambai lembut seiring langkah kaki, terdengar denting lonceng perak yang seolah mengalun indah mengisi udara, bagai lagu yang tengah ditulis oleh musim semi.
Mingjing berdiri di samping membawa sebuah keranjang, memandang kedua sahabatnya itu sambil menggelengkan kepala dengan penuh kehangatan.
Melihat Mingjing berdiri di sana, Mingxin segera memanggil, “Mingjing, sini, ayo cepat ke sini!”
“Ya, ya, aku datang.” Mingjing menyerahkan keranjangnya pada pengawal di sebelahnya, lalu ikut berlari menghampiri. Tiga gadis itu pun bermain bersama di kebun persik.
Untunglah sebelum datang mereka sudah bertanya pada penjaga gerbang dan mengetahui bahwa hari itu tak ada pengunjung lain, sehingga mereka bisa bebas bermain tanpa khawatir.
Namun tak lama kemudian, Xie Yixiao mulai merasa lelah. Mereka bertiga pun memutuskan untuk naik ke atas bukit kecil, sementara para pengawal menunggu di bawah kebun persik.
Gunung yang dimaksud sebenarnya hanyalah sebuah lereng kecil di tengah kebun persik, tak terlalu tinggi, hanya butuh sekitar lima belas menit untuk mencapai puncaknya.
Di atas sana terdapat sebuah saung kayu sederhana berbentuk empat persegi, tempat para pengunjung duduk menikmati pemandangan. Di luar saung ada sebuah dek kayu, di sudut barat daya dek itu tumbuh sebatang pohon persik. Duduk di sana, seseorang bisa bersandar pada batang pohon sambil memandang keindahan sekitar.
Dari atas dek yang lebih tinggi, mereka bisa melihat seluruh kebun persik di bawah, lautan bunga berwarna-warni terhampar luas.
Ketika memandang ke kejauhan, tampak deretan pegunungan hijau yang juga sedang bermandikan sinar musim semi. Daun-daun tumbuh segar di antara kabut lembah, bunga-bunga bermekaran, dan di sela-sela tebing mengalir kabut putih tipis yang melayang-layang ke langit.
Menengadah ke atas, terbentang langit biru luas tak bertepi, awan-awan putih melintas perlahan, suasananya tenang dan damai.
Xie Yixiao bersandar pada pohon persik, memejamkan mata setengah, menikmati keindahan alam yang membentang. Ia mendengar dedaunan dan kelopak bunga persik beterbangan tertiup angin, suara burung-burung kecil melintas di sela pepohonan, desiran angin di lereng gunung, juga sayup-sayup suara gemericik air entah dari mana, samar namun menenangkan.
Pada saat itulah Rongci datang. Ia melihat gadis itu bersandar di bawah pohon persik di tepi dek kayu, mata terpejam setengah, senyum lembut dan damai terlukis di wajahnya.
Ketika rapuh, ia memang tampak begitu lemah, laksana kuntum melati mungil di dahan—kecil, rapuh, dan mengundang kasih sayang. Namun saat ia tersenyum seperti itu, wajahnya bersinar bagaikan cahaya musim semi, seolah seluruh bunga persik di dunia ini mekar hanya untuk dirinya.
Aku punya tiga bagian musim semi, mewarnai seluruh keindahan dunia.
Mingxin dan Mingjing berdiri di pintu masuk saung, tak ingin mengganggu. Melihat Rongci datang, mereka berdua sejenak terdiam, lalu maju memberi salam. Rongci membalas hormat dengan kedua tangan di depan dada.
Mingxin dan Mingjing agak canggung dengan sikapnya yang begitu formal. Namun mereka maklum, di mata Rongci yang sedang menekuni kehidupan di biara, mereka hanyalah tamu, tanpa membeda-bedakan status.
“Kedua nona, bolehkah aku berbicara sebentar dengan Nona Xie?”
Mingjing melirik pada Xie Yixiao, lalu mengangguk dan mundur, “Silakan, Tuan Rong.”
Rongci mengucapkan terima kasih, kemudian melangkah ke arah saung.
Saat ia menginjak dek kayu, Xie Yixiao mendengar suara langkahnya, membuka mata dan memandang dengan sedikit terkejut, “Tuan Rong? Kenapa Anda ada di sini?”
Sembari berkata, ia hendak berdiri untuk memberi salam.
Rongci berkata, “Tetaplah duduk.”
Xie Yixiao menuruti, tersenyum, “Kalau begitu, silakan duduk juga, nikmati angin dan pemandangan di sini. Sungguh, ini kenikmatan hidup yang besar.”
Ia mengenakan rok dan blus biru muda, di luarnya terbalut mantel tipis berwarna persik dengan sulaman bunga persik. Karena duduk di dek, mantelnya pun terhampar, beberapa kelopak bunga persik jatuh di atasnya.
Rongci duduk di samping, memandang kebun persik dan pegunungan di kejauhan. Senyumnya pun mengembang. Ia telah melihat pemandangan ini sejak kecil, tapi baru menyadari betapa indahnya semua ini.
Cahaya musim semi hangat, bumi dipenuhi bunga, kehidupan terasa segar dan penuh harapan.
Bahkan bila memejamkan mata, semuanya tetap terasa nyata, seolah pemandangan itu melekat di benak. Tak heran ia tadi melihat Xie Yixiao tersenyum demikian bahagia.
Ia pun berkata, “Nona Xie harusnya lebih sering tersenyum. Saat tersenyum seperti ini, seolah tak ada satu pun masalah di dunia.”
“Benarkah?” Xie Yixiao menatap gunung-gunung di kejauhan, “Kalau begitu, aku memang harus lebih banyak tersenyum. Hidup ini hanya beberapa puluh tahun, sebaiknya dijalani dengan bahagia.”
“Memang seharusnya begitu.”
Rongci lalu menyerahkan sebuah kotak, “Ini kukembalikan pada Nona Xie. Barang seberharga ini seharusnya tetap menjadi milik Anda.”
Xie Yixiao melihat sekilas. Ia mengenali kotak itu, meski hanya sempat melihat sekali sebelum memberikannya. Ginseng berusia tiga ratus tahun itu sudah sempat ia miliki namun akhirnya dilepas. Ada sedikit rasa sayang di hatinya.
Tentu saja, bukan berarti ia tak rela. Ginseng sehebat apapun hanyalah benda mati, tak sebanding dengan menyelamatkan nyawa seseorang.
Jadi meski merasa sayang, ia tak menyesal.
“Benda itu adalah tanda terima kasihku pada Tuan Rong, tak seharusnya diambil kembali. Lebih baik Tuan simpan saja.”
Rongci menjawab, “Sejak awal sudah kukatakan, aku menolongmu bukan untuk imbalan apa pun. Anggaplah aku berbuat kebajikan. Karena itu, aku tak boleh menerima hadiah darimu.”
“Lagipula, bukankah Nona juga sudah berjanji akan menambah sumbangan di altar? Dengan itu, semua sudah seimbang. Aku tidak bisa menerima hadiahmu.”
Xie Yixiao baru teringat pada janji itu. Kalau saja Rongci tak mengingatkan, sudah pasti ia lupa.
Jadi, kalau ini urusan kebajikan, memang tak pantas memberikan hadiah lagi.
Ia tersenyum, “Kalau begitu, aku terima kembali. Terima kasih, Tuan Rong. Besok aku akan pergi menambah sumbangan di aula utama.”
Rongci menyerahkan kotak itu padanya, lalu melepas seuntai tasbih kayu cendana dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di tangan Xie Yixiao, “Ini juga untukmu. Semoga benda ini bisa melindungimu sepanjang hidup, jauh dari penyakit dan bencana.”
“Anggap saja ini adalah doaku untukmu.”
Xie Yixiao tertegun, melihat wajah Rongci yang tetap tenang dan sungguh-sungguh. Setelah beberapa saat, ia tersenyum, “Kalau begitu, aku terima. Terima kasih, Tuan Rong. Semoga semua keinginanmu tercapai dan kebajikanmu sempurna.”
Rongci mengangguk, lalu berdiri, memberi hormat, mundur dua langkah, dan berbalik pergi.
Xie Yixiao menoleh, melihat langkah Rongci yang tenang, bahkan berjalan di antara kebun persik pun ia tetap tampak bersih dan damai.
Ia menunduk menatap tasbih di tangannya, lalu tersenyum.
Mingxin melihat Rongci hanya bicara sebentar lalu pergi, wajah yang semula ceria jadi agak tegang, tak tahan untuk bertanya,
“Nona, Tuan Rong sudah pergi begitu saja…”
“Ya.”
“Kenapa Nona tidak menahan beliau?”
Xie Yixiao menunduk memandangi kebun persik di bawah, lalu berkata, “Tuan Rong adalah orang yang sangat baik.”
Orang baik?
Mingxin tidak mengerti apa hubungannya dengan kebaikan. Ia justru berharap nona dan Tuan Rong bisa berjodoh.
“Kenapa begitu?”
Kenapa?
Karena, jika suatu hari kau bertemu seseorang yang sungguh baik, kau hanya bisa berharap ia meraih apa yang diinginkan, tercapai segala cita-citanya, dan hidupnya berakhir bahagia, bukan justru menghancurkan semua harapannya.
Walau akhirnya harus berpisah, walau seumur hidup tak akan bertemu lagi.
Bukan berarti ia tak pernah memikirkan Tuan Rong, hanya saja perasaan itu lenyap sekejap saja.
Ia memang seseorang yang tulus ingin mendalami jalan spiritual; tak perlu menariknya kembali ke dunia.
Ia lebih rela melihat Rongci meraih kebajikan yang sempurna...